Selasa, 10 Februari 2009

Industri Otomotif 2009 - Potensial, tapi Belum Maksimal

Sunday, 08 February 2009
MESKIPUN angka pertumbuhan ekspor komponen automotif di 2008 mengalami pertumbuhan sebesar 24% per tahun,pada 2009 ini diprediksikan akan terjadi koreksi negatif.

Berdasarkan Laporan Daya Saing Ekspor SENADA 2008,kinerja ekspor komponen automotif Indonesia dinilai sangat baik dan kuat mengingat pertumbuhannya yang cukup signifikan. Salah satu produk yang ekspornya meningkat tajam adalah gear boxes, pertumbuhannya 90% per tahun, yang diikuti oleh roda dan aksesorinya serta komponen motor.

”Laporan ini memberikan perspektif baru dalam daya saing manufaktur Indonesia dengan menggunakan data global untuk mengetahui dan membandingkan saham pasar dunia secara keseluruhan, dan dengan membatasi analisisnya hanya terhadapprodukproduk Indonesia yang aktif diekspor,” demikian yang diungkapkan Dionisius Nardjoko, konsultan SENADA,dalam pernyataan resminya.

Dionisius menjelaskan, sektor industri komponen automotif merupakan bintang utama dalam kinerja pertumbuhannya, yakni dengan pangsa pasar global melonjak dua kali lipat dalam kurun waktu 2002–2007. Meskipun laporan ini mencatat bahwa Indonesia mengambil keuntungan dari peluang-peluang ekspor global.

Sayangnya,ada indikasi bahwa Indonesia belum mengembangkan usaha ekspornya semaksimal mungkin ke tingkat permintaan internasional. ”Ekspor komponen automotiftelah berkembang pesat sebesar 20% per tahun selama kurun waktu kajian ini, terutama untuk ekspor roda gigi kendaraan,roda ban,dan aksesori, juga suku cadang umum sepeda motor.

Harga unit komponen automotif juga meningkat drastis dalam waktu tersebut, menunjukkan lebih jauh akan meningkatnya daya saing di sektor ini,”paparnya. Kemudian, indeks harga ekspor produk Indonesia per unitnya mengalami peningkatan, bahkan dibanding produk dari China.

Menurut Dionisius, kenaikan harga per unit itu merupakan bukti meningkatnya kualitas dan spesialisasi produk ekspor Indonesia. Pangsa pasar ekspor komponen automotif Indonesia selama periode 2000–2007 pun mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 0,2% menjadi 0,5%.

Bahkan kinerja ekspor produk komponen automotif Indonesia layak mendapatkan nilai A.Seharusnya Indonesia mulai memfokuskan ekspor ke pasar-pasar yang masih dinamis pertumbuhannya untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi global saat ini.

Hal senada diungkapkan Senior Industry Advisor SENADA Januar Rustandie. Menurutdia, pertumbuhan industri komponen automotif di 2009 ini akan mengalami perubahan negatif.Memang pada 2007 ekspor completely-builtup (CBU),completely-knockeddown (CKD), dan komponen automotif mencapai nilai USD2,1 miliar.

Begitu juga di 2008, mengalami kenaikan 40% dan mencapai USD2,9 miliar.

Namun, pihaknya memprediksikanakanterjadipenurunan kurang lebih 15% untuk kinerja ekspor komponen automotif pada 2009 ini. ”Pada 2009,saya memprediksi bila kita dapat mempertahankan angka ekspor komponen di angka yang sama seperti tahun 2008,prestasi tersebut sangat bagus,” ujarnya kepada SINDO.

Dengan kondisi ini, untuk menjaga angka penurunan tidak anjlok,Indonesia harus membuat strategi tepat dan pembukaan pasar ekspor tujuan yang baru.Adapun komponen automotif sangat dipengaruhi oleh spesifikasi produknya, seperti komponen yang dilakukan secara padat karya biasanya diproduksi di negara ketiga.

Jadi bagi setiap negara yang dapat memberikan jaminan kualitas yang baik, pengiriman tepat waktu dan harga yang kompetitif akan menjadi pemain global. ”Untuk stamping partyang produksinya mengejar volume biasanya di negara maju dengan sistem robotik, demikian pula untuk teknologi tinggi.

Komponen partsaat ini sudah cenderung menjadi multi sourcingdengan mengerahkan global sourcing parts,” ungkap Januar. Pemerintah Indonesia sudah memberlakukan kebijakan di bidang ekspor automotif dengan penerapan HS tarif. Menurut Januar, di Indonesia masih banyak pelaku industri lokal yang sudah go international, seperti produsen Battery, Kaca,Alloy Casting, dan lainnya.

Kendati demikian, prediksi ekspor komponen automotif Indonesia di 2009 akan tetap mengalami penurunan seiring dengan kondisi di global yang mengalami penurunan permintaan. Sementara untuk kondisi pasar automotif di dalam negeri, Januar menilai industri ini cukup diuntungkan dengan dukungan dari sektor industri lainnya.

Di antaranya dukungan dari perusahaan jasa keuangan karena maraknya pembelian dengan cara kredit. Kehati-hatian pihak perbankan atau jasa keuangan Indonesia mencermati angka non performing loan (NPL) membuat mereka sangat amat selektif dalam pemberian kredit dan enggan menurunkan tingkat suku bunga kredit.

Efeknya adalah beratnya cicilan yang harus dibayar oleh pihak konsumen sehingga menekan angka penjualan automotif di 2009 ini. Jika industri padat karya ini mengirimkan hasil produknya ke agen tunggal pemegang merek (ATPM), kata Januar, dampak pengurangan pekerja dapat terjadi.

Namun, bila industri komponen automotif menjual produknya untuk kebutuhan pasar suku cadang (after market replacement part), maka dia optimistis dampak pengurangan hubungan kerja tersebut lebih kecil.

”Saya pribadi tidak yakin bahwa kondisi semester II 2009 akan membaik karena saat sekarang banyak produsen yang sedang mengerjakan pesanan yang berasal dari 3–4 bulan sebelumnya. Justru di pertengahan tahun 2009, saya prediksi krisis ekonomi akan lebih terasa,” tandas Januar. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/211897/

1 komentar:

open for discuss, please feel free to comment