Monday, 30 March 2009
MESKI saat ini cara belanja secara onlinemulai populer, pola itu belum digemari masyarakat Indonesia. Padahal,di negara lain di Asia, belanja online semakin menjadi tren.
Setidaknya, belanja dengan cara online kini semakin membudaya bagi masyarakat Korea Selatan (Korsel),Jepang,dan Taiwan. Kalangan remaja di beberapa negara di Asia sudah menganggap belanja secara online sebagai salah satu gaya hidup. Bukan hanya berbelanja pakaian, tas, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pengunduhan (download) musik hingga perhiasan.
Tren belanja online semakin mewabah, di Asia pertumbuhannya tergolong sangat cepat. ”Saya suka berbelanja pakaian secara online karena tidak ada pramuniaga yang akan menekan dan memaksa saya untuk membeli,”kata Cecilia Wang (23),mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Taipei, sebagaimana dikutip Reuters(18/2).
Cecilia mengaku menghabiskan sekitar USD43 per bulan untuk belanja melalui internet. Faktor kenyamanan,yakni hanya sekadar duduk di dalam kamar dan kemudian berbelanja, menjadi alasan Cecilia sangat menyukai berbelanja online. ”Ini sangat menyenangkan,” katanya.
Penjualan secara retail melalui internet semakin meningkat tajam di wilayah Asia.Ini karena infrastruktur telekomunikasi semakin diperbaiki. Selain itu, sistem pembayaran yang semakin dijamin keamanannya pun menjadi daya tarik.
Meski berdasar data www.internetworldstats. com persentase populasi yang memiliki akses internet masih sebesar 17% di Asia,jauh di bawah Amerika Utara 73% dan Eropa 50%, seiring dengan membaiknya infrastruktur dan meningkatnya minat masyarakat menggunakan internet, produsen melihat ini sebagai peluang media pemasaran yang cukup efektif.
Sebagaimana di China dan India,pemasaran melalui internet ditargetkan bisa tumbuh 20% pada 2009. Sementara di Jepang,pertumbuhannya ditargetkan sebesar 40% per tahun. Lembaga riset pasar Euromonitor International melansir, penjualan retail secara online di Asia Pasifik akan tumbuh dua kali lipat pada 2012 dengan nilai sekitar USD71 miliar dibanding 2007,meski angka itu masih sangat kecil dibanding Amerika Serikat (AS).
Sementara itu,Lembaga Riset Forrester Research melaporkan, nilai belanja online masyarakat AS pada 2008 mencapai USD141 miliar,dan diprediksikan bakal meningkat menjadi USD156 miliar pada 2009. Menurut Lembaga Akuntan Publik KPMG, pemasaran retail secara online kini semakin mapan di beberapa negara seperti Taiwan, Korsel,dan Jepang.
Negara-negara ini mampu menunjukkan pertumbuhan jasa dan akses internet yang demikian cepat, bahkan dianggap paling efektif di dunia. Di Taiwan, misalnya, transaksi belanja online meningkat 32,3% menjadi USD243 miliar pada 2008. Lembaga untuk Industri Informasi (Institute for Information Industry) Taiwan melaporkan, kebanyakan masyarakat berbelanja pakaian, peralatan kecantikan, dan produk kesehatan.
Berdasarkan hasil analisis penggunaan Visa e-Commerce yang menyurvei 3000 pengguna internet di Australia, India, Jepang, Singapura, Korea Selatan,dan Hong Kong,menemukan rata-rata nilai belanja yang dikeluarkan masyarakat dalam 12 bulan sebanyak USD3.000.
Jika negara-negara lain belanja online sedang mewabah, tidak demikian halnya dengan Indonesia. Berdasar hasil survei Nielsen pada 2008, hanya 51% pengguna internet yang menyatakan belanja online dari 511 responden yang disurvei.
Total responden yang disurvei di wilayah Asia Pasifik sebanyak 7.500 pengguna internet dan secara global 26.312 responden. Korea Selatan menempati urutan pertama, baik di wilayah regional Asia Pasifik maupun global dengan 99% responden menyatakan internet sebagai media belanja.
Disusul Jepang (97%),Taiwan (93%), China (83%), India (78%), Hong Kong (77%),Malaysia (70%),Thailand (61%),dan Vietnam (58%).Indonesia hanya sebanyak 51% responden yang menyatakan menggunakan internet sebagai media belanja. Secara global, pengguna internet yang belanja online terbesar adalah Inggris dan Jerman (97%), dan Amerika Serikat (94%).
Tiket Pesawat Tertinggi
Executive Director Client Solutions Nielsen Indonesia Catherine Eddy mengestimasikan, internet digunakan oleh 8% masyarakat perkotaan, dan persentasenya lebih rendah bagi masyarakat pedesaan pada 2008.Kebanyakan pengguna internet adalah pelajar atau mahasiswa (berjenis kelamin pria).
Sehingga hasil survei ini tidak bisa dijadikan generalisasi mewakili seluruh populasi penduduk Indonesia. ”Bagaimanapun, ini merupakan hal yang menarik untuk melakukan studi perbandingan antara Indonesia dan negaranegara lain di dunia,”ujarnya.
Hasil studi yang dipublikasikan pada Maret 2008 itu juga menyebutkan tentang apa saja yang dibeli responden dalam kegiatan belanjanya via online selama tiga bulan terakhir.Terungkap, sebanyak 40% responden di Indonesia menyatakan terbiasa membeli atau memesan tiket pesawat secara online.
Ini merupakan tertinggi jenis produk yang dibeli masyarakat Indonesia lewat dunia maya. Kemudian, diikuti buku (37%), pakaian,sepatu dan aksesori (21%), elektronik (21%), video/ DVD/ games (20%),peranti lunak komputer (20%),pemesanan travel dan hotel (13%),musik (9%),peranti keras komputer (9%),
kosmetik dan makanan suplemen (4%), boneka (3%), tiket pertunjukan (3%), peralatan olahraga (3%), suku cadang automotif (1%),barang-barang grosir (1%),dan lainnya (22%). Secara regional di Asia Pasifik, yang tertinggi dibeli secara online adalah buku (46%); pakaian,sepatu, dan aksesori (38%); kosmetik dan makanan suplemen (27%); produk grosir (26%); tiket pesawat (24%); elektronik (22%); dan lainnya (18%).
Dengan demikian,perilaku belanja responden masyarakat Indonesia dengan responden di negara lainnya agak berbeda. Hal ini juga terlihat dari cara yang digunakan untuk belanja online antara responden masyarakat Indonesia dan rata-rata responden Asia Pasifik. Ketika ditanya tentang situs apa yang membantu belanja, 51% responden masyarakat Indonesia menjawab dengan situs mesin pencari, sedangkan Asia Pasifik hanya 28%.
Adapun yang tertinggi atau 60% responden Asia Pasifik menyatakan,mereka belanja melalui situs yang sudah biasa mereka kunjungi sebelumnya,sementara dan hanya 40% responden Indonesia yang menyatakan menggunakan cara ini. Oleh karena itu, potensi pemasaran secara online masih sangat terbuka di Indonesia.
Senior Manager Retailer Service Nielsen Indonesia Hendra Gunawan mengatakan, saat ini diestimasikan baru 11% dari total penduduk Indonesia yang sudah mengakses internet. Menurut dia, minimnya jumlah pengguna internet di dalam negeri lebih karena infrastruktur yang belum memadai di seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, biaya jasa internet terjangkau kebanyakan penduduk Indonesia.Padahal, Nielsen mengestimasi sekitar 875 juta orang dari penduduk dunia melakukan belanja secara online pada 2008. Itu berarti lebih dari 85% populasi pengguna internet dunia sudah berbelanja secara online.
Angka ini meningkat sebesar 40% dibanding dua tahun sebelumnya. ”Jika nantinya infrastruktur semakin baik dan jasa internet semakin terjangkau sebagian besar masyarakat,mungkin angka pengguna internet yang belanja online akan semakin naik,” ujarnya kepada SI. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/225032/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment