Sunday, 22 February 2009
Di tengah membanjirnya produk impor dengan segala penawarannya justru masih ada sektor industri dalam negeri yang bisa eksis dan menjadi primadona pasar.
Persoalan klasik yang dihadapi produk dalam negeri dalam bersaing adalah kualitas. Selama ini kualitas produk lokal dianggap kalah bersaing.Seberapa mampu mereka meningkatkan kualitas produknya.
Setelah itu, bagaimana memberikan citra produk berkualitas lewat kemasan yang menarik. Inilah yang menjadi pekerjaan besar para pelaku usaha industri nasional. Setelah hambatan- hambatan bagi tumbuhnya industri dalam negeri teratasi, langkah selanjutnya adalah bagaimana menemukan selera pasar global yang beragam. Inilah salah satu kunci untuk menjadi pemain di tengah pasar bebas.
Meski ada yang menilai upaya pemerintah dalam meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sebagai langkah proteksi, gerakan cinta produk dalam negeri tidak bertentangan dengan globalisasi. Globalisasi justru memberikan ruang kepada industri lokal untuk tumbuh dan peluang go international semakin lebar.
Namun, produk yang ditawarkan harus memiliki daya saing dibanding produk impor sehingga setelah menjadi raja di negeri sendiri melakukan ekspansi ke luar negeri.
”Sejauh mana produk dalam negeri bisa menyaingi produk asing adalah bergantung bagaimana mereka bisa menemukan selera budaya populer. Amerika Serikat (AS) merupakan contoh paling pintar menemukan cara selera pasar internasional,” ungkap peneliti ekonomi Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Ronny Bishry kepada SINDO.
Di tengah membanjirnya produk impor dengan segala penawarannya justru masih ada sektor industri dalam negeri yang bisa eksis dan menjadi primadona pasar.Industri kreatif adalah contohnya.Menurut Ronny, beberapa perusahaan industri kreatif di Yogyakarta,Bandung,dan Bali telah membuktikan mampu bersaing dengan sejumlah branding impor.
Beberapa merek seperti Dagadu dari Yogyakarta, Distro (Distribution Store) dan C59 dari Bandung, dan Joger dari Bali bahkan telah berhasil memikat konsumen sehingga menjadi tren di kalangan anak muda. ”Di kalangan anak muda justru gerakan cinta produk dalam negeri sudah dimulai. Justru di kalangan orangtua yang masih bangga menggunakan produk impor dengan harga mahal,”ujarnya.
Keberhasilan menemukan selera pasar inilah yang seharusnya dikembangkan. Beberapa merek industri kreatif tersebut terbukti sangat digandrungi konsumen. Produk- produk tersebut bahkan telah menjadi ikon dan menjadi tujuan utama pembelian cenderamata ketika masyarakat berkunjung ke kota di mana industri itu berada. Sayang, kata Ronny, industri kreatif sifatnya sangat segmented.
Selain itu, biasanya harganya juga jual lebih mahal dari produk industri manufaktur biasa. Demi tetap merajai pasar lokal dan bertahan dari gempuran pasar global, formula yang membantu industri kreatif untuk tetap tumbuh harus ditemukan.
”Salah satunya dari sisi pencitraan. Industri kreatif selama ini lemah di sisi pencitraan atau branding karena biaya untuk promosi itu sangat mahal.Apalagi mereka biasanya berbentuk UKM. Untuk itulah perlu peran serta pemerintah. Seharusnya paket stimulus penyelamatan industri akibat dampak krisis menyertakan instrumen ini,”tandasnya. Selain industri kreatif,kata dia, Indonesia juga unggul di bidang industri makanan dan minuman serta agrobisnis.
Menurut dia, beberapa sektor yang bisa menjadi ciri khas Indonesia dan berpotensi merebut pasar internasional layak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bagaimanapun Indonesia sudah kecolongan dari sisi industri elektronik yakni produk telepon genggam dan sektor automotif (sepeda motor).
”Jumlah produk ponsel bisa melebihi jumlah penduduk sebab tidak jarang satu konsumen menggunakan ponsel lebih dari satu buah. Demikian juga dengan sepeda motor.Di Yogyakarta jumlah populasi sepeda motor dan jumlah penduduk itu hampir sama. Untuk itu, sektor-sektor kita yang sudah unggul jangan sampai kecolongan lagi,”paparnya. Peran pemerintah untuk membantu tumbuh kembangnya industri dalam negeri bisa dengan cara membantu pendanaan untuk membangun brand lokal.
Selain itu juga pengembangan kapasitas terhadap industri lokal yang potensial,namun kebanyakan berskala UKM. Terutama dalam standardisasi kualitas dan mutu produk. Selama ini produkproduk UKM terkenal tidak standar. Padahal untuk bersaing dengan produk asing di pasar global, standardisasi mutlak dilakukan. Pemerintah juga harus memberi dukungan agar industri-industri lokal yang potensial selalu berinovasi dan berkembang.
”Ini bukan bentuk dari proteksionisme, melainkan bagaimana kita mewujudkan gerakan cinta produk dalam negeri bukan hanya sekadar slogan. Kalangan perbankan juga sudah seharusnya membantu pembiayaannya,”tandasnya.
Sementara itu,Direktur PT Aseli Dagadu Djokdja Ahmad Noor Arief menyatakan, 10 tahun silam pihaknya sudah memprediksi industri kreatif bakal tumbuh dan booming sehingga saat itu ia bersama rekannya mencoba membentuk semacam roadmap industri kreatif yang akhirnya dijalankan sebagai bisnis dan kini berbuah kesuksesan.Keunikan desain Dagadu sangat diminati konsumen sehingga menjadi salah satu ikon Kota Yogyakarta.
Bukan hanya berbentuk kaos, produk merek Dagadu juga berbentuk topi, muk,gantungan kunci. ”Konsep kami dalam berbisnis sederhana saja yakni kami harus fokus pada keahlian kami yaitu desain.Sementara komponen-komponen lainnya seperti bahan baku kami serahkan kepada pihakpihak yang ahli di bidangnya,” kata Arief kepada SINDO. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/215598/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment