Selasa, 12 Januari 2010

Potensi Maritim Indonesia - Raksasa yang Masih Tidur

Saturday, 09 January 2010
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia belum mampu memberdayakan potensi ekonomi kelautan.Negeri ini belum mampu mentransformasikan sumber kekayaan laut menjadi sumber kemajuan dan kemakmuran bangsa.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi ekonomi maritim cukup besar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km2 dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km2. Selain itu, terdapat 17.840 pulau di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 95.181 km. Dengan cakupan yang demikian besar dan luas, tentu saja maritim Indonesia mengandung keanekaragaman alam laut yang potensial, baik hayati dan nonhayati.

Sehingga, sudah seharusnya sektor kelautan dijadikan sebagai penunjang perekonomian negara ini. Berdasarkan catatan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP),sumbangan sektor perikanan terhadap produk domestik bruto (PDB) memiliki peranan strategis. Terutama dibandingkan sektor lain dalam sektor perikanan maupun PDB nasional.Pada 2008 tercatat PDB pada subsektor perikanan mencapai angka Rp136,43 triliun. Nilai ini memberikan kontribusi terhadap PDB kelompok pertanian menjadi sekitar 19,13% atau kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 2,75%.

Hingga triwulan ke III 2009 PDB perikanan mencapai Rp128,8 triliun atau memberikan kontribusi 3,36% terhadap PDB tanpa migas dan 3,12% terhadap PDB nasional. Secara rinci, sektor perikanan berada di urutan ke-2 dalam hal sumbangan terhadap PDB kelompok pertanian.Pada 2008 total PDB kelompok pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan mencapai angka Rp713,291 triliun. Di antaranya, tanaman bahan makanan sebesar Rp347,841 triliun, perikanan Rp136,435 triliun, tanaman perkebunan Rp106,186 triliun, peternakan Rp82,835 triliun, dan kehutanan Rp32,942 triliun. Kemudian hingga triwulan III 2009, PDB kelompok pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp654,664 triliun.

Dengan rincian, tanaman bahan makanan Rp331,955 triliun, perikanan Rp128,808 triliun, tanaman perkebunan Rp84,936 triliun, peternakan Rp76,022 triliun, dan kehutanan Rp128,808 triliun. Dari jenis sektor dalam kelompok pertanian,perikanan yang memiliki kenaikan rata-rata tertinggi sejak tahun 2004–2008 sebesar 27,06%.Kemudian sektor tanaman bahan makanan 20,66%, tanaman perkebunan 21,22%, peternakan 19,87%,dan kehutanan 18,81%. Sumbangan PDB perikanan terhadap PDB kelompok pertanian dan PDB total dari tahun ke tahun pun mengalami peningkatan. Yakni, sumbangan perikanan terhadap PDB perikanan pada 2004 sebesar 16,11%, 2005 (16,38%), 2006 (17,16%),2007 (18,04%),2008 (19,13%), dan hingga triwulan III 2009 (19,68%).

Kemudian sumbangan perikanan terhadap PDB total pada 2004 sebesar 2,31%, 2005 (2,15%), 2006 (2,23%), 2007 (2,47%), 2008 (2,75%), dan hingga triwulan III 2009 (3,12%). Bagaimanapun, catatan- catatan ini semakin menguatkan anggapan bahwa sektor kelautan sangat potensial dikembangkan sebagai penunjang ekonomi nasional.Tentu saja, sektor kelautan tidak hanya menghasilkan produk perikanan. “Laju pertumbuhan kontribusi PDB perikanan terhadap PDB pertanian rata-rata meningkat 5% per tahun dan terhadap PDB nasional tanpa migas 11% per tahun sejak 2005,”ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di Jakarta pekan ini.

Sementara berdasarkan catatan Dewan Kelautan Indonesia (Dekin), potensi ekonomi maritim terbagi dalam beberapa indikator. Dalam laporan potensi ekonomi maritim, Dekin memaparkan sektor kelautan memiliki potensi mulai dari sumber daya perikanan tangkap, budi daya, dan pengolahan perikanan. Kemudian potensi sumber daya pertambangan dan energi lepas pantai yang di dalamnya termasuk potensi minyak dan gas,potensi mineral lepas pantai, potensi energi laut, serta potensi perhubungan laut, yang di dalamnya termasuk untuk transportasi maupun wisata bahari.

Berdasarkan perhitungan berbagai lembaga dan para pakar,kelautan memiliki potensi ekonomi sebesar USD82 miliar per tahun apabila dikelola secara optimal. Ini meliputi perikanan tangkap sebesar USD15,1 miliar per tahun, potensi budi daya laut USD46,7 miliar per tahun, potensi perairan umum USD1,1 miliar per tahun, potensi budi daya tambak USD10 miliar per tahun, potensi budi daya air tawar USD5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar USD4 miliar per tahun. Sementara, menurut Pendiri Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri, potensi ekonomi kelautan Indonesia bisa mencapai USD800 miliar atau sekitar Rp7.600 triliun dari 11 subsektor kelautan.

Dalam artikelnya “Hari Nusantara bagi Kemajuan dan Kemakmuran Bangsa”, Rokhmin menyatakan, selain peran geopolitik, laut juga memiliki peran geoekonomi yang sangat vital bagi kemakmuran bangsa Indonesia dalam 11 sektor ekonomi. Di antaranya, perikanan tangkap, perikanan budi daya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi laut, kehutanan, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil,industri dan jasa maritim, serta sumber daya alam nonkonvensional.

“Potensi total nilai ekonomi kesebelas sektor kelautan tersebut per tahunnya diperkirakan lebih dari tujuh kali lipat APBN 2009 dan satu setengah kali PDB saat ini,” ujarnya sebagaimana dipublikasi harian Seputar Indonesia(09/12/09). Menurut Rokhmin, angka estimasi potensi ekonomi maritim tersebut bisa mendatangkan kesempatan kerja mencapai 30 juta orang. Sungguh bukan jumlah kecil.Apalagi ekonomi kelautan dinilai semakin strategis bagi Indonesia seiring pergeseran pusat ekonomi dunia dari poros Atlantik ke Asia Pasifik. Buktinya, saat ini 70% perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia Pasifik.

Sekitar 75% dari seluruh produk dan komoditas yang diperdagangkan di kawasan ini ditransportasikan melalui laut Indonesia dengan nilai sekitar USD1.300 triliun per tahun. “Sayang potensi ekonomi kelautan yang sangat besar itu ibarat raksasa yang tertidur,belum dapat kita transformasikan menjadi sumber kemajuan dan kemakmuran bangsa. Itu karena kita tidak serius dan profesional dalam mendayagunakan sumber daya kelautan,”ujarnya. (abdul malik/islahuddin).

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/296345/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment