| Sunday, 10 January 2010 | |
| CHINA dan 10 negara ASEAN mengumumkan pakta perdagangan bebas yang mulai berlaku 1 Januari 2010. Langkah ini telah menciptakan blok ekonomi baru dengan populasi sebesar 1,9 miliar jiwa dan nilai perdagangan sebesar USD200 miliar. China menilai perjanjian tersebut sebagai cara untuk mengamankan persediaan material bahan baku, sementara beberapa negara di ASEAN––mulai Singapura yang merupakan negara maju hingga Laos sebagai negara berkembang––melihat China sebagai potensi pasar yang cukup besar. Beberapa fakta penting terkait pakta perdagangan ASEAN–China: SEJARAH China dan ASEAN menandatangani pakta perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) pada November 2002. Beberapa pos tarif telah dikurangi sejak 2005 dan pakta dalam bidang produk konsumsi dan jasa telah disepakati pada 2007. Sementara kesepakatan dalam hal investasi telah selesai pada Agustus 2009. TARIF Tarif pada 90% produk konsumsi perdagangan dengan China akan dikurangi pada 2010 bagi Indonesia, Brunei, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Sedangkan Laos, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar pada 2015. Sementara 10% sisanya termasuk pada produk tekstil, beberapa produk elektronik yang merupakan isu cukup sensitif, tarifnya akan diturunkan secara perlahan. Pejabat Pemerintah China mengatakan, FTA yang sudah diimplementasikan secara penuh akan mewujudkan tarif 0% pada sekitar 7.000 kategori produk konsumsi. JASA Akses istimewa akan diberikan pada perusahaan-perusahaan dari ASEAN ke pasar China dan demikian juga sebaliknya untuk industri kategori bisnis jasa dan pariwisata. PERDAGANGAN Perdagangan China-ASEAN ditargetkan mencapai USD200 miliar pada 2010 dari USD192,6 miliar pada 2008 dan USD113 miliar pada 2005. Ini akan membuat zona perdagangan bebas ASEAN-China menjadi kawasan terbesar ketiga dari sisi volume setelah Uni Eropa dan Amerika Utara. JUMLAH PENDUDUK Diestimasikan sebanyak 560 juta jiwa di ASEAN dan 1,3 miliar di China, yang merupakan zona perdagangan bebas dengan populasi pasar terbesar di dunia. PEMENANG DAN PECUNDANG ASEAN mengharapkan mampu mendapatkan keuntungan dari peningkatan ekspor bahan baku ke China, namun konsumen produk konsumsi di ASEAN bisa menggandrungi produk China yang harganya lebih murah. Sektor makanan dan minuman, produk kosmetik dan perhiasan di negara seperti Thailand diharapkan akan mendapatkan keuntungan dari permintaan pasar yang lebih tinggi dari China. Perusahaan-perusahaan di negara-negara ASEAN juga mendapatkan manfaat karena mendapatkan bahan baku atau bahan jadi produk konsumsi China. Sebagai contoh perusahaan garmen sekarang bisa mengakses bahan baku yang lebih murah. Perusahaan manufaktur seperti tekstil, alas kaki, dan baja di negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Indonesia akan menjadi rentan dengan impor produk China yang harganya lebih murah. Indonesia sebelumnya menyatakan akan mengupayakan penundaan implementasi pakta perdagangan bebas tersebut. Namun, kini Indonesia akan kembali mereviu agar dilakukan penundaan terhadap 228 tarif dalam beberapa sektor seperti baja, elektronik, dan bahan kimia. Sumber: Reuters, ASEAN, China News Service http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/296535/ |
Selasa, 12 Januari 2010
Fact Sheet FTA ASEAN - China
Zona Perdagangan Bebas Terbesar Ketiga di Dunia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment