| Sunday, 10 January 2010 | |
| Pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA ASEAN-China) per 1 Januari 2010 menuai prokontra. Sebagian kalangan khawatir karena menghitung untung rugi,sebagian lagi menilai FTAbisa memberikan harapan. Ketika dentang jam menunjukkan pukul 12.00 dini hari pada 31 Desember 2009 lalu, berarti saat itulah mulai berlakunya pakta perdagangan bebas ASEAN-China.Semua negaranegara anggota ASEAN harus mematuhi perjanjian yang sudah ditandatangani 5 November 2002 itu. Sebagian kalangan khawatir, ditabuhnya genderang perdagangan bebas hanya akan berubah menjadi “lonceng kematian” bagi sebagian negara-negara anggota ASEAN. Namun, sebagian lainnya menganggap, perdagangan bebas ASEAN-China memberikan harapan baru bagi kemakmuran masyarakat Asia Tenggara. Apalagi banyak pakar menyatakan, dari 10 negara anggota ASEAN kinerja perdagangannya tidak ada yang bisa mengalahkan China. Amerika Serikat (AS) sendiri kewalahan menghadapi membanjirnya produk-produk China yang terkenal murah. Bagaimanapun target dari pembangunan komunitas ASEAN pada tahun 2015 tetap harus dijalankan sesuai tahap-tahapnya.Apalagi kini mulai marak dibicarakan mengenai kemungkin membuat mata uang tunggal Asia sebagaimana yang dilakukan negara-negara Eropa dengan mata uang euro. Artinya, konsekuensi dari globalisasi,tidak bisa dielakkan salah satunya melalui perdagangan bebas. Bagaimanapun harus diakui, kinerja perdagangan antara ASEAN dengan China mengalami peningkatan secara signifikan. Menurut catatan New York Times (31/12/09),angka perdangangan 10 negara anggota ASEAN dengan China mencapai USD192,5 miliar pada 2008 dari hanya USD59,6 miliar pada 2003. Dengan zona perdagangan bebas ASEAN-China yang memberlakukan tarif 0%, maka angka perdagangan akan meningkat lebih tinggi lagi. Namun, beberapa perusahaan di negara-negara ASEAN khawatir kalah bersaing dengan produk-produk China yang membanjiri pasar dengan harga murah. Dengan penghilangan biaya tarif, maka industri di negara-negara ASEAN akan semakin sulit bersaing dengan produk asal China.Tahun ini, China dan enam anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam) harus menghapus hampir semua tarif. Sementara beberapa negara lainnya, seperti Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam secara bertahap juga akan memberlakukan hal yang sama pada tahun 2015. Kebanyakan tarif bea untuk produk konsumsi akan dihapus Januari 2010, termasuk beberapa item produk manufaktur yang selama ini memberlakukan tarif 5%. Beberapa produk pertanian dan suku cadang automotif serta alat berat masih memberlakukan tarif pada 2010 ini. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadi mitra dagang utama ASEAN.Sayangnya, hampir semua negara ASEAN menunjukkan catatan perdagangan yang tidak seimbang dengan China. Singapura dan Malaysia mencatat sedikit defisit dalam perdagangan dengan China. Sementara Vietnam mengekspor senilai USD4,5 miliar ke China,namun harus impor senilai USD15,7 miliar dari Negeri Tirai Bambu itu. Indonesia posisinya tidak jauh berbeda. Kinerja perdagangan dengan China masih defisit.Sehingga wajar beberapa sektor industri,seperti produk baja, tekstil, farmasi, dan elektronik khawatir dan menginginkan penundaan penghapusan tarif impor. Banyak Defisit Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), angka defisit perdagangan Indonesia ternyata tidak hanya dicatat dengan China, melainkan juga dengan negara-negara ASEAN lainnya. Karena itu banyak pihak khawatir,Indonesia akan semakin kalah dalam persaingan perdagangan bebas ini. Sebagaimana laporan yang dipublikasi BPS (4/01/10), posisi perdagangan Indonesia dengan Thailand pada tahun 2008 saja masih mencatat angka defisit. Angka ekspor Indonesia ke Thailand tercatat sebesar USD3,66 miliar, sementara angka impor dari Thailand hampir dua kali lipat yakni USD6,33 miliar. Kemudian kinerja perdagangan Indonesia dengan Malaysia pun demikian.Tercatat angka ekspor Indonesia ke Malaysia pada tahun 2008 sebesar USD6,43, sementara impor sebesar USD8,92 miliar.Untuk Singapura, angka defisit lebih tinggi.Yakni, ekspor pada tahun 2008 sebesar 12,86 miliar sedang impor dari Singapura sebesar USD21,79. Angka defisit ini jika diakumulasi selama empat tahun terakhir, jumlahnya cukup besar. Selama empat tahun terakhir, angka ekspor Indonesia ke negaranegara ASEAN sebesar USD23,51 miliar sementara nilai impor sebesar USD27,17 miliar. Dengan catatan ini, jelas Indonesia akan sangat kewalahan untuk menekan angka defisit ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan. Bagaimanapun ini sangat tergantung dari bagaimana Indonesia mampu melihat peluang dari pakta perdagangan bebas tersebut. Kinerja keseluruhan nilai ekspor Indonesia pada November 2009 turun hingga 12,12% menjadi sebesar USD10,76 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.Meski dibanding November 2008 mengalami kenaikan 11,31%, karena saat itu kinerja ekspor sedang merosot akibat dampak krisis global. Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan menyatakan, ekspor nonmigas selama November mencapai USD8,43 miliar, atau mengalami penurunan lebih tajam yaitu 16,28% dibanding Oktober 2009. Tapi dibanding November 2008 ekspor non migas kita masih naik 2,51%. “Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2009, diantaranya pada komoditas bahan bakar mineral sebesar USD347,9 juta. Sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada kakao sebesar USD21 juta,” ujarnya di Jakarta (4/01/10). Jepang masih berada diurutan pertama sebagai negara tujuan ekspor produk non migas Indonesia per November 2009 dengan nilai sebesar USD935,7 juta.Kemudian disusul AS sebesar USD905 juta dan China sebesar USD872,2 juta. Dari ketiga negara tersebut, memberikan kontribusi sebesar 32,19% dari total nilai ekspor Indonesia per November 2009. Sementara ekspor Indonesia ke 27 negara-negara Uni Eropa sebesar USD1,17 miliar. Berdasarkan sektornya,ekspor hasil industri periode Januari hingga November 2009 turun sebesar 20,97% dibanding periode yang sama tahun 2008. Demikian juga ekspor hasil pertanian 6,12%, sebaliknya ekspor hasil tambang dan lainnya naik sebesar 28,11%. Sementara berdasarkan provinsi asal, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari hingga September 2009 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD14,11 miliar atau 17,60%, lalu Kalimantan Timur sebesar USD13,03 miliar atau 16,26% dan Riau sebesar USD8,01 miliar atau 9,99%. Nilai impor Indonesia November 2009 mencapai USD8,86 miliar atau turun 6,03% dibanding Oktober 2009 yang besarnya USD9,43 miliar. Sedangkan selama Januari-November 2009 nilai impor mencapai USD86,58 miliar atau turun 28,75% dibanding periode yang sama tahun 2008. Rinciannya, untuk impor nonmigas November 2009 mencapai USD7,03 miliar atau turun 6,44% dibanding impor Oktober 2009.Sedangkan selama Januari-November 2009 impor non migas mencapai USD69,69 miliar atau turun 24,22% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor migas per November 2009 mencapai USD1,83 miliar atau turun 4,45% dibanding impor Oktober 2009. Sedangkan selama Januari-November 2009 mencapai USD16,89 miliar atau turun 42,84% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. (abdul malik/islahuddin) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/296543/ |
Selasa, 12 Januari 2010
FTA ASEAN - China : Antara Lonceng Kematian dan Harapan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Hello. Jemput datang ke blog saya di www.jomcubaruicao.blogspot.com. TQ.
BalasHapus