Saturday, 07 February 2009
Menjadi perusahaan kelas dunia ternyata tidak mudah bagi Pertamina. Banyak yang harus dibenahi perusahaan pelat merah itu. Ambisi menjadi perusahaan kelas dunia sudah lama disuarakan Pertamina.
Setidaknya, keinginan itu sudah dilontarkan sejak Ari H Soemarno menjabat sebagai direktur utama (dirut).Alasannya jelas, sejak status Pertamina diubah menjadi perusahaan perseroan pada 9 Oktober 2003, seharusnya Pertamina sudah memiliki banyak ruang untuk menjadi terdepan, bahkan melebihi perusahaan minyak dunia seperti Petronas Malaysia. Namun Petronas yang pada 1970-an ”berguru”kepada Pertamina kini perkembangannya jauh melesat melebihi Pertamina.
”Dulu Petronas banyak belajar dari Pertamina, tapi sekarang dia meninggalkan gurunya,” ujar pengamat geopolitik industri migas Dirgo Purbo dalam acara diskusi Polemikyang digelar radio Trijaya FMdi Jakarta kemarin. Oleh sebab itu, kini perjuangan yang harus dilakukan Pertamina untuk menjadi perusahaan kelas dunia semakin berat.Sebagai perbandingan saja, saat ini Petronas telah beroperasi di 34 negara dan telah menghasilkan 110 juta barel per hari.
Padahal baik Pertamina maupun Petronas sama-sama perusahaan negara. Tidak hanya itu, menurut Dirgo,dari sisi keuntungan bersih Petronas jauh melampaui Pertamina.Tercatat keuntungan bersih Pertamina pada 2008 sekitar Rp30 triliun, sementara Petronas lebih dari delapan kali lipat, sekitar Rp250 triliun. Jadi, wajar,Petronas semakin berada di atas angin dibandingkan Pertamina. ”Jadi saya kurang sepakat apabila Pertamina selalu diperbandingkan dengan Petronas.
Sebab secara geopolitik keduanya berbeda,” ujarnya. Namun Dirgo mengingatkan, membandingkan kedua perusahaan minyak ini tidak bisa dilakukan secara apple to apple. Sebab beban yang harus ditanggung antara Pertamina dan Petronas jauh berbeda. Dari sisi geografis dan jumlah penduduk, Malaysia lebih kecil dibandingkan Indonesia. Pertamina harus memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk lebih dari 200 juta penduduk, sementara Petronas hanya melayani kebutuhan sekitar 28 juta penduduk Malaysia.
Cakupan luas dan persebaran geografis antara keduanya berbeda. Pertamina harus mendistribusikan BBM ke lebih dari 17.000 pulau di Indonesia, yang tentu saja sangat berpengaruh pada membengkaknya biaya operasional. Sementara wilayah distribusi Petronas lebih sempit. Untuk urusan campur tangan pemerintah atas kinerja keduanya, disebut-sebut Pertamina sangat menderita akan hal ini. Bayangkan saja apabila 90% keuntungan Pertamina wajib disetorkan kepada pemerintah, sementara untuk kepentingan pengembangan perusahaan mereka hanya kebagian 10%.
Dengan demikian misi menjadi perusahaan kelas dunia masih menjadi angan-angan. Sebaliknya, menurut beberapa kalangan, Petronas hanya berkewajiban menyetorkan 10% keuntungannya kepada pemerintah. Sisanya 90% digunakan untuk kepentingan pengembangan perusahaan. Wajar jika ekspansi yang dilakukan Petronas demikian gencar dan pertumbuhannya membuat kagum banyak kalangan. Apalagi jika harus berbicara tentang campur tangan intervensi politis dalam kinerja Pertamina.
Sudah bukan rahasia lagi, perusahaan pelat merah itu dianggap banyak kalangan sebagai ”sapi perah” bagi kepentingan politik. Tidak cukup itu, ada pula berembus kabar beberapa pengusaha nakal ikut bermain yang membuat posisi Pertamina semakin terpojok. Jika demikian halnya,Pertamina memang harus cukup puas sebagai perusahaan besar di kandang sendiri,bukan di kancah internasional.
Jangankan mengejar Exxon Mobile, sebuah perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) yang dinobatkan majalah Fortunesebagai perusahaan minyak terbesar di dunia pada 2008,untuk bersaing dengan Petronas saja Pertamina sudah cukup ngos-ngosan. Meski demikian, mantan Direktur Utama Pertamina Ari H Soemarno sebelumnya pernah menargetkan Pertamina bisa masuk dalam daftar 500 perusahaan minyak terbesar di dunia.
Paling tidak berada di urutan 200– 300,demikian target Ari ketika baru setahun menjabat sebagai Dirut Pertamina.Ari mulai menjabat sejak Maret 2006. Saat itu Ari optimistis selama tiga tahun dengan pembenahan dan kerja keras, Pertamina akan mampu mencapai target tersebut. Namun tetap saja hitungan di atas kertas yang sudah direncanakan Ari tidak berjalan sesuai yang direncanakan di lapangan.
Sebab dia harus lengser dari jabatannya kurang dari tiga tahun masa jabatannya. Banyak spekulasi menyatakan,seringnya terjadi kelangkaan BBM di pasaran serta terjadinya kecelakaan kebakaran di Depo Plumpang merupakan rapor merah Ari.Namun sebagian kalangan berpendapat, alasan pergantian direksi Pertamina lebih bersifat politis ketimbang bisnis. Namun Ari enggan berkomentar tentang intervensi politik yang meliputi Pertamina.
”Karena bagi saya sebagai profesional ada pemegang saham yang memiliki kuasa mutlak yang sesuai juga anggaran dasar perusahaan,” kata Ari yang juga menjadi pembicara dalam diskusi radio Trijayatersebut. Menurut Ari,misi menjadi kelas dunia sebenarnya semua sudah tertuang dalam Piagam Pertamina yang sudah ditandatangani jajaran direksi dan pemegang saham di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir 2007. Dalam piagam ini tercantum semua instrumen penting yang harus dilakukan Pertamina untuk bisa menjadi perusahaan minyak nasional yang berkelas dunia.
Meski demikian,Ari menyarankan agar program perubahan dan transformasi di tubuh Pertamina tetap dilanjutkan. Sebab ini yang menjadi kunci pembenahan di tubuh Pertamina. Mengenai manajemen dalam tubuh Pertamina,juga telah dilakukan pembenahan dari sisi akuntabilitas atau lainnya. Buktinya, berdasar hasil riset Indonesian Institut of Corporate Governance, Pertamina sudah termasuk sebagai perusahaan yang tepercaya dengan skor corporate governance hampir 80 poin.
Hal ini, menurut Ari, adalah sebuah kemajuan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam tubuh Pertamina. Selain itu, telah diterapkan program Pertamina Clean agar Pertamina bersih. ”Kita mempunyai sistem pengawasan untuk pelaporan yang juga dikelola secara independen oleh lembaga independen pula. Jadi kita melakukan upaya agar governance atau Pertamina lebih bersih, lebih baik, dan lebih bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saya tidak ingin melihat dari konteks lain.
Memang tiga tahun ini belum sepenuhnya kita mencapai hasil yang kita harapkan,” paparnya. Sementara pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menyangsikan Pertamina akan mampu menyaingi Petronas dalam waktu dekat.
Sebab meskipun telah dilakukan pergantian jajaran direksi, dia belum melihat Pertamina bakal melakukan terobosan untuk mencapai ambisi menjadi perusahaan kelas dunia.” Baru beberapa hari ganti direksi saja langsung diumumkan impor elpiji,”ujarnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/211684/
Ketika Murid Lampaui Sang Guru
Menjadi perusahaan kelas dunia ternyata memang tidak mudah. Sebab banyak sekali yang harus dibenahi Pertamina untuk mencapai predikat ini. Namun kini Pertamina yang sebelumnya menjadi ‘guru’ bagi Petronas, harus mengaku kalah dengan perkembangan muridnya.
Sebenarnya ambisi untuk menjadi perusahaan kelas dunia sudah lama disuarakan oleh Pertamina. Sejak kepemimpinan Ari H Soemarno ketika menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut), keinginan ini sudah sering diutarakan. Alasannya jelas, sejak statusnya dirubah menjadi perusahaan persero pada 2003, seharusnya Pertamina sudah memiliki banyak ruang untuk menjadi terdepan bahkan melebihi perusahaan minyak Malaysia Petronas. Namun sayangnya, Petronas yang pada 1970-an ‘berguru’ pada Pertamina kini perkembangannya jauh melesat melebihi Pertamina.
"Dulu Petronas banyak belajar dari Pertamina, tapi sekarang dia meninggalkan gurunya," ujar Pengamat Geopolitika Industri Migas Dirgo Purbo, dalam acara diskusi Polemik Radio Trijaya FM di Jakarta kemarin.
Oleh sebab itu, kini perjuangan yang harus dilakukan Pertamina untuk menjadi perusahaan kelas dunia semakin berat. Sebagai perbandingan saja, saat ini Petronas telah beroperasi di 34 negara dan telah menghasilkan 110 juta barel per hari. Padahal baik Pertamina maupun Petronas sama-sama perusahaan negara. Tidak hanya itu, menurut Dirgo dari sisi keuntungan bersih Petronas jauh melampaui Pertamina. Tercatat keuntungan bersih Pertamina pada 2008 sekitar Rp30 triliun, sementara Petronas lebih dari delapan kali lipatnya, sekitar Rp250 triliun. Jadi wajar, Petronas semakin berada “di atas angin” jika dibandingkan dengan Pertamina.
“Jadi saya kurang sepakat apabila Pertamina selalu diperbandingkan dengan Petronas. Sebab secara geopolitik keduanya berbeda,” ujarnya.
Namun Dirgo mengingatkan, bahwa membandingkan kedua perusahaan minyak ini tidak bisa dilakukan secara apple to apple. Sebab jelas beban yang harus ditanggung antara Pertamina dan Petronas jauh berbeda. Dari sisi geografis dan jumlah penduduk, Malaysia lebih kecil dibandingkan Indonesia. Jika Pertamina harus memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) bagai lebih dari 200 juta penduduk Indonesia, sementara Petronas hanya melayani kebutuhan sekitar 28 juta penduduk Malaysia. Cakupan luas dan penyebaran geografis antara keduanya berbeda. Pertamina harus mendistribusikan BBM ke lebih dari 17.000 pulau di Indonesia, yang tentu saja sangat berpengaruh pada membengkaknya biaya operasional. Sementara wilayah distribusi Petronas lebih sempit.
Sementara untuk urusan campur tangan pemerintah atas kinerja keduanya, disebut-sebut Pertamina sangat menderita akan hal ini. Bayangkan saja apabila 90% keuntungan Pertamina wajib disetorkan kepada pemerintah, sementara untuk kepentingan pengembangan perusahaan hanya kebagian 10%. Dengan demikian misi menjadi perusahaan kelas dunia, masih hanya akan menjadi angan-angan. Sebab menurut beberapa kalangan Petronas hanya berkewajiban menyetorkan 10% keuntungannya kepada pemerintah. Sementara 90% sisanya digunakan untuk kepentingan pengembangan perusahaan. Wajar, jika ekspansi yang dilakukan oleh Petronas demikian gencar dan pertumbuhannya membuat kagum banyak kalangan.
Apalagi jika harus berbicara tentang campur tangan intervensi politis dalam kinerja Pertamina. Sudah bukan rahasia lagi, perusahaan pelat merah itu dianggap banyak kalangan sebagai “sapi perah” bagi kepentingan politik. Tidak cukup itu, ada pula terhembus kabar beberapa pengusaha nakal ikut bermain yang semakin membuat posisi Pertamina semakin terpojok. Jika demikian halnya, maka Pertamina memang harus cukup puas sebagai perusahaan besar di kandang sendiri, bukan di kancah internasional. Jangankan mengejar Exxon Mobile, sebuah perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) yang dinobatkan Majalah Fortune sebagai perusahaan minyak terbesar di dunia 2008 ini. Untuk bersaing dengan Petronas saja, Pertamina sudah cukup ngos-ngosan.
Meski demikian, Mantan Direktur Utama Pertamina Ari H Soemarno sebelumnya pernah menargetkan Pertamina bisa masuk dalam daftar 500 perusahaan minyak terbesar di dunia. Paling tidak berada di urutan 200-300, demikian target Ari ketika baru setahun menjabat sebagai Dirut Pertamina ketika dia mulai menjabat sejak Maret 2006. Saat itu Ari optimis selama tiga tahun dengan pembenahan dan kerja keras, Pertamina akan mampu mencapai target tersebut.
Namun tetap saja hitungan diatas kertas yang sudah direncanakan Ari tidak mesti berjalan sesuai yang direncanakan di lapangan. Sebab dia harus lengser dari jabatannya kurang dari tiga tahun masa jabatannya. Banyak spekulasi menyatakan, seringnya terjadi kelangkaan BBM di pasaran serta terjadinya kecelakaan kebakaran di Depo Plumbang merupakan rapor merah Ari. Namun sebagian kalangan berpendapat, alasan pergantian direksi Pertamina lebih bersifat politis ketimbang bisnis. (Baca: ). Namun Ari Soemarno enggan berkomentar tentang intervensi politik yang meliputi Pertamina.
“Karena bagi saya sebagai profesional, ada pemegang saham yang memiliki kuasa mutlak yang sesuai juga anggaran dasar perusahaan,” kata Ari yang juga menjadi pembicara dalam diskusi Radio Trijaya tersebut.
Menurut Ari, misi menjadi kelas dunia sebenarnya semua sudah tertuang dalam Piagam Pertamina yang sudah ditandatangani oleh jajaran direksi dan pemegang saham di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir 2007 lalu. Dalam piagam ini tercantum semua instrumen penting yang harus dilakukan Pertamina untuk bisa menjadi perusahaan minyak nasional yang memiliki kelas dunia. Meski demikian, Ari menyarankan program perubahan dan transformasi di tubuh Pertamina agar tetap dilanjutkan. Sebab ini yang menjadi kunci pembenahan di tubuh Pertamina.
Mengenai manajemen dalam tubuh Pertamina, juga telah dilakukan pembenahan dari sisi akuntabilitas atau lainnya. Buktinya berdasar hasil riset Indonesian Institut of Corporate Governance, Pertamina sudah termasuk sebagai perusahaan yang terpercaya dengan skor corporate governance hampir 80 poin. Hal ini menurut Ari, adalah sebuah kemajuan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam tubuh Pertamina. Selain itu juga telah diterapkan program Pertamina Clean, agar Pertamina bersih.
“Kita mempunyai sistem pengawasan untuk pelaporan, yang juga dikelola secara independen oleh lembaga independen pula. Jadi kita melakukan upaya agar governance atau upaya Pertamina lebih bersih, lebih baik, dan lebih bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Saya tidak ingin melihat dari konteks lain. Memang tiga tahun ini belum sepenuhnya kita mencapai hasil yang kita harapkan,” paparnya.
Sementara Pengamat Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy menyangsikan Pertamina akan mampu menyaingi Petronas dalam waktu dekat. Sebab meskipun telah dilakukan pergantian jajaran direksi, dia masih belum melihat Pertamina bakal melakukan terobosan untuk mencapai ambisi untuk jadi perusahaan kelas dunia.
“Baru beberapa hari ganti direksi saja langsung diumumkan impor elpiji,” ujarnya.
Senada disampaikan Pengamat Perminyakan Qurtubi. Menurut dia, sangat sulit bagi Pertamina untuk menjadi perusahaan minyak kelas dunia, sebab Pertamina sering menjual aset-aset yang ada. Penjualan aset ini dimungkinkan karena ada dasar hukumnya yakni undang-undang (UU) Minyak dan Gas.
“Karena UU migas inilah lapangan minyak di selawesi tenggara dialihkan ke Mitsubisti begitu juga banyak aset-aset lain pertamina. Pertamina tidak akan besar jika mereka terus menjual aset yang ada. Oleh karena itu saya harapkan Karen sebagai Dirut mau ngomong ke SBY untuk mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang untuk membatalkan UU migas ini,” tuturnya.
Sementara Wakil Dirut Pertamina yang baru Omar S Anwar mengakui dari sisi bisnis secara keseluruhan, Pertamina memang ingin menjadi perusahaan berkelas dunia. Namun itu merupakan target jangka panjang yang mungkin baru terwujud 15 tahun mendatang. Sebagai awal, menurut dia Pertamina harus menguasai domestik dan regional terlebih dahulu. Selain itu dalam pengelolaannya, butuh penanganan dan sumber daya manusia yang berkompetensi dan bertanggungjawab.
“Kita lihat kelebihan dan kekurangannya di mana. Kita lihat petronas yg belajar dr pertamina yg bisa terbangun dengan baik karena dari profit ability dan kekayaan asetnya. Indonesia dengan kekayaan minyak dan gas serta mineral yg dimilikinya kita pasti bisa,” tandas Omar usai pelantikan dirinya di Kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) (5/2) lalu. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/211684/
Daftar Nama Dirut-dirut Pertamina :
1. Ibnu Sutowo : Desember 1957 - Maret 1976
2. Piet Haryono : Maret 1976 - April 1981
3. Judo Soembono : April 1981 - Juli 1984
4. AR Ramly : Juli 1984 - Agustus 1988
5. F Abdaoe : Agustus 1988 - Juni 1998
6. Sugianto : Juni 1998 - Desember 1998
7. Martiono Hadianto : Desember 1998 - Februari 2000
8. Baihaki Hakim : Februari 2000 - September 2003
9. Ariffi Nawawi : September 2003 - Agustus 2004
10. Widya purnama : Agustus 2004 - Maret 2006
11. Ari H Soemarno : Maret 2006 - Februari 2009
12. Karen Agustiawan : Februari 2009- sekarang
sumber : Humas Pertamina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment