Selasa, 24 Februari 2009

Gerakan Cinta Produk Dalam Negeri - Potret Buram Produk Lokal

Sunday, 22 February 2009
Produk lokal seringkali kalah bersaing dengan produk impor.Akibatnya,produk dalam negeri kurang dilirik masyarakat. Sebuah potret buram produk anak negeri.

Aneka ragam mainan anak-anak yang dijual murah seringkali dijumpai di jajaran pedagang kaki lima.Tiga jenis barang hanya dijual Rp10.000. Begitu dilihat secara cermat akan tampak pada bagian bawah produk, made in China. Kondisi ini makin menegaskan bahwa produk dalam negeri sudah kalah bersaing dibanding produk asal Negeri Tirai Bambu.

Jangankan untuk bersaing dengan produk sejenis (mainan) asal Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang, dan Korea, yang dikenal sangat berkualitas meski harganya mahal, untuk menghadapi serbuan produk China saja kita sudah kewalahan.Parahnya, tidak sedikit produk yang sebenarnya asli Indonesia diproduksi negara lain dan dijual kembali di Indonesia dengan harga lebih murah.

Produk ini membanjiri pasar Indonesia. Sebut saja kain batik asal China. Produk asli Indonesia itu bisa memberikan keuntungan kepada masyarakat lokal karena saat ini batik sedang tren di kalangan tua maupun muda.Namun,kain batik karya industri lokal semakin terjepit dengan membanjirnya kain batik impor dengan harga lebih murah dan kualitas yang tidak jauh berbeda.

Beredar kabar, kain batik impor itu masuk tidak melalui jalur resmi dan langsung diselundupkan ke pelabuhan-pelabuhan di daerah. Setelah ramai polemik tentang salah satu motif kain batik yang diklaim Malaysia beberapa waktu lalu,kini pasar Indonesia pun diambil alih produsen dari negara lain.

Selain batik,masih banyak karya anak negeri yang kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Namun, di era globalisasi di mana Indonesia juga turut menyepakati,kondisi tersebut tidak bisa disalahkan. Pasar bebas telah membuat batas-batas negara semakin terbuka.Berlaku hukum pasar,produk negara manapun bebas beredar di negara lain. Konse-kuensinya, produk yang berdaya saing akan bertahan.

Masyarakat pun semakin punya pilihan dan bebas memilih produk yang digemari dengan mempertimbangkan daya beli, kualitas, dan fungsinya.Melihat minimnya kesiapan industri di dalam negeri untuk bersaing semakin membuat miris. Lama-lama semua produk asli Indonesia dijual orang asing untuk kemudian menguasai pasar Indonesia. Meski demikian, tidak sedikit kalangan industri di dalam negeri yang masih mencoba tetap bertahan di tengah kondisi saat ini.

Tantangannya bukan hanya bersaing dengan produk impor, melainkan juga bagaimana agar selamat bertahan dari dampak krisis global saat ini. Salah satu produk inovatif karya anak negeri adalah di bidang automotif dengan produk sepeda motor merek Kanzen. Melalui bendera PT Inti Kanzen Motor (IKM), produk sepeda motor itu mencoba bertahan dengan mengambil ceruk pasar di antara produkproduk impor lainnya.

Direktur PT IKM Taufik Hidayat mengatakan, sudah hampir delapan tahun produk motor Kanzen diperkenalkan kepada publik, tapi market share-nya hanya 1% dari total pasar sepeda motor Indonesia yang mencapai angka sekitar 6 juta unit per tahun. Dari sisi harga, kualitas, dan inovasi lainnya, Kanzen bisa dibilang termasuk bersaing dibanding produk sejenis dengan merek impor.

Dengan demikian,produk dalam negeri seperti Kanzen akan sulit berkembang karena pertumbuhan penjualannya kurang menggembirakan. ”Untuk target penjualan 2009, kami belum bisa mengalkulasi apakah tumbuh atau tidak. Melihat dampak krisis global, produk sejenis merek impor saja beramai-ramai merevisitargetpertumbuhannya,” ujarnya kepada SINDO.

Meski demikian, Taufik menegaskan, Kanzen akan tetap bertahan meramaikan pasar industri automotif dalam negeri sebab pasar industri sepeda motor diprediksi akan semakin tumbuh seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di negeri ini.Apalagi bagi kota-kota besar seperti Jakarta,Bandung, Surabaya, sepeda motor merupakan sarana transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat di tengah kemacetan jalan yang semakin tidak teratasi.

Meski belum mampu bersaing dengan produk merek impor,Kanzen sebagai merek lokal akan berupaya mencapai target, termasuk mewujudkan rencana go public sebagian sahamnya untuk membuat kuda besi lokal ini lebih berdaya saing. Namun, banyak kalangan juga memprediksi pertumbuhan industri sepeda motor di dalam negeri pada 2009 bakal mengkerut hingga 30%. Dari angka 6,2 juta unit pada 2008 diperkirakan akan menjadi 4,5 juta unit pada 2009.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan bahkan sedang membayangi industri ini hingga angka 10.000 orang. Ini akibat dari penurunan utilisasi pabrikan. Wakil Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Siswanto Prawiroatmojo mengatakan, sekitar 5–10% dari total 100.000 tenaga kerja yang ada dalam seluruh lapisan industri sepeda motor nasional terancam kehilangan pekerjaannya akibat penurunan utilisasi tersebut.

Penyesuaian jumlah tenaga kerja perlu dilakukan pihak pabrikan guna menekan ongkos produksi seiring penurunan pasar.Penurunan produksi tersebut selanjutnya menimbulkan efek domino yang berdampak pada industri pendukung seperti industri komponen. ”Pasar meredup,pemutusan hubungan kerja tahun ini tetap akan terjadi meski tidak akan bersifat massal,”ujarnya di Jakarta (SINDO/2/2).

Akibat dampak krisis global saat ini, PT IKM telah melakukan pengurangan karyawan sekitar 120 orang di pabrik perakitan.Meski demikian, setelah masa dampak krisis global berakhir, bukan tidak mungkin industri ini akan tetap tumbuh seiring potensialnya pasar di Indonesia. Taufik Hidayat menyatakan pemberlakuan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2009 tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah merupakan angin segar.

Selama ini pemerintah selalu menggembar-gemborkan cinta produk dalam negeri tanpa memberikan contoh.Dengan penerbitan inpres ini, ada harapan produk dalam negeri bisa bangkit kembali dan menjadi raja di negeri sendiri meski dalam praktiknya masih harus dibuktikan. Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan regulasi yang mendorong tumbuhnya inovasi produk dalam negeri dalam Peraturan Pemerintah (PP) 35 Tahun 2007 tentang Insentif bagi Riset Dunia Usaha.

PP yang telah diterbitkan sejak pertengahan 2007 hingga saat ini masih terganjal belum adanya petunjuk pelaksanaan (juklak) untuk implementasinya. Padahal PP yang di dalamnya mengatur tentang berbagai insentif yang menguntungkan produk lokal itu akan menjadi tumpuan harapan tumbuhnya industri dalam negeri. Minimal produk-produk unggulan hasil karya anak negeri meraih kesempatan untuk lebih berdaya saing.

”Selama tiga tahun terakhir saja, kami telah mengajukan 30 paten dari produk inovatif yang telah kami temukan. Jika insentif-insentif dari pemerintah untuk membantu tumbuhnya industri lokal sudah dilaksanakan, kami punya kesempatan meningkatkan daya saing.Dengan demikian, produksi bisa dilakukan lebih massal sehingga menghasilkan harga yang jauh lebih bersaing ketimbang produk impor,”paparnya.

Jika produk-produk lokal sudah memiliki daya saing, lambat laun peran pemerintah untuk menumbuhkan industri akan berkurang sebab masyarakat sudah lebih bangga dan memilih menggunakan produk dalam negeri.

Masyarakat Taiwan bangga terhadap Kymco, SYM, dan lainnya.Kemudian masyarakat Jepang bangga dengan Honda, Suzuki,Yamaha.Masyarakat Malaysia bangga dengan Proton, Modenas, dan lainnya. Maka, tidak menutup kemungkinan nantinya masyarakat Indonesia juga akan bangga dengan produk dalam negerinya sendiri. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/215601/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment