Selasa, 17 Maret 2009

Penurunan Suku Bunga Kredit - Transmisi BI Rate Lambat

Sunday, 15 March 2009
BI Rate telah turun beberapa kali,tetapi suku bunga pinjaman tetap tinggi. Konsekuensinya, dunia usaha dan masyarakat tetap dihadapkan pada persoalan tanggungan kredit yang cukup berat.

Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 50 basis poin menjadi 7,75%.Tercatat, sejak Desember 2008,BI sudah empat kali menurunkan BI Rate.Per November, BI Rate masih di angka 9,50%, kemudian diturunkan 0,25 basis poin pada Desember sehingga menjadi 8,75%.

Lalu,Januari 2009 diturunkan lagi dan selanjutnya pada Februari menjadi 8,25%.Terakhir,Maret 2009 menjadi 7,75%.Terhitung sejak November hingga Maret, secara kumulatif BI telah menurunkan BI Rate sebesar 1,75%. Kebijakan bank sentral itu sebagai upaya mengatasi keketatan likuiditas.

Tujuannya itu agar menggairahkan ekonomi di dalam negeri sehingga meminimalisasi dampak krisis. Meski BI Rate telah turun, suku bunga pinjaman tetap bertengger tinggi.Konsekuensinya,dunia usaha dan masyarakat akan tetap dihadapkan kepada persoalan tanggungan kredit yang cukup berat.

Situasi ini semakin menguatkan asumsi bahwa upaya bank sentral menurunkan BI Rate gagal ditransmisikan ke penurunan suku bunga bank.Tercatat, suku bunga bank untuk kredit modal kerja dan investasi berada di kisaran terendah 16% dan maksimal 18%. Sementara untuk lembaga pembiayaan menetapkan suku bunga di kisaran 22–24%.

Tingginya suku bunga seperti itu, biaya produksi barang yang dalam beberapa waktu terakhir ini cukup tinggi akan sulit untuk ditekan. Beberapa kalangan menilai, saat perekonomian menghadapi krisis,semestinya suku bunga bank diturunkan serendah mungkin.Tujuannya agar sektor riil bisa bergerak lebih leluasa, termasuk perekonomian masyarakat bisa menggeliat.

Maklum, di tengah menurunnya daya beli masyarakat sementara suku bunga tetap bertengger setinggi langit, masyarakat dan dunia usaha dikhawatirkan semakin sulit berkembang. Sejumlah kalangan menilai posisi suku bunga di dalam negeri saat ini sulit diterima akal sehat.

Sebagai perbandingan, ketika BI Rate di-turunkan menjadi 7,75%, Fed Fund Rate sudah di bawah 1%.Spread antara BI Rate dengan suku bunga komersial masih sangat lebar,sekitar 8–10%. Oleh karena itu, sejumlah kalangan juga menyayangkan langkah BI menurunkan BI Rate tidak segera diikuti kalangan pelaku usaha perbankan nasional untuk menurunkan suku bunga kreditnya.

Ancaman krisis likuiditas akibat dampak krisis global masih menjadi alasan utama beberapa bank enggan menurunkan suku bunga kredit. Ketua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin dan Ketua Umum Asosiasi Rekanan dan Distribusi Indonesia (Ardin) Bambang Soesatyo menilai penurunan BI Rate ke level 7,75% belum bisa menjamin penurunan suku bunga bank.

Kondisi ini sudah tercermin pada penurunan BI Rate sebelumnya, yang belum diikuti oleh penurunan suku bunga. Untuk itu, Bambang berharap stimulus fiskal 2009 segera diimplementasikan dan tepat sasaran.Sebab,realisasi proyek-proyek dalam stimulus mampu memulihkan likuiditas rupiah di pasar dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan kredit di masa mendatang.

”Masalahnya adalah perbankan masih diselimuti masalah likuiditas yang kering. Artinya, penurunan BI Rate belum tentu mendongkrak permintaan kredit perbankan,” papar Bambang, sebagaimana dikutip SINDO pada Rabu (11/3). Menurut Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Intan Abdams Katoppo, sebenarnya bank-bank pemerintah sudah mulai menurunkan suku bunganya sejak sebulan lalu menyusul penurunan BI Rate.

Persentase angka penurunan berbeda-beda karena mempertimbangkan kondisi perusahaan masingmasing. BNI sudah menurunkan suku bunga kredit antara 0,25–5% berdasar jenis kreditnya.”Untuk bunga deposito diturunkan dari 6,5% menjadi 6%, sementara suku bunga kredit antara 11–15% dari yang dulunya mencapai 15,5%, ”ungkap Intan ketika dihubungi SINDO.

Meski demikian,setelah menurunkan suku bunga,bank pemerintah belum menurunkan kembali setelah BI Rate diturunkan untuk keempat kalinya sejak Desember 2008. Alasannya, lanjut Intan,gerakan penurunan suku bunga kredit yang dilakukan bank pemerintah ternyata tidak diikuti bankbank lain.

Akhirnya, hingga saat ini bank-bank pemerintah masih bersifat menunggu (wait and see) agar gerakan penurunan suku bunga kredit ini bisa dilakukan secara bersama oleh seluruh pelaku usaha perbankan. Sebab,jika hanya dilakukan beberapa perbankan, bank-bank pemerintah akan terancam likuiditasnya.

Salah satu strategi untuk meningkatkan angka likuiditas adalah melalui deposito. Jika bunga deposito tidak bersaing dengan bank lain, kecil kemungkinan untuk bisa meningkatkan jumlah nasabah. Apalagi di era pasar bebas seperti sekarang ini,kalangan perbankan beramairamai menaikkan suku bunga deposito guna menarik lebih banyak nasabah.

Padahal, kenaikan atau penurunan suku bunga deposito sangat berkorelasi dengan turunnaiknya suku bunga kredit. Meski BI Rateturun,sementara bunga deposito belum turun,maka suku bunga kredit akan sulit untuk turun. ”Ini murni karena free market.Bagi kami, jika gerakan penurunan suku bunga kredit ini sudah dilakukan secara serentak bersama itu akan adil.

Namun, jika hanya kami, sementara bank swasta lain tidak melakukannya, kami akan terancam krisis likuiditas,” tandas Intan. Kendati demikian, ternyata tidak banyak cara yang bisa dilakukan oleh BNI untuk menurunkan suku bunga kredit.

Bagaimanapun BNI merupakan, sebuah perusahaan yang harus menjaga kinerja perusahaan agar tetap tumbuh di tengah persaingan saat ini.Menurut Intan,hanya melalui wadah asosiasi atau peran pemerintah (BI) yang bisa mendorong dilakukannya penurunan suku bunga kredit.Pemerintah tidak hanya melakukan imbauan, tetapi harus lebih tegas agar suku bunga kredit bisa secara serentak diturunkan kalangan perbankan.

”Niat kami menurunkan suku bunga kredit selalu ada. Harusnya, inisiatif yang kami lakukan sejak sebulan lalu, diikuti bank-bank lain. Jika tidak, kami akan kesulitan bersaing dengan bank-bank swasta,”ungkapnya. Hal senada diungkapkan Wakil Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan (Corporate Secretary) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Muhammad Ali.

Menurut dia, BRI sudah menurunkan suku bunga kredit secara bertahap seiring dengan penurunan BI Rate.Tercatat, saat ini suku bunga komersialuntukBRIsekitar13– 15,5%,sedangkan counter deposito antara 6–7,5%.Persentase penurunan ini antara 0,5–1%. ”Funding cost juga telah menurun paralel dengan penurunan BI Rate, penurunan bunga kredit dan bunga dana deposito 0,5% hingga 1%,”ujarnya.

Perbankan enggan menurunkan suku bunga dengan alasan ketatnya likuiditas, ditandai dengan penurunan pertumbuhan kredit.Pada Januari 2009 turun 2,1% dari Rp1.307,688 triliun menjadi Rp1.280,226 triliun. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/221169/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment