Rabu, 01 April 2009

Tren Ritel 2009 - Krisis Membawa Berkah

Monday, 30 March 2009
Dampak krisis global justru memberikan manfaat semakin diliriknya pasar tradisional sebagai tempat belanja masyarakat.Sebab,banyak keluarga yang menerapkan kebijakan uang ketat.

Hantaman krisis global mengakibatkan tekanan ekonomi bagi banyak negara termasuk Indonesia.Namun,di balik kondisi krisis, keuntungan malah diraih pasar tradisional. Bagaimana bisa? Dengan melemahnya daya beli, masyarakat mencari tempat belanja yang murah dan hemat.

Selain itu, demi efisiensi, masyarakat mencari lokasi tempat belanja yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Inilah yang membuat pasar tradisional dan toko kembali diminati. Setidaknya, kondisi itulah yang mencuat dari hasil riset Nielsen Indonesia dalam Tren Ritel dan Perilaku Belanja 2009 (Retail and Consumer Behavior Trend 2009).

Hasil riset tersebut mengungkapkan, pasar tradisional masih akan dominan menjadi tujuan belanja masyarakat Indonesia pada 2009 dengan estimasi sebesar 80%. Sementara 20% market share pasar modern masih memiliki ruang untuk tumbuh di Indonesia. ”Perilaku belanja masyarakat Indonesia pada 2009 ini bisa ke pasar basah atau tradisional dua hari sekali,atau bahkan mungkin setiap hari.

Lokasi terdekat juga menjadi alasan nomor satu masyarakat dalam berbelanja. Jadi masyarakat cenderung berbelanja ritel ke lokasi toko atau pasar tradisional di dekat rumahnya,” kata Manajer Senior Pelayanan Peritel Nielsen Indonesia Hendra Gunawan.

Menurut Hendra, fakta ini disebabkan kondisi ekonomi yang sedang tidak menguntung kan akibat krisis global, sehingga masyarakat harus berhitung ulang dalam mengatur pengeluaran belanja.

Krisis global mengakibatkan tekanan ekonomi keuangan keluarga. Kondisi ini berimplikasi pada kebijakan uang ketat yang diterapkan keluarga. Berdasarkan riset Nielsen Indonesia (Homepanel Service 2008), jumlah kunjungan belanja mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Dari riset yang dilakukan di lima kota besar Indonesia, kunjungan belanja grosir rata-rata setahun per rumah tangga turun dari 210,2 kali menjadi 206,2 kali (-2%). Begitu juga kunjungan ke toko modern yang turun dari 31,3 kali menjadi 27,4 kali (-13%). Sementara kunjungan ke toko dan pasar tradisional turun dari 190,5 kali menjadi 187,9 kali (-1%).

Dari riset tersebut juga terungkap, untuk menekan pembelanjaan yang tidak direncanakan, konsumen mengurangi kunjungan ke toko modern.Sebaliknya,untuk menghemat uang belanja keluarga, konsumen meningkatkan pembelanjaan ke toko dan pasar tradisional.

Kunjungan belanja ke pasar tradisional berdasarkan riset tersebut naik 16%, dengan total belanja rata-rata naik 16%.Begitu juga rata-rata belanja per rumah tangga naik 21%. Kondisi ini tak jauh berbeda dari hasil Shoppertrend Study 2008 Nielsen yang dilakukan Oktober 2008.

Terdapat indikasi yang sama di wilayah Jakarta,Bogor,Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), di mana toko tradisional dipilih sebagai primadona belanja. Fakta ini terlihat dari sejumlah komoditas yang banyak dibeli konsumen.

Untuk buah naik dari 12% (2007) menjadi 25% (2008).Kemudian, komoditas lainnya seperti daging naik dari 5% (2007) menjadi 3% (2008) dan ikan dari 10% menjadi 17%.Dalam studi tersebut terungkap, rata-rata belanja ke pasar tradisional masih tetap sama antara 2007 dan 2008.

Di antaranya untuk belanja komoditas buah 36%, daging 62%, dan ikan 53%. Lalu,untuk penghematan, tidak sedikit keluarga yang memilih berbelanja di pedagang keliling (gerobak sayur).Hal ini terlihat dari hasil riset yang mengungkapkan belanja buah di gerobak sayur meningkat dari 18% menjadi 20%,daging stabil 8%,dan ikan dari 17% menjadi 20%.

Perilaku masyarakat Indonesia yang lebih menyukai membeli barang-barang segar bisa menjadi peluang bagi pasar tradisional. Menurut Hendra, 50% anggaran belanja yang dimiliki masyarakat, umumnya dibelanjakan untuk barang-barang segar, seperti sayuran, ikan,buah,dan lainnya.

Dengan pola belanja satu atau dua hari sekali dan lokasi dekat dengan tempat tinggal, hal ini akan semakin menguntungkan pasar atau toko tradisional. ”Mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki pola hidup modern, seperti belum semua memiliki kulkas untuk menyimpan makanannya.

Mereka akan cenderung memilih belanja barang segar. Pola perilaku seperti ini hampir mirip dengan perilaku belanja masyarakat Filipina,”ungkapnya. Nielsen mencatat, pertumbuhan ritel Indonesia pada 2008 sebesar 21,1% berkat dorongan ekspansi ritel modern (distribusi dan promosi).

Pertumbuhan belanja iklan total naik 19%.Terjadi perubahan gaya hidup dan perilaku belanja di kota, penurunan ukuran produk manufaktur sehingga lebih terjangkau konsumen,inovasi produk mengikuti tren konsumen yaitu ke arah orientasi kesehatan,kemasan yang baik dan murah.

Serta kenaikan penjualan pada waktu Lebaran (2008) yang mencapai 32%. ”Angka pertumbuhan yang tinggi tersebut mengandung inflasi. Konsumen beralih ke toko tradisional dan pasar tradisional. Ada hal yang menarik terjadi pada 2008, di mana sebagian konsumen berpindah dari toko modern ke toko tradisional dan pasar tradisional sebagai solusi uang ketat di keluarga,” ujar Direktur Pelayanan Peritel Nielsen Indonesia Yongky Susilo.

Pada 2008, penjualan barang konsumen melalui toko tradisional meningkat sangat tinggi sebesar 19,6%.Data Homepanel Nielsen di Jabodetabek dan Bandung,terjadi pertumbuhan angka penetrasi ke toko tradisional,frekuensi belanja, besaran uang belanja per kunjungan, dan rata-rata total belanja per rumah tangga.

Sementara studi ShopperTrends 2009 juga mencatat,toko tradisional dipilih sebagai tempat yang dipakai paling sering untuk membeli makanan atau meningkat 13–25% dari total konsumen. Pasar tradisional sebagai tempat yang paling sering dipakai untuk membeli daging dan ikan segar naik sekitar 60%.

Penjualan ritel barang konsumen di Indonesia diperkirakan akan tumbuh sekitar 15% pada 2009 ini.Toko tradisional diperkirakan mendominasi 80% pembelanjaan ritel Indonesia dan akan terus tumbuh.

Berdasarkan penjualan 55 produk kategori Nielsen termasuk rokok, toko tradisional masih menguasai 80% dari total nilai penjualan, sedangkan pasar modern sekitar 20%.Kedua format tempat belanja ini masih tumbuh. Sementara nilai penjualan barang konsumen melalui ritel modern tumbuh sebesar 17,9% dan melalui toko modern tumbuh sebesar 10,2% pada Januari 2009.

Renovasi Pasar Tradisional

Bagaimanapun, optimisme tentang peluang tumbuhnya toko dan pasar tradisional pada 2009 ini tidak akan terwujud apabila tidak ada langkah nyata dari semua stakeholder terkait. Sebab, berdasarkan catatan Nielsen selama 2008, ekspansi pasar modern tumbuh 27,5% dibanding 2007.

Baik itu hypermarket,supermarket,minimarket, atau lainnya. Berdasarkan data asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), pada 2003 jumlah pasar tradisional di Indonesia sebanyak 13.450 buah yang di dalamnya menjadi tempat sekitar 12,6 juta pedagang melakukan kegiatan ekonomi.

Melalui Departemen Perdagangan (Depdag), pemerintah berencana akan merevitalisasi sebanyak 72 pasar tradisional di beberapa wilayah di Indonesia. Pada Oktober 2009,pelaksanaan program renovasi 31 pasar dengan dana stimulus ekonomi dan Dipa Depdag sebesar Rp310 miliar ditargetkan harus selesai.

”Masing-masing pasar bisa mendapatkan dana renovasi antara Rp10–20 miliar karena mengalami kerusakan parah. Banyak pasar tradisional yang sangat tua. Sepanjang dia wujudnya bukan tanah kosong, kita sebutnya renovasi,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag Subagyo (SI/18/3).

Menanggapi ini, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menyatakan,pola perilaku masyarakat yang kembali memilih pasar dan toko tradisional hampir mirip dengan yang terjadi pada krisis 1998.

Menurut dia, dampak krisis ekonomi yang mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat justru memberikan hikmah bagi pedagang pasar. Sebab, masyarakat kembali berbondong-bondong belanja ke pasar tradisional.

”Pola ini hampir sama dengan krisis sepuluh tahun silam.Sehingga kembali kami meminta agar pemerintah meninjau ulang segala aturan terkait pemberian izin didirikannya pasar modern.

Baik itu dalam hal mempertimbangkan faktor tata kota, lalu lintas jalan raya, lingkungan, dan estetika,” paparnya kepada SI. Mengenai rencana penggelontoran dana stimulus guna revitalisasi sebagian pasar di Indonesia, menurut Ngadiran, harus diperjelas aturan pelaksanaannya.

Fakta di lapangan menunjukkan, renovasi dan revitalisasi pasar bukan memberikan manfaat kepada pedagang pasar, tapi justru berakibat menyingkirkan pedagang dan tidak bisa melakukan kegiatannya lagi. Sebab,pasar yang sudah direnovasi biasanya mewajibkan pedagang membeli kembali dengan harga sangat tinggi dan tidak terjangkau. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/225033/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment