Sunday, 22 February 2009
Gerakan cinta produk dalam negeri tidak akan berhasil jika produk yang ditawarkan tidak berdaya saing dibanding produk impor.Inovasi menjadi kunci yang tak bisa ditawar.
Paradigma pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan di Indonesia belum terbangun maksimal sehingga budaya riset di Indonesia minim. Akibatnya, produkproduk inovatif pun langka. Berbeda dengan China dan India. Dua negara tersebut menggunakan inovasi sebagai kunci peningkatan daya saing produk- produk mereka di pasar dalam negeri dan internasional.
Padahal, pola inovasi yang mereka terapkan menggunakan teori amati, tiru, dan menambah (ATM) atau dalam bahasa Jawa disebut niteni, nirokke,nambahake (3N) sebagaimana rumus yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro.Ya,inovasi juga sering didengungkan para konsultan bisnis. Mereka bahkan sering menggunakan inovasi sebagai mantra, innovate or die!(inovasi atau mati!).
Paradigma inovasi semacam ini juga yang menurut Peneliti Senior Institute of Developing Economics Japan External Trade Organization (IDE-Jetro) Yuri Sato sebagai kunci keberhasilan ekonomi Jepang. Menurut dia, inovasi tidak mesti sebuah karya yang bersifat invention (temuan baru). Sebuah produk bisa dikatakan inovatif dari hasil modifikasi produk yang sudah ada hanya dibuat dengan ciri khas tersendiri yang mempertimbangkan faktor kualitas,fungsi,dan harga.
Meski demikian, sebagai awal guna membudayakan inovasi yang terpenting dilakukan adalah modifikasi. Inilah yang berlaku di Jepang.Tidak hanya kalangan peneliti dan pengusaha, masyarakat biasa dan ibu rumah tangga sekalipun sudah berlombalomba mengajukan paten atas inovasi produk yang dia lakukan.
”Tidak usah yang susah-susah atau yang besar.Kalangan ibu rumah tangga di Jepang menemukan resep baru atau hanya melakukan modifikasi terhadap resep yang sudah ada,dia akan langsung mengajukan paten. Seperti itulah kondisi budaya inovasi di Jepang,” paparnya kepada SINDO.
Yuri berkisah, budaya cinta produk dalam negeri di Jepang sebenarnya tidak muncul tiba-tiba, tetapi butuh waktu hampir 10 tahun untuk merintisnya yang dimulai sejak era 1960- an.Gerakan ini pun tidak muncul dari atas (pemerintah), tetapi murni gerakan dari bawah (masyarakat).
Kalangan pengusaha berlomba-lomba membuat produk inovatif.Begitu melihat gerakan tersebut, Pemerintah Negeri Sakura itu sangat mendukung dalam bentuk berbagai insentif fiskal maupun pajak. Selain itu, lembaga pembiayaan di Jepang juga sangat mendukung tumbuhnya industri lokal dengan merek dan pengusaha lokal melalui kemudahan-kemudahan fasilitas kredit modal kerja.
Sehingga wajar jika industri automotif dan elektronik di Jepang melesat dan memimpin pasar dunia. ”Awalnya,produk-produk Jepang, inovasinya murah dibanding produk Amerika dan Eropa.Tetapi bentuknya jelek sehingga belum diminati banyak orang.Namun,mereka terus-menerus melakukan inovasi. Hingga akhirnya menemukan produk yang tidak hanya murah, berkualitas, tetapi fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Jepang,”paparnya.
Kesuksesan Jepang dalam membudayakan produk dalam negeri, menurut Yuri,bukan tanpa hambatan.Tidak sedikit produk-produk yang mengalami kegagalan ketika dilakukan inovasi. Namun,masyarakat Jepang tak kenal menyerah dan terus berupaya keras.Terpenting bagi Indonesia,kata dia,sebagai awal untuk berinovasi adalah harus menemukan produk-produk unggulan terlebih dahulu.
Jumlah produk unggulan tidak perlu banyak,bisa hanya beberapa yang dijadikan ikon dan contoh sukses. Produk unggulan ini harus hasil karya inovasi anak bangsa dengan merek dan ciri khas Indonesia. Jika sudah demikian, pemerintah dan stakeholder lain termasuk lembaga pembiayaan bisa membantu tumbuh kembangnya industri produk unggulan ini agar memiliki daya saing dibanding produk impor.
Jika sudah demikian, konsumen atau masyarakatlah yang memilih akan membeli produk yang mana. Jika sudah lebih berdaya saing,produk dalam negeri Indonesia bisa dipastikan akan diminati masyarakat. Dampak positifnya, industri lokal bisa menjadi raja di negeri sendiri.
”Tantangan Indonesia saat ini lebih besar ketimbang Jepang pada era 1960-an yang hanya bersaing dengan produk AS dan Eropa.Tetapi,kini persaingan ditambah India dan China yang dari sisi harga jauh lebih murah. Indonesia harus bekerja keras untuk berhasil memunculkan produk inovatif dan unggulan,”ujarnya. Hal senada diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman.
Menurut dia,rumus dari inovasi adalahrentetanantaramengerti,menirukan, dan memberi nilai tambah. Sayangnya, paradigma masyarakat Indonesia terkesan silau dan kurang percaya diri jika mendengar istilah inovasi. Padahal semua orang bisa melakukan inovasi meski dari hal-hal yang kecil.
”Kita harus kembali kepada apa yang kita punya, kemudian apa-apa yang bagus dari sana kita pakai. Contoh yang paling sederhana, kita silau dengan istilah inovasi. Sepertinya, kalau mendengar kata inovasi itu segalanya,” katanya kepada SINDO. Menurut dia,kunci agar bangsa Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tapi juga pemain adalah dengan inovasi dan fortifikasi (pembentengan/ pertahanan).
Artinya, ketika arus globalisasi sudah tidak bisa dibendung, ada upaya pertahanan yang harus tetap dilakukan simultan yakni bagaimana membudayakan paradigma cinta produk dalam negeri bukan sekadar slogan,melainkan juga membumi dan membudaya di masyarakat.
Sayangnya,kata dia,justru banyak masyarakat Indonesia yang bangga jika bisa memiliki produk-produk impor. Ini sebuah perangkap yang akan membuat perekonomian Indonesia tidak bisa berkembang.Pasar Indonesia yang sangat potensial dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa justru dikuasai industri asing.
Sementara industri lokal sulit berkembang bahkan terancam gulung tikar sebab masyarakat Indonesia tidak menunjukkan minat dan kebanggaan akan karya anak negeri.
”Sekarang ini kita berada di zaman di mana kita bahagia memerangkapkan diri ke perangkap yang kita bikin sendiri.Aku cinta produk Indonesia itu bukan hanya di bibir.Jadi,kalau membeli barang, dilihat dulu apakah made in Indonesia atau bukan? Boleh saja lisensi teknologi dari luar,tapi ada kata made in Indonesia dan saya akan bangga.Namun,di masyarakat kita apa yang terjadi?”ungkapnya prihatin.
Minimnya budaya inovasi dan minat terhadap produk dalam negeri inilah yang akan mengancam industri lokal.Berdasar data Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang mengutip data Bank Dunia daya serap teknologi di Indonesia tergolong rendah dibanding negara-negara lain di ASEAN dan Asia Pasifik tercatat,per 2006 daya serap teknologi di tingkat perusahaan Indonesia hanya meraih skor 4,5.
Angka ini di bawah Filipina (4,9), China (5,1),Vietnam (5,2),Thailand (5,3), Malaysia (5,8), dan Korea Selatan (5,9). Dengan demikian, upaya lebih keras lagi untuk membudayakan inovasi dan cinta produk dalam negeri di masyarakat diperlukan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/215610/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment