Selasa, 02 Juni 2009

Bermula dari Ucapan Dalai Lama

Sunday, 31 May 2009
”Waktu mudah adalah musuh sebab membuat kita tidur.Sementara waktu sengsara adalah sahabat sebab membuat kita terjaga.”

Demikian kalimat bijak pemimpin agama Budha asal Tibet,Dalai Lama. Kutipan itulah yang disampaikan Philip Kotler pada acara seminar sehari bertajuk “Marketing in Turbulent Times” yang diselenggarakan Mark- Plus Inc di Jakarta,Rabu (27/5).

Di hadapan ratusan pebinis dalam negeri yang menjadi peserta seminar, Bapak Marketing Modern ini memaparkan bahwa ungkapan Dalai Lama sangat cocok untuk menggambar kan kondisi perekonomian saat ini pascahantaman krisis global.Masa sulit akibat hantaman resesi global bisa menjadi musuh bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi.

Demikian juga sebaliknya, akan menjadi sahabat untuk meraih kemajuan bagi mereka yang bisa menyikapinya dengan tepat. Petuah bijak itu juga senada dengan pepatah kuno China,“Ketika badai datang,beberapa orang kemudian membangun tembok agar bisa selamat.Sementara sebagian lainnya justru membuat kincir angin untuk memanfaatkan nya.”

Kutipan-kutipan ini yang diungkapkan Kotler untuk memberikan perumpamaan bagi perusahaan- perusahaan yang mampu bersahabat dengan krisis. Menurut Kotler, strategi terbaik dalam menghadapi krisis bergantung kondisi perusahaan. Jika perusahaan memiliki kondisi keuangan yang kuat, strategi pemasarannya pun bisa dilakukan lebih leluasa.

Perusahaan seperti ini bahkan bisa membeli perusahaan kompetitor beserta asetnya. Selain itu, perusahaan ini juga bisa meningkatkan belanja pemasaran. Sementara pada perusahaan yang stabil dengan kondisi keuangan kuat, tetapi pemasarannya lemah, mungkin cukup sekadar menguatkan tim pemasarannya.Tujuannya jelas untuk memperoleh pencitraan (brand) yang kuat pula.

Namun, sangat berbeda dengan perusahaan yang sedang dalam masa berjuang keluar dari krisis. Di mana kondisi keuangannya lemah, tetapi strategi pemasarannya kuat, strategi yang dilakukan adalah berupaya mendapatkan tambahan modal.Lalu bernegosiasi ulang dengan supplier, memperbaiki proses bisnis.

Bagaimana dengan perusahaan yang lemah, baik dari sisi keuangan maupun pemasaran? Sebagian kalangan menyebut perusahaan semacam ini telah gagal. Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kondisi semacam ini akibat kri-sis.Maka yang bisa dilakukan hanya menutup bisnis dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

“Sebab perusahaan itu tidak lagi memiliki harapan,” ujar Kotler. Karena itu, perusahaan harus bisa membagi investasinya dalam tiga wadah yakni bagaimana mengelola investasi yang ada sekarang? Lalu,secara selektif melupakan kondisi masa lalu serta berupaya menciptakan masa depan.

Untuk pengelolaan masa sekarang, perusahaan harus melakukan penghematan dan pengurangan bagian-bagian proses bisnis yang dianggap gemuk,kemudian menurunkan jumlah produk dan ekspansi ke wilayah pemasaran yang kurang menguntungkan. Lalu, membuat perbaikan dalam sistem operasional bisnis agar seefisien mungkin sehingga keuntungan yang didapatkan sesuai target.

Wadah kedua, mengerjakan sebuah produk baru apabila memang benar-benar sudah siap. Bergerak untuk meraih peluang dan memanfaatkanperubahanyangmendadak. Investasi ketiga yakni menciptakan masa depan dengan cara membangun sebuah strategi besar yang baru secara sungguh-sungguh.

Strategi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berdampak secara langsung, memberikan motivasi dan tantangan. Dalam masa krisis biasanya konsumen lebih menyukai membeli produk yang harganya lebih murah. Misalnya,pergeseran konsumsi dari produk yang memiliki brand nasional menjadi produk dengan merek toko atau generik.

Selain itu, konsumen juga akan mengurangi atau menunda pembelian barangbarang selain kebutuhan pokok seperti produk automotif,mebel, dan liburan yang mahal. Konsumen yang menghadapi pembengkakan biaya konsumsi bahan bakar minyak akan mengurangi perjalanan sehingga mereka akan cenderung berbelanja di toko yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal.

Mereka akan lebih banyak memanfaatkan rumah mereka sendiri untuk makan dan mendapatkan hiburan.Kegiatan makan di luar dan hiburan di luar rumah akan dikurangi. “Apa yang harus Anda lakukan dalam kondisi seperti ini? Ada tiga hal utama yakni jangan melakukan apapun, jangan panik, serta jangan melakukan tindakan gegabah seperti pengurangan jajaran pimpinan perusahaan,”ujar Kotler.

Menurut Kotler, guna menyesuaikan diri dalam masa kekacauan (chaos) di antaranya dengan menyelamatkan market share dari segmen konsumen inti.Kemudian dorong secara lebih agresif,market share yang sesuai segmen konsumen inti dari kompetitor.Di masa krisis dibutuhkan lebih banyak lagi riset konsumen tentang kebutuhan dan keinginan mereka yang berubah-ubah.

Selanjutnya perusahaan diharapkan bisa meminimalkan pembiayaan, sembari tetap mencari celah untuk meningkatkan anggaran pemasaran. Perusahaan juga harus fokus pada semua hal yang aman dan memberikan nilai pada inti bisnis. Membatalkan program yang tidak bermanfaat secara cepat.

Lalu, sebaiknya jangan memberikan potongan harga jual pada produk dengan merek terbaik,serta menyelamatkan bagian perusahaan yang kuat dan menghilangkan yang lemah. Sebagaimana langkah yang dilakukan Procter&Gamble (P&G) dalam melakukan efisiensi anggaran marketing yang diku-rangi 20–25%.

Menurut Kotler, P&G melakukan beberapa langkah efisiensi di antaranya menstandardisasi formulasi,kemasan, dan iklan produk mereka di seluruh dunia. Kemudian mengurangi ukuran dan flavor,menghentikan atau menjual beberapa merek yang lemah, serta meluncurkan lebih sedikit merek namun yang benar-benar menjanjikan.

Sementara itu, ada contoh beberapa perusahaan lain yang melakukan strategi dalam mengatasi kecemasan konsumen akibat krisis di antaranya perusahaan automotif yang berpusat di Korea Selatan, Hyundai yang melakukan pemasaran secara strategis. Perusahaan ini memberikan fasilitas akan mengambil kembali mobil yang dibeli konsumen dalam tahun pertama apabila si pembeli kehilangan pekerjaannya.

Dengan demikian,konsumen tidak perlu khawatir untuk tetap membeli mobil meski sedang cemas akan kehilangan pekerjaan akibat krisis. Kemudian, sebuah perusahaan maskapai Jet Blue memberikan jaminan uang kembali atas tiket pesawat yang dibeli konsumen dalam rangka liburan.

Jaminan ini diberikan apabila konsumen kehilangan pekerjaannya agar konsumen tetap melakukan liburan meskipun di masa krisis. Bank of America (BofA) mengurangi atau bahkan menghilangkan biaya jasa perbankan bagi pelanggannya selama tiga bulan.

Sebuah perusahaan garmen raksasa spesialis pakaian pria Jos A Bank membiarkan konsumen yang membeli 199 pasang pakaian untuk tetap menyimpannya,dan konsumen tersebut akan mendapatkan uangnya kembali apabila kehilangan pekerjaan. Sementara perusahaan farmasi Walgreens dalam beberapa jam tertentu memberikan layanan kesehatan gratis kepada konsumen yang kehilangan pekerjaannya. (abdul malik/ islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/243017/


Kirian

Delapan Cara Beradaptasi dengan Chaos

- Selamatkan market share dari segmen konsumen inti

- Dorong secara lebih agresif, market share yang sesuai dengan segmen konsumen inti dari kompetitor.

- Dibutuhkan lebih banyak lagi riset konsumen tentang kebutuhan dan keinginan mereka yang berubah-ubah.

- Lakukanlah pembiayaan minimal, namun tetap cari celah untuk meningkatkan anggaran pemasaran jika Anda memiliki ide bagus untuk bagaimana strategi marketing akan Anda lakukan.

- Fokuslah pada semua hal yang aman dan memberikan nilai pada inti bisnis.

- Batalkan program yang tidak bermanfaat secara cepat.

- Jangan berikan potongan harga jual pada produk dengan merk terbaik yang Anda miliki.

- Selamatkan bagian perusahaan yang kuat dan hilangkan yang lemah.


Manajemen Chaos

Manajemen chaos merupakan suatu pendekatan sistematis dalam mendeteksi, menganalisis dan merespon kondisi turbulensi dan chaos (kekacauan) yang terjadi. Secara umum ada tiga komponen utama yaitu :

- pertama, mendeteksi sumber turbulensi. Ada sumber turbulensi yang dapat dideteksi oleh perusahaan (detectable turbulence) maupun yang tidak dapat terprediksi (undetectable turbulence). Untuk sumber turbulensi yang dapat diprediksi, maka perusahaan perlu membangun suatu sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendeteksi sebanyak dan secepat mungkin turbulensi yang akan terjadi. Ini guna meminimalisir risiko dan menangkap peluang secara optimal. Sedangkan untuk sumber turbulensi yang tak terprediksi maka akan menciptakan chaos bagi perusahaan.

- Kedua, merespon chaos dengan membuat sejumlah skenario utama. Ini sebagai sebuah perencanaan stratejik yang digunakan untuk membuat perencanaan jangka panjang. Seorang pemimpin harus mampu mendorong anak buahnya untuk dapat menginvestigasi dan menganalisis secara lebih mendalam berbagai skenario terburuk sekalipun. Skenario yang dibangun secara efektif akan mampu memberikan gambaran atas kondisi yang sedang terjadi. Masing-masing skenario membutuhkan respon strategi yang berbeda.

- Ketiga, memilih strategi berdasarkan prioritas skenario dan sikap dalam menghadapi risiko (risk attitude). Berdasarkan berbagai skenario yang telah disusun, seorang pemimpin perlu memilih respon strategi yang tepat dalam menghadapi skenario tersebut. Dengan adanya ketidakpastian, maka berbagai skenario beserta respon strategi yang ada perlu disikapi secara seksama. Termasuk berbagai kemungkinan respon yang berbeda disesuaikan dengan prioritas dan kondisi yang terjadi serta pertimbangan mengenai risiko dan peluang yang dikehendaki.

Sumber : MarkPlus Inc


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment