Selasa, 22 Juli 2008

Yang Sulit Merayu Rakyat

Yang Sulit Merayu Rakyat
Saturday, 19 July 2008
Meskipun tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja partai politik semakin menurun.Namun, perhelatan Pemilu 2009 justru didominasi parpol baru.


Suara mengambang jadi incaran. Prediksi sebagian kalangan bahwa masyarakat semakin apatis terhadap pemilu ternyata tidak menyurutkan langkah politikus untuk membidani lahirnya sebuah partai.Apapun tendensi dan tujuannya, upaya untuk mewarnai demokrasi di negeri ini patut mendapatkan apresiasi. Perjalanan panjang demokrasi di Indonesia masih belum berakhir. Jumlah parpol peserta pemilu pun naik-turun.

Jika pada 1955 silam, pemilu diikuti 172 kontestan parpol dan perorangan.Empat partai terbesar di antaranya adalah PNI yang meraih suara 22,3 %, Masyumi (20,9%), Nahdlatul Ulama (18,4%),dan Partai Komunis Indonesia (15,4%).

Namun kemudian pada 1971, jumlah parpol peserta pemilu menurun drastis hanya tinggal 10 kontestan, di antaranya,Partai Katolik,Partai Syarikat Islam Indonesia,Partai Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia, Golongan Karya, Partai Kristen Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak, Partai Nasional Indonesia, Partai Islam PERTI,serta Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia. Selama lebih dari 30 tahun rezim Orde Baru berkuasa, selama periode 1977–1997, partai-partai bergabung hanya menjadi tiga partai yang menjadi kontestan pemilu, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar),dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Kemudian, saluran reformasi dibuka pada 1999,kembali jumlah parpol kontestan pemilu ”membeludak” menjadi 48 parpol. Banyak kalangan menilai, fenomena ini diakibatkan terjadinya euforia setelah selama lebih dari tiga dekade kebebasan berpendapat dan berpolitik dikebiri rezim penguasa. Hingga akhirnya pada 2004, jumlah parpol peserta pemilu menurun menjadi 24 parpol. Awal Juli 2008 ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan 34 parpol peserta pemilu.

Cukup mengejutkan karena selain jumlahnya meningkat, 18 di antaranya merupakan parpol baru. Selain itu, meningkatnya fenomena golput ternyata tidak mengurungkan niat para politisi untuk mendirikan sebuah partai. Sebagian kalangan melihat fenomena ini tidak lebih dari politik ”dagang sapi” para politisi. Membentuk sebuah partai baru meskipun tidak secara signifikan memperoleh suara namun bisa dijual kepada calon perorangan yang ingin menjadi presiden atau calon legislatif.

Sementara di sisi lain,membangun sebuah partai menjadi besar biayanya memang tidak murah. Ini masih ditambah sebanyak sembilan parpol lagi yang sebelumnya tidak lolos verifikasi faktual KPU,namun kemudian pada (10/7) permohonan judicial review dikabulkan Mahkamah Konstitusi (MK). Meskipun KPU mengumumkan jumlah peserta pemilu tetap 34 partai, putusan MK tersebut membuat sembilan partai gurem secara otomatis menjadi peserta Pemilu 2009.

Ini menunjukkan antusiasme pembentukan partai baru masih sangat menjanjikan bagi para politisi. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) misalnya.Partai yang dibidani Mantan Panglima TNI, Wiranto ini demikian optimistis bakal raih banyak suara. Keoptimisan ini memang beralasan.Sebab,menurut Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazir, sebagai partaibaruHanuradiklaimtelahmasuk dalam jajaran lima besar parpol di Indonesia berdasarkan beberapa hasil survei.

Prestasi ini tentu sungguh menjanjikan jika partai yang mengantongi nomor urut satu itu memang benarbenar mampu mewujudkan targetnya pada kontes Pemilu 2009 nanti. ”Target kami masih belum final. Namun dari start saja kita sudah masuk lima besar.Ini menandakan potensi yang sangat besar bisa mengalahkan partai-partai lama,”paparnya. Bahkan secara terbuka Fuad mengakui, Hanura merupakan wadah bagi para kader Golkar dan partai lainnya yang kecewa dengan kinerja partai lama.

Fuad begitu optimistis dengan mencitrakan tentang gelora perubahan yang diusung Hanura akan meraih simpati masa. ”Kami ingin rakyat mendapatkan kemerdekaannya kembali. Kami ingin pupuk harganya murah, sekolah harus gratis dari SD hingga SMA,dan lainnya,”tandasnya. Memang tidak ada kecap nomor dua.Semua parpol akan menyatakan diri sebagai yang terdepan dan paling layak untuk dipilih masyarakat.

Tidak berbeda dengan Hanura, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) juga sebagian besar pengurusnya merupakan kader pecahan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).Koordinator Pimpinan Kolektif Nasional PDP Laksamana Sukardi menyatakan pihaknya menawarkan pembaharuan kepada masyarakat.

Selain agenda reformasi parpol yang wajib diwujudkan, partai berlambang ilustrasi kepala banteng dengan dominasi bendera warna merah ini juga menawarkan konsep baru di tubuh internal PDP. ”Di PDP tidak ada kekuatan di tangan satu orang. kebijakan strategis ditentukan oleh pimpinan kolektif secara demokratis.Sistem ini diterapkan dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kota sampai desa,”jelasnya.

Baik Hanura, PDP, atau belasan parpol-parpol lain tidak hanya mengandalkan suara dari kader yang dulunya merupakan pendukung di partai lama. Namun juga Fuad dan Laksamana mengakui potensi massa mengambang (swing voters) yang cukup signifikan.Angka golput yang diprediksikan mencapai lebih dari 24% tidak bisa disia-siakan.

Dengan tawaran pembaruan, partai-partai baru seperti Hanura dan PDP berharap meraih suara signifikan.Laksamana menargetkan partainya akan mendulang suara 15%.Sebab,agenda reformasi parpol yang dicanangkannya tidak akan terlaksana, jika perolehan suara minim. Untuk itu,PDP memang akan sangat gencar untuk menarik simpati masa tidak hanya suara mengambang namun juga merebut potensi suara golput.

Sementara itu, pengamat politik Arbi Sanit menilai hadirnya parpolparpol baru ini tidak akan serta-merta mengobati kekecewaan masyarakat terhadap kinerja partai selama ini. Sehingga dia memprediksi, jumlah golput masih akan tetap meningkat. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan jika parpol-parpol baru ini mampu mengobati kerinduan masyarakat akan hadirnya pemimpin yang prorakyat,maka bisa jadi simpati masa yang sebelumnya apatis itu akan diperoleh.”

Bagaimana mereka menjalankan demokrasi, bagaimana mereka memperjuangkan hak-hak rakyat, itulahyangjadipenentunya,”paparnya. Tetapi sejak reformasi bergulir, rakyat sudah semakin cerdas untuk tidak memilih kucing dalam karung. Tingginya angka golput menjadi bukti makin tingginya tingkat kecerdasan politik rakyat. Artinya, parpol harus punya cara jitu untuk merayu rakyat. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/yang-sulit-merayu-rakyat-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment