| Saturday, 30 May 2009 | |
| Pasangan calon presiden–calon wakil presiden (capres-cawapres) Jusuf Kalla–Wiranto mengusung misi ekonomi kerakyatan.Cara ini dianggap manjur untuk wujudkan kemandirian ekonomi bangsa. Runtuhnya perekonomian Amerika Serikat (AS) akibat krisis finansial karena negara Paman Sam itu menganut paham ekonomi bebas mengilhami banyak calon pemimpin di negeri ini untuk kembali meninjau kegagalan sistem kapitalisme. Setelah pasangan capres-cawapres Megawati-Prabowo mengusung misi ekonomi kerakyatan, pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JKWin) pun melakukan hal yang sama. Penguatan sektor riil baik dari sisi teknologi massal atau teknologi tinggi (high tech) dipercaya menjadi jawaban untuk memperbaiki kondisi perekonomian negeri ini. “Semua upaya ini akan kami lakukan demi mewujudkan kemandirian bangsa yakni dengan memproduksi berbagai macam kebutuhan ekonomi masyarakat sendiri sebab penguatan ekonomi kita mayoritas ditopang pasar domestik,” ujar juru bicara Tim Kampanye JKWin, Yuddy Chrisnandi kepada Seputar Indonesia. Beberapa sektor yang akan menjadi perhatian utama dari pembangunan ekonomi JK-Win di antaranya penguatan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dan lainnya. Beberapa sektor ini akan menjadi target pembangunan ekonomi untuk jenis industri berteknologi massal. Sementara sektor industri berteknologi tinggi yang akan menjadi prioritas di antaranya industri alat berat, persenjataan, dan lainnya. “Ini semua demi memenuhi kebutuhan nasional agar kita bisa terlepas dari ketergantungan,” ujarnya. Sebelumnya, dalam acara dialog “Presiden Pilihan” di Djakarta Theater (19/5), Kalla sempat menjanjikan pertumbuhan ekonomi akan naik menjadi 8% pada 2011. Keyakinan wakil presiden yang juga akrab disapa Daeng Ucu ini berdasarkan pertimbangan bahwa anggaran subsidi akan turun banyak pada 2010.“Pada 2011 kita (JK-Wiranto) sanggup melaksanakan itu,”ungkap Kalla. Keoptimisan Kalla bukan tanpa alasan.Angka pertumbuhan sebesar itu dinilai cukup moderat dibanding target pasangan caprescawapres lainnya. Jika pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono menargetkan pertumbuhan ekonomi 7% merupakan paling rendah di antara pasangan lainnya. Sementara pasangan Megawati- Prabowo menargetkan pertumbuhan minimal 10% pada tahun keempat kepemimpinannya apabila berhasil meraih kemenangan dalam Pemilu 2009. Meski banyak pihak menganggap target-target tersebut hanyalah lagu lama para politisi untuk meraih suara rakyat, tidak sedikit yang menganggap mazhab ekonomi kerakyatan bisa menjadi isu yang laku dijual saat pemilu.Wajar jika banyak pihak menilai paham ekonomi kerakyatan dikampanyekan lebih guna meraih simpati massa. “Jika dianggap kami beramairamai mengusung isu ekonomi kerakyatan, sekarang boleh dinilai. Masyarakat pun tahu, isu ini orisinalnya dari mana,” ungkap Tim Kampanye Mega-Prabowo Fadli Zon kepada Seputar Indonesia pekan lalu. Dianggap mengekor prinsip ekonomi pasangan lain,juru bicara Tim Kampanye JK-Win, Yuddy Chrisnandi tentu saja langsung membantah. Menurut dia, permasalahannya bukan pada siapa mengekor dan siapa orisinal, melainkan sudah menjadi pemahaman umum bahwa prinsip ekonomi kerakyatan dianggap menjadi solusi permasalahan ekonomi bangsa. “Kalla sudah membuktikannya dalam masa pemerintahan mendampingi SBY. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah ide dia.Sayangnya, dia tidak memiliki kewenangan untuk membuat keputusan presiden (keppres) yang bersifat operasional menjawab permasalahan bangsa,”paparnya. Terlepas dari perdebatan tersebut, patut dicatat hingga saat ini banyak pihak menilai belum ada penjabaran program ekonomi secara detail dan konkret yang dilakukan pasangan JK-Win. Meski demikian,menurut Yuddy, saat ini program ekonomi sedang digodok tim ekonomi guna menghasilkan program terbaik dan bersifat strategis. Paham ekonomi kerakyatan bertujuan tidak lebih guna meningkatkan daya tahan bangsa terhadap hantaman gejolak ekonomi global. (abdul malik /islahuddin/faizin aslam) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/242813/ |
Selasa, 02 Juni 2009
Kallanomics
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment