Saatnya Reformasi Parpol
Saturday, 19 July 2008
Reformasi partai politik (parpol).Aksi inilah yang tampaknya belum sepenuhnya berjalan.Sebab,setelah 10 tahun agenda reformasi digulirkan,berbagai institusi sudah mulai berbenah.
Sebut saja TNI yang harus menjalankan aksi kembali ke barak.TNI tak lagi diperbolehkan bermain di medan politik praktis. Sementara parpol tampaknya terlalu nyaman dengan reformasi sehingga melupakan esensi perubahan itu sendiri, bahwa parpol juga menjadi bagian yang harus direformasi. Bukan bermaksud menjadi penganut Machiaviallianisme, tapi parpol yang sejatinya menjadi saluran aspirasi dan memberikan pendidikan politik kepada rakyat ternyata lebih memikirkan kue kekuasaan.
Sejatinya,dalam Il Principe,Niccolo Bernardo dei Machiavelli tidak serta-merta membenarkan tindakan menghalalkan segala cara agar meraih kekuasaan. Diplomat Italia yang hidup pada abad ke-15 itu lebih mendeskripsikan teori tentang seni seorang penguasa dalam mengendalikan kekuasaannya.Maka,seorang membutuhkan strategi jitu dan kehati-hatian dalam menjalankan kekuasaannya.
Machiavelli juga tidak serta-merta menghilangkan aspek moralitas dalam politik.Seperti kriteria kebijakan tidak populer yang bisa diterima,di antaranya harus cepat, efektif,dan pendek.Penggagas teori politik realis ini juga tidak melupakan ironi antara fakta dengan aksi kejahatan. Namun,cap sebagai penyebar ajaran politik setan telanjur melekat pada Machiavelli.Sebab,ajaran-ajarannya ternyata menjadi ilham segelintir orang yang haus akan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
Untuk menjalankan kekuasaan secara demokratis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama tiga dasawarsa Indonesia dibelenggu kekuasaan eksekutif yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kediktatoran.Kini kekuasaan cenderung berada di tangan parlemen (legislatif).Tapi,lagi-lagi berlebihan,justru parpol yang kini terkesan membelenggu kekuasaan eksekutif.
Hal inilah yang mendorong perlunya reformasi parpol. Mantan Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan Kolektif Nasional Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) Laksamana Sukardi menilai reformasi Senayan sudah tidak bisa ditawar.Meskipun sudah lama pemerintah Indonesia mengklaim dirinya sebagai negara penganut demokrasi,faktanya perjalanan demokrasi masih panjang.
”Peran parpol yang kebablasan itu feodal.Sebab,feodal itu antitesis demokrasi,bahkan membunuh demokrasi. Jadi,semua seolah-olah ada demokrasi,tetapi faktanya tidak,”paparnya. Menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja parpol ini mulai mengerucut.Ini karena publik sudah telanjur menganggap kinerja partai buruk.
Senayan (DPR) lebih tampak seperti tempat pementasan drama perebutan kekuasaan,bukan untuk tempat mediasi rakyat dengan pemerintah.Ini karena DPR secara konstitusional memiliki wewenang layaknya seorang dewa. Tidak hanya pembuat undang-undang,pengesahan anggaran,dan pengawasan.Bahkan,tidak jarang oknum DPR ikut terlibat sebagai pelaksana sehingga merebut lahan eksekutif.
Penangkapan beberapa oknum anggota DPR akibat tersangkut kasus korupsi pelaksanaan beberapa proyek akhir-akhir ini adalah sedikit fakta dari panjangnya daftar buruk wajah parpol di negeri ini.Untuk itulah, tidak mengherankan jika desakan gerakan reformasi Senayan semakin kuat. Pengamat Politik Universitas Paramadina Bima Arya menilai akan ada waktunya nanti parpol semakin terpojok dan mau tidak mau mereformasi dirinya.
Syaratnya, catatan kristalisasi penolakan terhadap kinerja parpol semakin menguat.Satu-satunya kekuatan yang bisa mewujudkan hal ini adalah rakyat.Sebab,negara demokrasi memang mensyaratkan rakyat sebagai penguasa tertinggi. Parpol yang seharusnya menjadi representasi suara rakyat justru memberikan hasil kinerja mengecewakan.Belum lagi biaya politik yang harus dibayar selama ini.
Apalagi,kata Bima,sekitar 75–85% parpol baru yang lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum adalah partai jadi-jadian.Artinya,partai didirikan bukan murni untuk memperjuangkan kepentingan konstituen pemilihnya, melainkan aroma ”dagang sapi”yang masih kental.Jika awalnya saja sudah demikian,tidak mengherankan setelah meraih kekuasaan,parpol tidak akan lebih dari sekadar memperjuangkan kepentingannya sendiri ketimbang memikirkan nasib rakyat. (abdulmalik/islahuddin/faizin aslam).
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/saatnya-reformasi-parpol-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment