Sunday, 24 May 2009
Akibat krisis global,industri perbankan dianggap mengalami kegagalan.Bank yang seharusnya berperan sebagai lembaga penyalur modal kepada nasabah dan sektor bisnis secara efisien justru terkulai.
Sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat (AS), perbankan justru memberikan kredit dengan mudah kepada siapapun. Padahal demi menjadi perbankan yang efisien, bank seharusnya secara cakap mampu mengelola utang jangka pendek menjadi pinjaman jangka panjang.
Namun, keadaan ini justru berbalik menyerang industri perbankan di Negeri Paman Sam akibat kredit macet perumahan berujung menjadi krisis finansial global. Seperti dilansir Economist (14/5), ini bayaran atas kegagalan besar industri perbankan sehingga dibutuhkan upaya pemerintah untuk memperbaiki sistem keuangan dengan rambu-rambu yang mampu menyelamatkan perekonomian secara jangka panjang.
Badan Moneter Dunia (IMF) memperhitungkan rata-rata utang pemerintah negara kaya anggota G-20 akan melampaui 100% angka pendapatan domestik bruto (PDB) mereka sendiri pada 2014. Angka ini meningkat 70% dibanding pada 2000 dan 40% pada 1980. Meskipun kebijakan dana talangan pemerintah negara-negara menuai protes masyarakat, industri perbankan telah gagal dalam kinerjanya.
Tingkat rusaknya kekayaan para pemegang saham telah membuat banyak pihak kelimpungan. Total kapitalisasi industri secara global anjlok lebih dari separuh pada 2008.Peristiwa ini telah menghapuskan pertumbuhan yang sudah dibangun sejak 2003. Banyak industri melakukan pemutusan hubungan kerja pada karyawannya dan dunia usaha harus mengencangkan ikat pinggang akibat krisis global.
Banyak negara menjadi sakit akibat krisis saat ini. Krisis perkreditan telah menjelma menjadi multikrisis yang awalnya hanya dimulai kredit macet perumahan di AS.Kini banyak pihak mulai pesimistis dengan investasi di dunia perbankan. Kebanyakan bank mengalami kesengsaraan lebih dalam. Berdasar laporan terbaru IMF, total piutang untuk lembaga keuangan akan mencapai USD4,1 triliun.
Dengan demikian, masih banyak kerugian yang akan dialami. Pertanyaan yang saat ini muncul adalah seperti apa masa depan industri perbankan? Sebab kepercayaan dan kredit sudah menguap hingga kering. ”Oktober 2008 adalah masa yang paling tidak nyaman dalam karier saya. Ada kemungkinan bahwa seluruh sistem perbankan akan anjlok,” ujar Bos Royal Bank of Canada Gordon Nixon ini.
Langkah terpadu sudah dilakukan pemerintah di banyak negara seperti suntikan modal dan tanggung jawab untuk melakukan penjaminan. Baru-baru ini bahkan dilakukan skema untuk menjamin atau membeli jaminan kredit, sebuah tekad agar mampu menyelamatkan industri ini.
Komitmen pemerintah negaranegara untuk mempertahankan perbankan mereka memang tidak perlu diragukan. Mereka mulai mengubah sistem yang bisa mengancam industri ini seperti mengembalikan hak-hak nasabah. Para pimpinan lembaga perbankan sudah mulai belajar untuk tidak mengungkapkan kepercayaan dirinya atas prediksi masa depan. Jika prediksi IMF ternyata jauh dari akurat, minimal masih ada sedikit modal dalam sistem pengelolaan keuangan mereka.
Namun, kebanyakan lembaga perbankan berpikir bahwa peluang terjadinya kembali kasus Lehman Brothers sangatlah kecil. Tipe-tipe kerugian yang dialami perbankan juga berubah. Kompleksitas struktur keuangan telah membuatnya menjadi lebih sulit untuk mengetahui bagaimana dampak dari kerugian-kerugian ini.
Meski demikian,mereka harus tetap mampu memprediksi kondisi keuangannya.”Skala resesi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Meski demikian, situasi saat ini sudah cukup bisa dikenali,” ungkap CEO Barclays John Varley.
Seni yang Terlupa
Dengan dukungan pemerintah, jumlah kerugian-kerugian akan bisa lebih terprediksi. Bankbank besar memulai kembali bisnis mereka dari bawah. Pertemuan rapat dengan investor selama 18 bulan terakhir didominasi dengan topik bagaimana menyeimbangkan neraca laba rugi perbankan, secara bersamaan juga dibahas seberapa besar jumlah modal yang dimiliki perbankan.
”Ini pengalaman pertama saya bahwa dalam kuartal pertama ini tidak ada seorang pun yang peduli dengan pendapatan,”kata Pimpinan Bank New York Mellon Bob Kelly. Semua sudah berubah.Korban paling besar sekalipun masih berharap untuk bisa kembali meraih keuntungannya pada 2009 ini.
Keuntungan sangat penting agar bank memiliki kemampuan untuk menutupi kerugian tanpa harus mengandalkan bantuan pemerintah. Berdasarkan analisa Barclays Capital, pada Maret 2009 pendapatan sebelum dipotong pajak 20 bank di AS selama 2009 ini,2010,dan 2011 sebesar USD575 miliar.Pendapatan ini hanya cukup untuk menutupi kerugian dalam periode yang sama sebesar USD415–560 miliar.
Keuntungan yang berkelanjutan adalah salah satu garis pertama agar bank bisa bertahan dari kerugian. ”Perhitungan keuntungan lembaga keuangan bahkan tidak akan mampu bisa didapatkan dalam waktu yang cepat,” ungkap Kepala Stabilitas Keuangan Bank of England Andy Haldane. Tantangan masa depan tampaknya akan berbeda-beda bagi berbagai jenis bank.
Masa depan bank kecil yang ambruk dan tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah atau jumlah portofolionya kecil akan suram. Sementara bank-bank regional AS dan bank penyimpanan di Spanyol sedang mengalami tekanan portofolio properti komersial. Mike Paulos, seorang konsultan dari Oliver Wyman memprediksi jumlah bank-bank AS yang saat ini 8.000 buah akan rontok hanya tinggal 2.000 buah atau lebih akibat krisis.
Sementara bank-bank di pasar negara berkembang akan menderita akibat iklim perekonomian yang memburuk. Ada pula yang kurang menyadari dibutuhkannya perubahan aturan.Bank-bank di Asia mempertahankan kinerja keuangannya seperti dengan cara mengendalikan aliran modal, yang berbeda dengan apa yang dilakukan bank-bank di Eropa.
Skala perubahan struktural yang dihadapi lembaga perbankan relatif terbatas. Namun, bagi bank-bank yang berada di wilayah krisis,skemanya sama sekali berbeda. Masa depan mereka cukup aman dengan merencanakan pertahanan di tengah krisis. Kegagalan mereka yang amat besar guna mengetahui atas apa yang telah mereka lakukan. Cara mereka mengelola kinerja keuangannya dan cara mereka membayar para manajer haruslah berubah.
Namun, guna mencari tahu kondisi normal bagi perbankan, pertanyaannya adalah seberapa cepat dan pada jangka berapa lama pemerintah akan membebaskan diri mereka dari industri perbankan? (abdul malik/ islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/241133/
Dampak Krisis Terhadap Perbankan
- Tidak berfungsinya atau rusaknya model bisnis. Ini dialami lembaga perbankan yang berkonsentrasi pada aktivitas distribusi orisinal atau menarik besar-besaran di tengah situasi yang berubah-ubah atau penyebab lainnya, maka dia akan hancur oleh krisis. Secara keseluruhan investasi perbankan telah hancur, dan kredit monoline telah membuat tidak berfungsinya model bisnis.
- Penonton yang tidak berdosa. Banyak bank menginvestasikan surplus pendapatannya pada peningkatan pendapatan bank lainnya secara tidak terkonsep. Bank-bank model ini sebenarnya adalah penonton yang tidak berdosa, sebab mereka tidak semestinya ikut bertanggungjawab atas aktivitas yang mengakibatkan habisnya aset. Namun mereka hanya mengejar keuntungan dari pasar bebas investasi yang mengakibatkan mereka akhirnya terpapar dampak krisis.
- Tidak terkait, namun masih mendapatkan dampak krisis. Bank konservatif dengan keseimbangan laporan keuangan yang kuat dan posisi pendanaan yang bagus, masih memiliki keadaan lebih baik akibat dampak krisis. Bank-bank yang fokus pada transaksi dan kegiatan berbasis terbuka, justru harus membayar penuh akibat krisis. Jumlah total shareholder return/TSR bank-bank model ini dilaporkan anjlok, namun mereka telah mengelolanya guna tetap berada di angka rata-rata TSR pasar lokal.
Bergerak Melampaui batas Krisis
- Bangun model bisnis yang benar paska krisis. Beberapa bank sudah melakukan strategi bisnis untuk tidak terkena dampak krisis. Semua opsi berada di atas meja. Namun memiliki fokus lebih tinggi, dengan menjalankan portofolio sesuai core bisnis akan membuat bank-bank menjadi lebih mudah untuk mengendalikan dan memperbaiki kinerjanya. Mereka mungkin hanya akan melakukan sedikit, namun mereka akan melakukan hal itu dengan sangat optimal. Keuntungan kompetitive adalah kembalilah pada bisnis inti.
- Perkuat manajemen risiko. Regulator dan investor akan mendesak untuk melihat bukti nyata bahwa bank telah melakukan perbaikan manajemen risiko. Juga rencana target pertumbuhan. Manajemen risiko adalah tidak sesederhana seperti mengurangi risiko, juga bukan tentang mendapatkan peluang. Pada kenyataannya ketika bisa dilakukan secara baik, manajemen risiko bisa membuka datangnya peluang baru untuk pertumbuhan kinerja. Bank-bank akan mampu tetap maju dengan percaya diri dengan dukungan regulator dan investor.
- Pahamilah bagaimana konsolidasi akan menentukan pasar anda. Dalam banyak pasar, ada sebuah pertanyaan tentang kapan, konsolidasi akan memainkan peranan merubah medan. Bank-bank perlu untuk mengerti sesuatu yang mana kompetitor mereka mungkin akan turun namun tidak keluar, akan sangat mempengaruhi bisnis mereka.
- Lihatlah peluang. Meskipun banyak bank jatuh akibat krisis, kemudian mempelajari struktur pembiayaan dan core bisnis mereka. Kegiatan-kegiatan ini dengan manajemen risiko yang lebih kuat dan pandangan yang selalu up to date tentang bagaimana pola krisis ini. Bank ini akan menjadi bank terbaik, meskipun krisis tetap berlanjut dan merusak pasar. Ada beberapa bank yang kemudian mundur dari pasar mereka dari beberapa wilayah, bisnis, atau segmen nasabah mereka, sementara bank lainnya justru melihat peluang dan mengisi kekosongan ini.
Sumber : riset Boston Consulting Group : Creating Value in Banking 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment