Selasa, 26 Mei 2009

Kapitalisme di Ujung Jalan

Sunday, 24 May 2009
”Kapitalisme sudah berubah dalam cara yang fundamental...Sebuah model baru kapitalisme justru muncul akibat ambruknya perekonomian” (Robert Peterson,Editor Bisnis,BBC)

Krisis finansial global diibaratkan senjata pemusnah massal. Demikian diungkapkan Warren Dusset, seorang investor ternama Amerika Serikat (AS).Apa yang diungkapkan Dusset benar. Kegagalan bankbank di seluruh dunia yang tidak mampu menutupi dampak pemberian kredit dengan aturan sangat longgar menjadi bukti suramnya industri perbankan saat krisis global.

Dampak krisis global sebenarnya sudah mulai dirasakan pada Agustus 2007. Pelajaran resesi ekonomi dunia 1930 tampaknya belum memberikan hikmah berarti bagi sejumlah lembaga keuangan di Negeri Paman Sam.

Berdasarkan laporan The Economist Intelligence Unit (14/5), saat ini kapitalisme telah mencapai ”tahap baru”. Pesta kepongahan globalisasi dan pasar bebas yang diklaim bisa menyejahterakan umat manusia di dunia kini mulai disadari kesalahannya. Selama beberapa dekade para politisi di dunia yang mengklaim keampuhan globalisasi kini mulai menyadari bahwa kapitalisme sudah berubah.

Laporan berdasarkan hasil riset yang berjudul ”Risk and Regulation: A New Era for Capitalism” yang disponsori Dubai Holding ini mengungkapkan, perubahan model bisnis perbankan pascakrisis global terjadi seiring dengan perubahan kapitalisme.Penelitian EIU ini dilakukan selama Februari dan Maret 2009, melibatkan 418 responden eksekutif, analis, dan pakar di seluruh dunia yang diwawancara secara mendalam.

Temuan paling mengejutkan adalah bahwa 60% responden sepakat, krisis global saat ini telah mengubah kapitalisme secara fundamental. Menurut seorang responden, sebagaimana yang terjadi pada resesi ekonomi pada 1930,krisis saat ini secara permanen akan mengubah cara pandang pemerintah negara-negara di dunia dan mengubah cara pandang sektor bisnis di dunia.

Para responden percaya bahwa krisis ini akan mengakibatkan lebih banyak kesalahan pemerintah, termasuk pandangan ekonomi yang lebih nasionalis. Selain itu, survei ini juga mengungkapkan betapa kurangnya keberanian pemerintah dan dunia usaha mengambil risiko, termasuk lambannya pertumbuhan negara-negara di dunia. Pembuatan keputusan dalam dunia bisnis akan merefleksikan realitas baru.

Sebagaimana konsumen menjadi lebih cermat. Di samping itu,muncul juga asumsi yang menyebutkan agar pedoman kebijakan regulator harus diubah. Para responden mendukung dibutuhkannya intervensi darurat terharap sektor perbankan dari pemerintah. Namun, opini mereka lebih konservatif ketika berbicara tentang reformasi seperti wacana tentang nasionalisme dalam industri-industri penting lainnya.

Kemudian munculnya sebutan bank buruk dan lingkaran utang beracun atau batasan-batasan pada penghasilan dan bonus para eksekutif. Dengan demikian, kapitalisme memang telah benarbenar berubah. Sebuah paham yang diyakini dalam waktu cukup lama,namun kini teori Adam Smith sudah mulai dipertanyakan. Hampir 60% responden dari kalangan eksekutif bisnis senior setuju dengan pendapat ini.

Pendapat ini dipertegas dengan pandangan seorang pakar sekolah bisnis kenamaan di Prancis, Profesor N Craig Smith yang menjabat Kepala Bidang Etika dan Tanggung Jawab Sosial INSEAD. Menurut dia, krisis global saat ini akan memberikan dampak psikologis lebih lama kepada para eksekutif dan konsumen. ”Resesi saat ini telah menurunkan angka permintaan konsumen secara signifikan,” ujarnya.

Sementara itu,Profesor Bidang Marketing London Business School Naufel Vilcassim menyebutkan, krisis global saat ini tampak bukan seperti siklus bisnis biasa dan terlihat sebagai isu utama struktural. ”Ada sesuatu yang sangat jelas terlihat sedang berjalan menuju ke arah yang salah. Solusinya tidak hanya sesederhana bagaimana mendorong meningkatkan permintaan, tapi juga harus melakukan sesuatu yang bersifat struktural secara berbeda,”paparnya.

Para eksekutif yang menjadi responden menginginkan aturan lebih baik untuk sektor perbankan. Regulasi ini tidak hanya untuk membuat perbankan menjadi lebih produktif, tapi juga menjadi persyaratan utama memfungsikan ekonomi global.Dua pertiga (65%) responden kalangan eksekutif menyatakan, mereka masih menyukai jasa perbankan yang mereka gunakan saat ini meski terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Ini pertanda, perlambatan ekonomi global sudah memperingatkan kalangan bisnis. Hal ini bahkan bisa merefleksikan bahwa kalangan eksekutif sedang menyimpan kemarahan pada sektor perbankan. Meski dukungan mereka terhadap dibuatnya perbaikan regulasi tidak hanya harus dilakukan pada sektor perbankan, para eksekutif menerima pandangan baru bahwa semua sektor bisnis akan didukung pemerintah.

Sebanyak 77% responden sepakat bahwa sektor bisnis akan mampu menerima kondisi saat ini karena permasalahan inti terletak pada sistem perbankan. Hampir separuh responden menyatakan perlunya regulasi nonfinansial bagi industri selain perbankan. Begitu juga bagi 50% responden yang merekomendasikan agar dibuat aturan baru yang membatasi risiko bagi semua sektor swasta.

Beberapa pihak yang paling berpengaruh untuk memperbaiki kondisi saat ini, bagi 64% responden, adalah regulator (pemerintah). Kemudian diikuti konsumen (57%), sementara 49% responden menyatakan kreditur akan lebih berpengaruh, dan 43% lainnya menyatakan tidak.

Selanjutnya pemegang saham (46%), namun karyawan, non governmental organization (NGO),dan organisasi perdagangan akan membeku dan tidak berpengaruh. Secara keseluruhan, 60% responden berpikir bahwa mereka akan bekerja lebih keras untuk mengelola reputasi perusahaan bersama stakeholderlainnya.

”Aturan yang lebih ketat,beberapa untuk mengantisipasi risiko agar menjadi lebih kecil, akan mampu menggenjot pemulihan pascakrisis,” kata Direktur Pengembangan Beckman Coulter International Gary Hopgood. Para responden juga mendukung agar pemerintah negaranegara di dunia membuat ukuran lebih jelas menangani dampak krisis saat ini.

Sebanyak 70% responden menilai intervensi pemerintah dalam sektor perbankan adalah seperti membeli saham dan nasionalisasi perbankan. Mayoritas responden juga percaya bahwa pemerintah di dunia sudah cukup tanggap terhadap krisis yang nantinya berdampak positif bagi bisnis mereka.Hanya 17% responden yang menilai intervensi pemerintah akan memberikan dampak buruk bagi bisnis mereka secara jangka panjang.

Fakta dua tahun terakhir memunculkan banyak asumsi bahwa sistem finansial global telah lenyap. Buktinya dunia masih dalam kesulitan perekonomian, dan banyak pertanyaan kritis tentang masa depan mulai bermunculan. Apakah benar kapitalisme sudah gagal? Apakah teori seperti optimalisasi nilai saham butuh untuk dipikir kembali? Atau apakah sistem global telah meninggalkan paham kapitalisme?

Bisa jadi bank-bank pelat merah yang dijalankan pemerintah akan menjamin likuiditas sektor bisnis yang jatuh akibat krisis finansial. Atau bisa jadi beberapa bank lainnya kembali mempraktikkan model aturan bank lama guna meningkatkan angka kredit dan mengumpulkan pendapatan dari bunga.

Penelitian yang dilakukan Michael Kapoor dan kawan-kawannya ini memberi kesimpulan penting untuk dicermati,krisis telah mengubah kapitalisme secara fundamental. Tetapi, para responden tidak menyatakan sistem apa yang bakal menggantikan paham kapitalisme. (abdul malik/ islahuddin/faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/241135/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment