
Para Pembaharu Sosial
Social enterpreneur (wirausaha sosial) berdasarkan definisi Ashoka adalah individu istimewa yang memiliki visi, kreativitas, dan keteguhan hati yang luar biasa --sebagaimana seorang wirausaha—yang mengabdikan kemampuannya untuk memperkenalkan solusi baru pada masalah-masalah sosial. Para individu yang berjuang tanpa menyerah ini tidak cukup puas dengan merubah kondisi sosial masyarakat. Namun mereka juga sedang mengoyak kemapanan sistem sehingga lebih berorientasi untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
Setiap tahunnya, Lembaga Ashoka yang merupakan lembaga asosiasi global untuk wirausahawan sosial memberikan penghargaan kepada individu terbaik untuk memperoleh predikat sebagai fellow. Tidak hanya di Indonesia, Ashoka yang berkantor pusat di Amerika Serikat itu juga memberikan penghargaan kepada wirausahawan sosial terbaik di dunia. Tercatat sejak didirikan 1981 oleh Bill William Drayton Ashoka telah memberikan penghargaan kepada sekitar 2000 wirausahawan sosial, dan 142 orang di antaranya dari Indonesia. Selain Ashoka, penghargaan serupa juga diberikan oleh Ernst & Young (EY). Setiap tahunnya EY mengumumkan award bagi wirausahawan sosial yang bersanding dengan wirausaha-wirausaha lainnya.
Ashoka Fellow Indonesia
2008
Hambali
Bidang : Kesehatan
Target kegiatan : Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi remaja dan perempuan di pedesaan serta membantu terwujudnya pemberdayaan kaum perempuan melalui
Target Populasi : Komunitas (beberapa wilayah di Jambi, Riau, Bandar Lampung dan sekitarnya)
Lembaga : Yayasan Mitra Aksi
Merasa prihatin dengan kondisi minimnya akses kesehatan bagi masyarakat, Hambali kemudian mencoba membantu masyarakat bisa menolong dirinya sendiri. Kemudian Hambali mendirikan jaringan pusat-pusat kesehatan reproduksi yang dikelola dan dioperasikan oleh para ibu rumah tangga. Wilayah pembinaan dan pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Mitra Aksi mulai di Jambi, Bandar Lampung, Riau, Bengkulu dan sekitarnya. Bahkan pemberdayaan terhadap kaum perempuan pedesaan di Kabupaten Merangin. Hasilnya, para perempuan di Kabupaten Merangin tidak hanya bangkit kepercayaan dirinya, tapi juga mulai banyak berperan dalam ranah publik. Tidak sedikit perempuan di Kabupaten Merangin kini ada yang menjadi kepala desa, menjadi kepala dinas, bahkan ada yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Sementara dalam bidang kesehatan reproduksi, Hambali dan kawan-kawannya telah berhasil membantu didirikannya 54 klinik masyarakat, yang mencakup pelayanan kepada sekitar 60.000 penduduk. Hambali juga menyediakan beasiswa ilmu kebidanan kepada perempuan remaja yang dipilih oleh komunitasnya masing-masing dengan perjanjian setelah menamatkan pendidikan remaja tersebut akan kembali dan mengabdi di klinik.
Pamikatsih
Bidang: Pemberdayaan ekonomi masyarakat
Target kegiatan : pemberdayaan usaha-usaha mikro
Target populasi : masyarakat penyandang cacat fisik (penca) di Solo dan sekitarnya di Jawa Tengah
Lembaga : InterAksi
Pamikatsih yang biasa disapa Pikat adalah mantan seorang pengusaha wanita yang sukses memimpin gerakan nasional untuk pemberdayaan masyarakat penca. Kegiatan yang dirintisnya sejak tahun 2003 bertujuan untuk melakukan penguatan ekonomi yang berbasis pada hak. Diantaranya dengan pendampingan usaha mikro, Tidak hanya dengan pendekatan pra koperasi, koperasi, dan kelompok usaha bersama (KUB). Namun juga pendekatan individu dengan memfasilitasi permodalan dengan dana refolfing fund, memfasilitasi pembentukan asosiasi penca pengusaha mikro, serta menjalin kerjasama dengan jaringan pengusaha non penca. Selain itu, melalui Lembaga InterAksi, Pikat juga memfasilitasi training-training kewirausahaan dan pemberian informasi yang berbasisi aksesibel. Beberapa sektor usaha yang dikembangkan Pikat, diantaranya sektor produksi, kerajinan batik, mote, sangkar burung, dan jasa seperti reparasi jam, penjahitan, distribusi, toko kelontong, pakaian, dan makanan kecil. Walhasil upaya Pikat membuahkan hasil, banyak penca yang akhirnya berhasil membuka usaha mereka sendiri. Gerakan ini bahkan mampu merubah stereotipe terhadap kaum penca serta mempengaruhi perubahan kebijakan pemerintah.
Yohanes Surya
Bidang: Pendidikan
Target kegiatan : inovasi pengajaran ilmu-ilmu pasti seperti Matematika, Fisika, dengan metode Gasing (gampang, asyik, dan menyenangkan)
Target populasi : metode gasing telah diterapkan di 69 Kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Lembaya : Surya Institute (SI)
Yohanes Surya adalah lulusan doktoral College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat 1994 dengan predikat cumlaude. Sejak 2000 Yohanes banyak memberikan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia melalui lembaga Surya Institute (SI). Bukan hanya di ibukota kabupaten atau kotamadya, namun sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke, termasuk pesantren-pesantren. Dengan mencentuskan metode pembelajaran Gasing, Yohanes ingin menunjukkan bahwa belajar ilmu pasti seperti matematika dan fisika tidak mesti menggunakan rumus. Melainkan juga bisa dengan logika. Metode pengajarannya ini terbukti telah mampu membuat siswa-siswi di Indonesia mampu menjuarai berbagai olimpiade fisika tingkat dunia. Kini, metodologi pengajaran Yohanes Surya telah tersebar di 69 kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Bambang Basuki
Bidang: Pendidikan
Target kegiatan : jasa layanan bidang pendidikan dan tenaga kerja bagi penyandang cacat tuna netra
Target populasi : masyarakat penyandang cacat tuna netra seluruh Indonesia
Lembaya : Yayasan Mitra Netra
Dengan tekad yang kuat pada tahun 1991, Bambang Basuki bersama beberapa rekannya pun mendirikan Yayasan Mitra Netra (YMN) meski tanpa uang sepeserpun. Misinya jelas, yakni guna mewujudkan kesamaan kesempatan melalui kesetaraan perlakuan bagi tunanetra baik di bidang pendidikan maupun tenaga kerja. Selain itu Bambang juga ingin memastikan ketersediaan sarana atau layanan khusus bagi tunanetra secara memadai baik di bidang pendidikan maupun tenaga kerja. Akhirnya kegigihan Bambang terjawab sebab dengan tekadnya YMN berhasil mengembangkan teknologi ”komputer bicara”, dan memproduksi ratusan judul ”buku bicara” (digital talking book), yang aksesibel bagi para tunanetra. Selain itu YMN juga merintis kerja sama dengan produsen buku braille melalui internet, merintis pengembangan program yang memungkinkan para tunanetra mendapatkan akses mudah ke perpustakaan umum, serta membuat model website yang aksesibel bagi tunanetra. Kini jasa layanan YMN telah diakses oleh ribuang penyandang cacat tuna netra di seluruh Indonesia.
2007
Lita Anggraini
Bidang: Pendidikan dan Pengajaran
Target kegiatan : Pendampingan terhadap pekerja lokal tentang ketenagakerjaan
Target populasi : Kaum perempuan, pembantu rumah tangga dan buruh.
Lembaya : Jala PRT (Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga)
Lita Anggraini telah memperjuankan dihapuskannya perlakukan marjinal terhadap pembantu rumah tangga. Melalui lembaga Jala PRT, Lita memberikan pendidikan bagi para PRT dan buruh, meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu yang memarjinalkan posisi PRT. Kemudian dia juga telah berhasil mempengaruhi dirubahnya aturan dan sistem seputar isu perburuhan guna menghargai dan melindungi hak-hak buruh, masyarakat, dan kaum perempuan menuju situasi yang lebih baik. Terutama bagi pekerja domestik dan hubungan mereka dengan majikannya.
Septi Peni Wulandani
Bidang kegiatan : Pendidikan
Target Kegiatan : Pengembangan pendidikan bagi anak-anak sejak dini, peningkatan pendapatan, dan pembangunan generasi muda
Target populasi : anak-anak, kaum wanita
Lembaga : Jarimatika Foundation
Berawal dari ketidakpuasannya pada metode menghitung yang diajarkan lembaga kursus selama ini, Septi Wulandani telah mempelopori dan memberikan pengajaran kepada ibu rumahtangga memiliki kemampuan mengajar berhitung kepada anak-anaknya. Melalui lembaga Jarimatika Foundation, Peni mengembangkan Metode jarimatika (belajar menghitung dengan jari tangan) hasil yang ternyata mampu menjadi solusi bagi ibu-ibu untuk mengajarkan ilmu berhitung bagi anak-anaknya. Ini adalah model pembelajaran yang simpel dan amat membantu siswa memahami cara-cara berhitung dengan cepat dan akurat. Tidak hanya itu, Peni juga mengembangkan cara mengenal huruf dan membaca dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Metode yang dinamakan Abacabaca atau metode sarang lebah itu, selain menggunakan buku juga menggunakan alat peraga yang menarik hasil karya ibu-ibu binaannya.
Sukianto Lusli
Bidang Kegiatan : lingkungan
Target kegiatan : konservasi atau pelestarian lingkungan dan manajemen sumber daya alam
Target populasi : Ekosistem
Lembaga : Burung Indonesia
Melalui lembaga Perhimpunan Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) yang resmi berdiri sejak 2005 dengan embrio BirdLife Indonesia sejak 2002, Sukianto Lusli telah berhasil mengembangkan model konservasi hutan secara komersial. Model yang dia kembangkan tidak hanya bagi investor yang berorientasi profit namun juga profit untuk bersama-sama mencegah terjadinya degradasi hutan melalui program rehabilitasi. Lulusan lulusan pascasarjana dari Rural Resources and Environmental Policy Universitas London itu bertekad agar keragaman burung Indonesia dan habitatnya terjaga. Dengan cara bekerja sama dengan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang lestari. Jika sebelumnya investor bisa mendapatkan konsesi pengelolaan hutan selama 100 tahun dan dapat mengakibatkan kerusakan hutan, meskipun ada persyaratan moratorium selama 20 tahun. Namun dengan model yang dikembangkan Sukianto, lahan hutan dikembalikan manfaatnya sebagai pusat konservasi burung dan menjadi tempat yang mengurangi emisi karbon berdasar Protokol Kyoto. Kemudian Sukianto memberikan alternatif cara lain untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari hutan tidak mesti dengan menebangnya atau cara lain yang merusak. Diantaranya dengan cara mengelolanya sebagai lahan konservasi burung yang bisa dimanfaatkan untuk bisnis sarang burung walet, penangkaran burung, dan usaha burung berkicau yang mampu menghasilkan uang miliaran rupiah. Area kerja Burung Indonesia meliputi wilayah Sumba, Sangihe, Talaud, Halmahera, Tanimbar, Mbeliling, Sumatera, dan Buru.
Nani Zulminarni
Bidang Kegiatan : Pemberdayaan Perekonomian
Target Kegiatan : Pengembangan pendapatan dan usaha-usaha mikro
Target populasi : Janda dan kaum perempuan
Lembaga : Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA)
Nani Zulminarni telah berhasil menghapus pola diskriminasi terhadap perempuan, terutama para janda yang harus berjuang mendapatkan pendapatan demi menghidupi keluarganya. Melalui lembaga Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Nani kemudian melakukan pemberdayaan kepada para janda yang diawali dari mereka yang telah menjadi korban konflik di Nagroe Aceh Darussalam (NAD) dengan embiro awal mendirikan koperasi usaha simpan pinjam. Tujuannya tidak lain agar para wanita ini memperoleh akses sumberdaya agar dapat mengatasi persoalan ekonomi dan trauma mereka. Semula di beri nama "widows project" dengan dukungan pendanaan dana hibah dari Japan Social Development Fund melalui Bank Dunia. Namun kini inovasi temuan perempuan asal Ketapang, Kalimantan Barat ini telah dikembangkan di 8 Provinsi termasuk NAD, Jawa Barat, Jawa tengah, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara yang menjangkau lebih dari 300 desa miskin. Hingga kini telah terbentuk ratusan organisasi Pekka di tingkat akar rumput dan telah berkembang puluhan lembaga keuangan mikro yang mereka miliki bersama.
2006
Farha Ciciek
Bidang kegiatan : Hak asasi manusia (HAM)
Target Kegiatan : Kesetaraan jender, pluralisme dan toleransi
Target populasi : komunitas keagamaan (pondok pesantren) dan kaum perempuan
Lembaga : Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan (Rahima)
Konservativisme dan fundamentalisme keagamaan di Indonesia yang masih mengakar justru menjadi cambuk bagi perempuan kelahiran Ambon 1963 untuk melakukan inovasi. Perempuan yang akrab disapa Ciciek ini mampu menunjukkan bahwa perwujudan kesetaraan jender kaum perempuan justru bisa dimulai dari komunitas yang selama ini dianggap sebagai lembaga yang identik dengan praktek patriarki, yaitu pondok pesantren. Melalui Lembaga Rahima, dengan gigih Ciciek memberikan edukasi kepada santriwan dan santriwati di Pondok pesantren maupun kepada para tokoh dan pemimpin agama tentang pentingnya kesetaraan jender dan tersedianya jasa layanan kesehatan reproduksi secara memadahi.
Dynand Fariz
Bidang kegiatan : pendidikan
Target kegiatan : Peningkatan kapasitas, turisme yang berkelanjutan, dan pemberdayaan generasi muda.
Target populasi : komunitas masyarakat dan generasi muda
Lembaga : Jember Fashion Carnaval (JFC)
Inovasi seorang perancang busana Dynand Fariz telah mengubah kota Jember Jawa Timur menjadi penuh kreativitas. Dynand telah berhasil mempelopori diselenggarakannya karnaval tahunan yang mendorong kreatifitas anak muda, kemudian dia juga mengajarkan banyak ketrampilan, serta mengembangkan acara yang mendidik bagi seluruh masyarakat. Berawal dari keprihatinan Dynand melihat tingginya angka pengangguran dan rendahnya peluang kerja di kalangan generasi muda di derahnya di jember. Kemudian Melalui lembaga Jember Fashion Carnaval (JFC), dengan ketrampilannya di bidang fashion akhirnya Dynand justru sanggup membuatnya sebagai peluang kaum muda mengembangkan kreativitas mereka. Bahkan mereka mampu membangun industri karnaval, sebuah industri baru yang mampu menciptakan lapangan kerja di tingkat lokal.
TRI MUMPUNI WIYATNO
Bidang kegiatan : Pengembangan ekonomi
Target Kegiatan : Pembangkit listrik mikrohidro
Target populasi : Komunitas pedesaan
Lembaga : Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka)
Masih banyaknya pedesaan yang belum teraliri arus listrik membuat desa sangat tertinggal dari perkotaan termasuk dalam bidang perekonomian. Padahal potensi perekonomian pedesaan sangat besar ada energi yang bisa memberikan kontribusi bagi perekonomian, dan listrik adalah salah satunya. Tri MUmpuni Wiyatno bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji membangun pembangkit listrik mini bertenaga air, sekaligus membina perekonomian masyarakat. Semuanya diwadahi dalam Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka). Hingga kini Sudah 60 lokasi yang telah dialiri listri berkat usaha Tri Mumpuni. Subang murupakan lokasi awal mendapat sentuhan Tri mumpuni, kini daerah yang telah teraliri listrik terbentang dari Aceh, jawa Kalimantan dan yang paling banyak berada di daerah Sulawesi.
Butet Manurung
Bidang kegiatan : pendidikan
Target kegiatan : akses pendidikan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan generasi muda.
Target populasi : masyarakat suku pedalaman
Saur Mariana Manurung yang akrab disapa Butet Manurung telah berhasil menumbuhkan kesadaran di kalangan masyarakat rimba di suku-suku pedalaman rimba Jambi dan Riau tentang pentingnya pendidikan baca tulis. Berawal dari hobinya menjelajah alam dengan camping, Butet justru tergerak melihat kondisi masyarakat rimba yang belum tersentuh pendidikan dan sulit diajak berkomunikasi. Namun kemudian, dengan metode silabel hasil inovasinya Butet berhasil mengajak masyarakat suku pedalaman untuk belajar baca tulis. Metode Silabel adalah pengajaran bahasa Indonesia yang terbagi dalam 16 ejaan, yaitu pembagian konsonan-vokal berdasarkan bunyi. Dengan metode akhirnya masyarakat suku pedalaman di Jambi dan Riau sudah bisa baca tulis dan mampu berkomunikasi dengan orang luar. Bahkan Majalah Times menjulukinya sebagai salah satu pahlawan di Asia.
Tosca Santoso
Bidang kegiatan : hak asasi manusia
Target kegiatan : partisipasi komunitas masyarakat, media atau komunikasi, serta teknologi informasi
Target populasi : komunitas, masyarakat.
Lembaga : KBR 68H
Merasakan pengalaman hidup dibawah pemerintah yang mengekang kebebasan informasi membuat Tosca Santoso prihatin. Untuk itulah sejak 1999 ia memulai perjuangannya dengan merintis kantor berita independen yang bertujuan untuk mewujudkan kebebasan informasi. Melalui KBR 68H cita-cita Santoso terwujud yang hingga saat ini berkembang pesat bahkan direplikasi di banyak negara lain di Asia Tenggara dan lainnya. Bagaimana Santoso telah menemukan model industri radio independen yang mampu memenuhi keinginan publik yang haus akan informasi tidak hanya di Indonesia, namun juga di mancanegara.
Silverius Oscar Unggul
Bidang kegiatan : Lingkungan
Target Kegiatan : pengelolahan hutan, sertifikasi kayu dan koperasi
Target populasi : Sulawesi Tenggara
Lembaga : LSM Jaringan untuk Hutan (Jauh)
Onte sapaan akrab dari Silverius Oscar Unggul bersama organisasinya, Jaringan untuk Hutan (Jauh) di Sulawesi Tenggara, telah berhasil memfasilitasi masyarakat sekitar hutan Konawe Selatan, mengelola perusahaan kayu mereka sendiri. Koperasi yang dirintisnya sejak tahun 2003, kini sukses melipatgandakan penghasilan masyarakat setempat dan menyejajarkan usaha mereka dengan perusahan kayu bonafit tingkat dunia.
Walaupun masyarakat mengambil kayu sebagai sumber penghasilan mereka namun Onte melatih dan mendampingi masyarakat menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari, dari proses penanaman hingga pengolahan kayu, agar memenuhi persyaratan ekolabel dengan mengeluarkan sertifikasi kayu. Hasilnya nilai jual kayu mereka meningkat tajam. Awalnya, tidak mudah meyakinkan masyarakat yang sudah muak dengan janji-janji tanpa bukti. Onte juga membangun koperasi Hutan Jaya Lestari untuk masyarakat. Dengan usahanya juga Onte bisa mengubah pengambilan kayu secara illegal logging menjadi sebuah pekerjaan yang membanggakan.
SAMSIDAR
Bidang kegiatan : Hak asasi manusia (HAM)
Target Kegiatan : rehabilitasi dan pendampingan atas perempuan Aceh
Target populasi : perempuan Aceh
Lembaga : Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan (RPuK)
Konflik yang panjang pada masa lalu di Aceh serta derita yang alami saat dan pasca tsunami 2004 merupakan hal membuat rakyat Aceh menderita. Wanita merupakan golongan yang sangat merasakan penderitaan ini. Samsidar dan lembaganya Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan (RPuK) berusaha untuk membangun serta merajut kembali rasa berkomunitas (sense of community) kepada masyarakat di Serambi Makkah, Aceh, yang traumatis akibat tragedi tsunami. Samsidar meyakini banyak perempuan diam bergeming dan berupaya mengubur pengalaman yang pahit berjuang mendapatkan hak-haknya sebagai pengungsi.
Samsidar berusaha untuk menghilangkan trauma yang ada pada kaum perempuan itu baik karena konflik ataupuan bencana. Untuk melakukan hal itu dia berusaha baik secara individu maupun kolektif. Samsidar membantu para perempuan untuk merancang solusi terhadap berbagai efek permasalahan agar tidak berlarut dan supaya mereka kembali pulih baik fisik maupun mental. Dia memulai dengan hal-hal yang sangat sensitive bagi perempuan, misalnya tentang tempat yang digunakan untuk pengungsian, sehingga menghidari dari kekerasan, pelecehan seksual, serta permasalahan perempuan lainnya
Wayan Patut
Bidang kegiatan : Lingkungan
Target kegiatan : Konservasi kerumbu karang,
Target Populations : komunitas nelayan
Lembaga : Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara
Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara di Sarangan Bali berhasil membangun konservasi terumbu karang di Pulau Serangan. Konservasi dilakukan dengan melakukan penanaman terumbu karang di laut sekitar Pulau Serangan. Pulau Serangan merupakan pulau kecil di sisi timur Pulau Bali, masih berada di wilayah administratif Kota Denpasar Bali. Sejak 1997, Pulau Serangan direklamasi hingga menyatu dengan Pulau Bali. Reklamasi juga memperluas wilayah Pulau Serangan dari hanya 112 hektar menjadi seluas 480 hektar. Program konservasi menurut Wayan Patut, dimulai pada 2003 dengan melakukan perbanyakan terumbu karang.
Wayan bersama kelompoknya menerapkan metode transpalantasi (stek,red) dalam konservasi. Dengan metode ini, terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.
Sedangkan untuk penggalian dana nelayan Serangan menjual soft coral yaitu jenis terumbu karang lunak yang hidup di antara terumbu karang keras dan tidak memberi manfaat signifikan bagi ekosistem serta terumbu karang buatan. Inisiatif warga melakukan konservasi tidak lepas dari proyek reklamasi besar-besaran yang dilakukan investor.
2005
Rinto Adriono
Bidang kegiatan : pendidikan masyarakat
Target kegiatan : partisipasi masyarakat untuk ikut mengawasi penggunaan anggaran pemerintah guna mencegah korupsi
Target populasi : komunitas, publik
Lembaga : IDEA (Institute of Development and Economic Analysis)
Rinto Adriano telah berhasi membangun partisipasi publik terhadap proses penganggaran di pemerintah daerah Kabupaten Bantul. Hasil kerjanya menjadi sangat penting sebab kini Indonesi telah memberlakukan otonomi daerah. Sistem pengangaran yang sebelumnya hanya menjadi wewenang pemerintah pusat namun kini menjadi wewenang pemerintah daerah. Melalui lembaga IDEA Rinto mulai menuangkan pemikirannya tentang pendidikan masyarakat soal anggaran dalam modul-modul. Modul inovatif inilah yang akhirnya direplikasi banyak kalangan dan diterapkan di daerah lain.
Ester Indahyani Jusuf
Bidang kegiatan : hak asasi manusia
Target kegiatan : toleransi / pluralisme
Target populasi : kaum minorotas
Lembaga : Solidaritas Nusa Bangsa (SNB)
Sebagai perempuan keturunan Tiong Hoa, Ester Indahyani Jusuf sebelumnya tidak menyadari bahwa kehidupan sehari-harinya sarat dengan diskriminasi. Dari hasil diskusinya dengan Arnold Purba akhirnya dirinya menyadari bahwa banyak tindakan diskriminasi yang dialaminya selama ini. Kemudian Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) ini memutuskan bergabung di lembaga bantuan hukum (LBH) Jakarta untuk memperjuangkan isu-iasu HAM. Hingga akhirnya dia mendirikan lembaga Solidaritas Nusa Bangsa (SNB). Perhatiannya dibidang HAM telah membuahkan hasil terciptanya kesadaran publik tentang bagaimana menghilangkan diskriminasi atas alasan apapun, termasuk atas alasan etnis. Ester adalah salah seorang yang mendorong direvisinya hukum dan regulasi tentang diskriminasi di Indonesia.
Ibe Karyanto
Bidang kegiatan : pendidikan
Target kegiatan : akses terhadap pendidikan
Target populasi : anak-anak, generasi muda
Lembaga : Sanggar Akar
Model yang dikembangkan yakni pusat pendidikan berbasis komunitas yakni Universitas Anak Sanggar Akar (USAA), Ibe Karyanto berhasil mengembangkan pendidikan alternatif bagi anak-anak kaum marjinal, terutama anak jalanan di Indoensia. Melalui sanggar Akar yang didirikan sejak 1994, Ibe mulai konsen bagaimana memberikan pengajaran ketrampilan terhadap anak-anak yang selama ini sering hidup di jalanan, dan mengamen di bus-bus kota. Meskipun tidak menyediakan sertifikat atau ijazah, namun USAA menyediakan 11 bidang pengajaran. Diantaranya, film, musik, kerajinan patung, membaca, puisi, penerbitan dan lainnya.
Daniel Marguari
Bidang kegiatan : kesehatan
Target kegiatan : peningkatan partisipasi warga terhadap penanggulangan HIV/AIDS
Target populasi : organisasi kemasyarakatan, komunitas
Lembaga : Sipiritia
Di Indonesia HIV/AIDs masih dianggap tabu, pengidap HIV/AIDS atau orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) masih sarat dengan perlakuan diskriminasi. Namun bagi Daniel Marguari, pihak yang paling mampu menghentikan penyakit mematikan ini adalah justru si ODHA sendiri. Melalui jaringan dan dukungan lembaga Spiritia mulailah dilakukan penguatan dan pengembangan Kelompok Penggagas di tingkat provinsi. Yakni melalui pembentukan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) di tingkat kota. Saat ini sudah terbentuk lebih dari 20 Kelompok Penggagas di 19 provinsi dan 133 KDS di 70 kabupaten atau kota di 29 provinsi. Melalui kelompok-kelompok inilah Daniel dan kawan-kawannya mampu mendukung lebih dari 4.000 ODHA, belum termasuk keluarga mereka. Adapun kelompok-kelompok ini dipimpin oleh ODHA.
Meity Mongdong
Bidang kegiatan : Lingkungan
Target Kegiatan : konservasi
Target populasi : pemerintahan dan masyarakat
Lembaga :
Meytiu melihat bahwa potensi masyakat dalam melakukan pemeliharaan kerap kali diabaikan. Namun dia bersama aktivis lain membangkitkan rasa percaya diri komunitas bahwa mereka bisa melakukan sendiri tanpa terlalu banyak suport dari luar sangat penting dilakukan. Ini merupakan sebuah langkah pemberdayaan. Masyarakat akan
Bersama Forum Petaupan Katouan Sulawesi Utara (FPK) lahir pada 1996 Maity melakukan pendampingan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Berbasis Masyarakat. Kesepakatan membentuk aliansi ini didasarkan pada niat untuk saling menguatkan sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Sejak didirikan partisipan FPK terus bertambah. Visi bersama FPK adalah menciptakan rasa aman masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam di kampung sendiri berdasarkan hak-hak rakyat yang diakui dan dihargai negara.
FPK telah berkegiatan bersama-sama masyarakat di kawasan penyangga Taman Nasional Bunaken. Ada dua program yang dilaksanakan yaitu Program Pengelolaan Sumber Daya Alam Kerakyatan (PSAK) dan Program Pendampingan Kelompok Masyarakat- Daerah Penyangga Taman Nasional Bunaken (PKM-DPTNB).
sumber : ashoka.org, berbagai sumber
kredit foto : Ashoka, berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment