Meskipun banyak kalangan memprediksi tahun 2009 ini industri otomotif akan mengalami krisis. Namun tidak sedikit pula pihak yang optimis untuk melakukan ekspansi.
Dalam menghadapi dampak krisis global, langkah-langkah yang dilakukan oleh perusahaan umumnya melakukan efisiensi dan menahan diri untuk ekspansi. Ini bukan hanya karena menurunnya tingkat daya beli masyarakat akibat krisis. Melainkan juga ancaman krisis likuiditas juga sempat dialami kalangan perbankan. Industri otomotif yang pembiayaan penjualannya sangat mengandalkan perbankan pun harus ikut kena getahnya.
Apalagi jika melihat industri padat karya ini di Amerika Serikat, sebagai negara di mana krisis ini berawal. Tiga perusahaan otomotif raksasa AS yakni General Motors, Ford dan Chrysler atau yang sering dijuluki “The big three” pun mengalami dampak krisis yang cukup parah. Sehingga banyak cabang perusahaan-perusahaan itu ditutup dan terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran.
Meski di Indonesia kondisinya tidak jauh lebih baik ketimbang di AS. Namun dampak krisis finansial global yang disebabkan kredit macet perumahaan di AS itu cukup menghantam industri otomotif dalam negeri. Salah satu buktinya Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi angka penjualan mobil tahun ini bakal menurun drastis. Jika pada 2008, angka penjualan mencatat prestasi hingga terjual lebih dari 607.151 unit, maka pada 2009 diprediksi angkanya drop hanya tinggal sekitar 350.000-450.000 unit. Atau turun sekitar 25%-30% dibandingkan tahun sebelumnya.
Prestasi gairah industri otomotif 2008, ternyata tidak lama bisa dinikmati. Sebab kini kalangan industri harus berjuang keras, bukan hanya agar selamat dari dampak krisis dan mencegah terjadinya PHK. Namun juga agar penurunan kinerja industri tahun ini tidak terlalu besar. Banyak kalangan menilai grafik pertumbuhan industri otomotif Indonesia tidak pernah landai, namun turun naik fluktuatif. Sehingga tahun 2008 bisa dikatakan sebagai tahun cemerlang, sedang 2009 ini adalah masa sulit bagi industri otomotif.
Meski demikian, banyak pihak tetap optimis bakal melewati masa krisis ini. Harus diakui, akan terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan. Salah satunya adalah PT Mazda Motor Indonesia (MMI). Ketika semua industri sedang berhitung berapa banyak dampak krisis global akan menghantam kinerja perusahaan mereka. MMI justru melakukan sebaliknya. Industri mobil yang baru menancapkan bisnisnya di Indonesia sejak 2006 ini justru akan melakukan ekspansi besar-besaran. Setelah berhasil membuka 13 dealer yang tersebar di seluruh Indonesia, pada 2009 ini Mazda kembali akan melebarkan sayapnya dengan menargetkan pembukaan 25-30 dealer terutama untuk wilayah Jawa dan Sumatera.
Ini merupakan langkah yang cukup berani. Sebab industri lain saat ini sedang berhitung ulang dan lebih menahan diri untuk menahan diri untuk melakukan ekspansi. Alasan Mazda untuk memperlebar sayap cukup beralasan. Selama tiga tahun terakhir angka pertumbuhan penjualan mobil dengan brand “zoom-zoom” gaya anak muda ini cukup fantastis. Pada awal pembukaannya tahun 2006, Mazda hanya mencatat angka penjualan sebanyak 269 unit, kemudian naik 397% pada 2007 menjadi 1.336 unit. Kemudian pada penutupan 2008, Mazda mencatat pertumbuhan penjualan sebanyak 68% atau meningkat menjadi 2.241 unit.
“Kami puas dengan hasil penjualan ini, karena total penjualan ini melebihi target awak kami yaitu 2.000 unit,” kata Presiden Direktur PT MMI Yoshinori Nisihara dalam jumpa pers di Jakarta (3/2) lalu.
Keyakinan Mazda akan potensi pasar di Indonesia cukup membanggakan. Sebab ketika semua pasar di negara lain sedang ambruk, diantaranya AS dan Eropa. Maka perusahaan manufaktur yang berpusat di Jepang itu melirik pasar Asia. Beberapa pasar potensial di Asia, diantaranya China, India, dan Indonesia sebagai negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar. Bahkan menurut Brand & Communication Manager PT MMI Astrid Ariani, Indonesia merupakan pasar paling potensial di wilayah Asia Tenggara.
“Mazda melihat pasar Indonesia sangat menjanjikan. Masyarakat cukup banyak. Jumlah penduduk Indonesia terbesar di Asean. Kenapa baru sekarang Mazda melakukan ekspansi, karena kita melihat momennya. Untuk masuk ke pasar tidak terburu-buru melihat. Sebab kita juga harus melihat dealer2 yang memang siap dengan visi dan misi Mazda,” ujarnya kepada Sindo.
Untuk tahun 2009 ini, Mazda pun akhirnya menobatkan Indonesia salah satu negara di ASEAN yang memiliki jajaran mobil Mazda terlengkap dan memperkuat layanan purna jual dengan terus membangun brand Mazda. Selain itu Mazda juga berstrategi akan menghadirkan Mazda 2 di Indonesia pada semester kedua tahun ini. Ini sebagai salah satu produk andalan Mazda yang diharapkan akan mengatrol angka penjualan Mazda. Sehingga pada tutup tahun 2009, Mazda optimistis angka penurunan penjualannya tidak akan anjlok drastis. Setidaknya masih dikisaran angka 20% dibandingkan 2008.
“Kwartal ketiga Mazda akan mengeluarkan mobil yang berada di kelas passanger mobil kecil yaitu dengan mazda 2. dan kami mengharapkan ini bisa menstimulasi pasar. Sementara pada saat mendekati kwartal 3 dan 4, kondisi perekonomian di nilai jika animonya ke arah lebih baik. Ini akan meningkat volumenya. Mudah-mudahan dengan adanya Mazda 2, penurunan volumenya tidak akan jatuh ke 30-40%. Tentunya akan melihat dari kinerja industri otomotif di Indonesia sendiri,” paparnya.
Namun PT Honda Prospek Motor (HPM) yang pada tutup tahun 2008 berhasil mencatat angka penjualan 52.500 unit memiliki dua prediksi yang didasarkan atas dua opsi untuk penjualan 2009 ini. Yakni Opsi pertama diprediksikan pada penjualan industri mobil di dalam negeri sejumlah 420 ribu unit dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp10.000 - Rp11 ribu dan suku bunga (BI Rate) kurang dari 8 %. Sedangkan opsi kedua prediksi total penjualan mobil dalam negeri sejumlah 350 ribu unit bila perhitungan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di atas Rp11.000. Kedua opsi ini dalam pertumbuhan ekonomi antara 4-5 %.
Berdasarkan dua keadaan tersebut, HPM mencanangkan dua opsi target yakni 36.500 unit dan 30.500 unit. Angka prediksi penjualan pada 2009 ini memang tergolong menurun drastis yakni sebesar 35-40% dibandingkan 2008. Penurunan target dan prediksi penjualan tersebut disesuaikan dengan kondisi krisis ekonomi yang saat ini sedang melanda dunia. Belum lagi pasar Indonesia yang mudah naik dan mudah turun.
Meski demikian, sama halnya dengan Mazda, angka penjualan mobil Honda pada 2008 cukup mencatat pertumbuhan signifikan dibandingkan 2007 yakni sebesar 31,2%. tercatat penjualan 2007 hanya sebanyak 40.000 unit. Meskipun selama tiga bulan terakhir menjelang tutup tahun 2008, angka penjualan cenderung menurun namun HPM berhasil menembus angka target awal yang sebelumnya dipatok 51.000 unit pada 2008. Namun sayangnya Honda memang harus cukup puas, karena tidak mampu mencapai target revisi yang sebelumnya dicanangkan per September 2008, yakni sebanyak 57.000 unit. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment