Selasa, 22 Juli 2008

Optimisme di Ujung Tanduk

Optimisme di Ujung Tanduk
Sunday, 20 July 2008
KALANGAN optimis menganggap masa depan ekonomi Indonesia cerah. Tidak demikian dengan kalangan yang realistis.Kelompok terakhir ini menilai sebaliknya: masa depan ekonomi Indonesia masih buram.

Setidaknya itulah yang digambarkan kolumnis kenamaan asal Inggris, Michael Backman dalam Asia Future Shock. Kritik pedas terhadap Indonesia dilontarkan oleh Backman.Salah satu bab buku tersebut bertajuk,”Do Indonesia have a future?” Backman menilai, akibat salah urus, Indonesia tidak memiliki masa depan ekonomi.

Ketidakpastian hukum dan korupsi masih merajalela hingga kini. Malah, baik kuantitas maupun kualitas korupsinya melebihi zaman pemerintahan rezim Orde Baru. Kondisi tidak menentu serta lambannya jalan reformasi mengakibatkan para investor asing mulai meninggalkan Indonesia. Bagi para Taipan dari seberang, Indonesia memang tidak seksi untuk investasi.

Selain itu, sumur-sumur tambang minyak yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia sudah mulai mengering dan diprediksikan 20 tahun lagi habis. Padahal, kebutuhan Indonesia akan minyak semakin meningkat. Jika pembenahan secara serius dan signifikan tidak segera dilakukan, prediksi Backman mungkin akan menjadi kenyataan.

Menurut Bruce Gale, pengamat masalah-masalah Indonesia yang juga manajer regional pada Political and Economic Risk Consultancy, harus ada garis tegas antara ekonomi dan politik. Gale menilai campur tangan politik dalam urusan ekonomi di negeri ini terlalu berlebihan. Gale juga melihat fakta bahwa lobi penguasa masih kental terjadi dalam upaya investasi.

Ini menunjukkan aroma kolusi,korupsi,dan nepotisme (KKN) masih mewarnai dunia bisnis di negeri ini.Akibatnya tak lain ekonomi biaya tinggi.Fakta ini didapatkan Gale dari perusahaan kliennya. Meski pernyataan Gale dilakukan pada saat wawancaranya dengan radio ABCpada 1996 silam,namun ramalan Backman dalam Asia Future Shock tentang Indonesia sungguh membuat banyak kalangan didalam negeri kecut.

Bagaimana tidak, banyak pihak sepakat kini Asia merupakan benua paling bersinar dan memiliki prospek masa depan cerah di dunia.Backman meramal China dan India yang telah mencapai pertumbuhan ekonomi cukup fantastis, akan mengalami mimpi buruk tentang masalah ketenagakerjaan. Selain itu Backman juga memprediksi akan terjadi ketidakseimbangan gender di Asia akibat budaya patriarki yang masih kental.

Batasan geografis di Asia ke depan tidak akan menghalangi kerja sama antarnegara di dalamnya.Vietnam pun diramal bakal menjadi China baru, sedang Myanmar yang hingga saat ini masih dalam masa konflik rezim junta militer diramalkan akan menjadi Vietnambaru.Ironinya,Indonesiayang telah melalui fase reformasi sejak 10 tahun silam, ternyata masa depannya masih suram. Pesimisme terhadap Indonesia yang diungkapkan Backman bisa jadi ada benarnya.

Dia realistis memandang negeri dengan KKN yang masih demikian kental ini. Untuk itulah tugas Komisi Pemberantasan Korupsi demikian berat, atau mereka akan sangat panen kasus. Pengamat ekonomi Umar Juworo dari Centre for Information And Development Studies (Cides) menilai, meski upaya perbaikan telah gencar dilakukan pemerintah namun konsistensi penerapan kebijakan masih jauh dari kenyataan.

Antara lain dimunculkannya kembali negative list investasi. Ini membuat kebijakan menjadi tidak konsisten, sehingga dunia usaha dalam negeri menjadi kalang kabut untuk memenuhinya. Meski saat ini belum akan menjadi negara paling favorit untuk berbisnis, namun tidak semua berita buruk. Laporan ekonomi kuartal I 2008 ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi positif.

Pengamat ekonomi C Harinowo mengungkapkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat tinggi. Ini masih didukung dengan prediksi Bank Indonesia tentang pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,2% pada 2008. Kondisi positif ini sebagai berkah konsumsi dan investasi yang mendorong perekonomian domestik dengan pengembangan sumber daya alam sehingga mendorong pertumbuhan angka ekspor.

Dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2007 diungkapkan, pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang berjumlah 225 juta mencapai USD1.946.Kemudian 10% di antaranya memiliki pendapatan per kapita USD6.000.Padahal sebelum krisis moneter pendapatan per kapita hanya sebesar USD1.100.

Berikutnya, PDB nominal 2007 yang terus meningkat sejak 2005 di atas 15% berarti pertumbuhan ekonomi semakin sehat. Dengan demikian, masa depan ekonomi Indonesia akan cerah. Optimisme itu berbanding terbalik dengan ramalan Backman. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/optimisme-di-ujung-tanduk-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment