Selasa, 12 Januari 2010

FTA ASEAN - China - Bersaing dengan sang Naga

Sunday, 10 January 2010
Banyak orang mengibaratkan,bersaing dengan China bagaikan bersaing dengan saudara tua.Mampukah negara-negara berkembang di ASEAN bersanding sejajar dengan sang Naga?

Pakta perdagangan bebas ASEAN-China (ASEANChina Free Trade Agreement/ ACFTA) sudah diberlakukan per 1 Januari 2010. Bagi sebagian negara berkembang di ASEAN, bersaing melawan China bak melawan raksasa. Wajar sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia, China telah mampu mencatatkan pertumbuhan ekonominya dengan sangat mengesankan dalam beberapa tahun terakhir.

Hitung untung rugi, tidak sedikit pihak yang pesimistis akan keberhasilan pakta ini dalam menyejahterakan warga masyarakat di kawasan. Sebagai gambaran,di antara 10 negara anggota ASEAN tidak ada satu pun yang produk domestik bruto (PDB)-nya mampu menyaingi China. Rinciannya, untuk angka PDB-nya tertinggi adalah China yang berdasarkan estimasi IMF pada 2008, mencatat USD4.327,4 miliar.

Kemudian disusul Indonesia dengan PDB 2008 sebesar USD511,8 miliar,Thailand berada di urutan berikutnya dengan PDB nominal sebesar USD273,3 miliar, PDB Malaysia USD221,6 miliar, PDB Singapura USD181,9 miliar, PDB Filipina USD166,9 miliar,PDB Vietnam USD89,8 miliar, PDB Myanmar USD26,2 miliar, PDB Brunei Darussalam USD19,7 miliar, dan PDB Laos USD5,4 miliar.

Dari jumlah penduduk, China juga tertinggi sehingga memiliki pasar domestik terbesar bahkan di dunia. Jumlah penduduk China pada 2009 diestimasikan sebanyak 1,33 miliar jiwa.Kemudian disusul Indonesia sebanyak 273 juta jiwa pada 2008. Selanjutnya Filipina 92,2 juta jiwa (2007),Vietnam 88 juta jiwa (2008),Thailand 63,3 juta jiwa (2003), Myanmar 50 juta jiwa (2008), Malaysia 28,2 juta jiwa (2008), Kamboja 13,3 juta jiwa (2008), Laos 6,3 juta jiwa (2008), Singapura 4,8 juta jiwa (2007),dan Brunei Darussalam 19,7 juta jiwa (2008).

Dari sisi geografis, China memiliki wilayah terluas yaitu 9,64 juta km2,disusul Indonesia 1,9 juta km2,Myanmar 676.578 km2,Thailand 513.115 km2,Vietnam 331.690 km2, Malaysia 329.847 km2, Filipina 300.000 km2,Laos 236.800 km2,Kamboja 181.035 km2,Brunei Darussalam 5.765 km2, dan Singapura 707 km2. FTAyang sudah ditandatangani pada 4 November 2002 di Phnom Penh,Kamboja adalah agar 11 negara tersebut membentuk zona perdagangan bebas di kawasan pada 1 Januari 2010.

FTAadalah area perdagangan bebas dengan jumlah populasi terbesar di dunia dan terbesar ketiga dari sisi PDB nominal di dunia di antara zona serupa. Diestimasikan gabungan ASEAN-China menghasilkan angka total PDB nominal sebesar USD6 triliun. Berdasarkan kerangka perjanjian kerja sama komprehensif antara ASEAN dan China (TIS Agreement), sektor industri di negara-negara kawasan akan mendapatkan akses pasar yang lebih luas.

Secara ambisius bisa dikatakan bahwa perdagangan dan jasa di kawasan akan mampu berekspansi dan tumbuh secara lintas batas di antaranya persediaan yang lintas batas, tingkat konsumsi lintas negara, perdagangan lintas batas, serta pergerakan tenaga kerja di antara negara anggota.

Ada beberapa sektor yang didorong untuk bisa tumbuh di antara negara-negara di kawasan di antaranya bisnis jasa seperti komputer, real estat, riset pasar, konsultan manajemen,konstruksi dan rekayasa (engineering), pariwisata, transportasi, pendidikan, telekomunikasi, jasa kesehatan, rekreasi,budaya,jasa olahraga,jasa lingkungan,dan jasa perminyakan. Indonesia yang diestimasikan memiliki jumlah 40% dari total populasi di kawasan tampaknya masih belum siap mengimplementasi ACFTA.

Selama beberapa hari terakhir pemerintah mengumumkan akan menegosiasi ulang tarif pada 228 kategori produk sehingga Indonesia hanya akan mengimplementasikan 153 kategori. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, tahun 2010 ini ada 1.597 pos tarif yang diturunkan bea masuknya menjadi 0%. Meski demikian, pemerintah akan tetap merespons desakan banyak kalangan terutama pelaku usaha agar dilakukan negosiasi ulang terhadap 228 pos tarif.

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan, pemerintah telah mengirimkan notifikasi kepada ASEAN Council untuk meminta penjadwalan perundingan modifikasi tarif dalam FTA.Perundingan ini akan dilakukan tim dari Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian,Kementrian Ekonomi, Depkeu, dan perwakilan swasta. Tim tersebut akan memperjuangkan penundaan implementasi FTA untuk 228 pos tarif hingga 2012.

Sebagai kompensasi, kata Hidayat, Indonesia telah menyiapkan 153 pos tarif yang akan dimajukan penerapannya tahun ini. “Ada kompensasinya yang kita relakan di sektor yang sudah mapan. Karena tidak ada yang gratis,”kata Hidayat di Jakarta pekan kemarin. Sebagaimana negara-negara berkembang lain di kawasan, Indonesia tentu khawatir tidak akan mampu bersaing dengan negaranegara lain dalam implementasi zona perdagangan bebas. Salah satu yang menjadi kekhawatiran utama adalah ketika Indonesia bersaing dengan China.

Sementara sebelum diberlakukan FTA, pasar Indonesia banyak dibanjiri produk China dengan harga lebih murah dibandingkan produk lokal untuk kategori sejenis.Wajar jika banyak pihak khawatir setelah FTA diberlakukan. Produk lokal akan kalah bersaing di negeri sendiri dan semakin tersingkirkan.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China per November 2009 sebesar USD872,2 juta untuk komoditas nonmigas. Sementara negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari– November 2009 masih ditempati oleh China dengan nilai USD12,01 miliar dengan pangsa 17,24% dari total pasar di Indonesia. (abdul malik/islahuddin)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/296536/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment