Selasa, 10 Maret 2009

Strategi Perbankan Syariah Di Tengah Krisis global - Berpacu Menuju Beyond Banking

Monday, 09 March 2009
INOVASI kalangan pelaku industri perbankan syariah untuk menggaet nasabah tiada henti. Jenis-jenis produk syariah pun beragam.

Tidak hanya sekadar tabungan, deposito, giro, tetapi juga sudah merambah penyediaan kartu kredit berbasis syariah dengan menggunakan brand islamic banking(IB).Begitu juga dari sisi pembiayaan.Selain kredit modal kerja,konsumsi, perbankan syariah juga menyediakan kredit pemilikan rumah yang menggunakan mekanisme bagi hasil.Justru, ada beberapa item produk bank syariah yang tidak mampu disediakan bank konvensional.

Produk gadai syariah misalnya,pada bank konvensional tidak dikenal sistem pegadaian.Hingga saat ini,jasa gadai yang ditawarkan bank syariah masih sebatas untuk gadai emas.Beberapa bank syariah yang telah menawarkan jenis jasa ini di antaranya BNI Syariah,Permata Bank Syariah, dan lainnya. Artinya, berbagai inovasi yang dilakukan semakin menegaskan bahwa bank syariah tak kalah dibanding bank konvensional.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Chalimah Fadjriah mengakui, agresivitas kalangan perbankan syariah untuk merebut pasar cukup mengesankan. Oleh karena itu,pihaknya akan terus mendorong agar perbankan syariah semakin agresif untuk mengembangkan bisnisnya. Baik itu untuk menarik lebih banyak debitur maupun kreditur. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 2009 mencapai 5%,maka total nilai aset bank konvensional akan mencapai angka Rp1.800 triliun.

”BI mengajak semua teman-teman bank syariah untuk secara bersama-sama menggencarkan pemasaran agar bisa mencapai pertumbuhan signifikan. Paling tidak nilai aset bisa mencapai angka Rp90–100 triliun pada 2009 ini,” katanya saat berbicara pada acara diskusi Peluang dan Tantangan Bank Syariah di Tengah Krisis Global di redaksi harian Seputar Indonesia beberapa waktu lalu. Pertumbuhan industri perbankan syariah cukup mengesankan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan catatan Asian Development Bank (ADB), diperkirakan aset-aset lembaga keuangan islami secara global mencapai angka USD1 triliun dengan pertumbuhan sekitar 10–15% per tahun.Perkiraan ini realisasinya bisa lebih tinggi,sebab perkembangan industri ini telah menarik minat banyak perusahaan perbankan. BI memprediksi,pertumbuhan aset perbankan syariah pada 2009 akan mencapai 25–30%, di mana prediksi ini didasarkan atas asumsi pertumbuhan ekonomi 4,5–5%.

Dengan prediksi total nilai aset perbankan syariah pada 2009 diperkirakan mencapai angka Rp70–90 triliun.Sementara untuk angka kredit macet diprediksi masih akan di kisaran 4–5%. Meski demikian, diprediksi akan semakin banyak pemain baru pada 2009 ini mengingat potensi bisnis perbankan dengan brand beyond banking ini. Apalagi,BI memiliki tiga skenario pertumbuhan bank syariah tahun ini.

Pertama,skenario optimistis,yaitu aset perbankan syariah tumbuh menjadi Rp127 triliun,atau 5% total aset perbankan nasional.Kedua, skenario moderat, aset perbankan syariah naik jadi Rp80 triliun–Rp90 triliun. Ketiga, skenario pesimistis, yakni aset perbankan syariah hanya akan tumbuh menjadi Rp65 triliun.Dari tiga skenario tersebut,BI memproyeksikan aset perbankan syariah tahun ini tumbuh di tingkat moderat.

Kini dengan berbagai macam inovasi dan penawaran produk, perbankan syariah bahkan mampumewujudkanmisinyauntukmenjadibukansekadar biasa (beyond banking). ”Sekarang kita berubah dan melakukan perbaikan terus. Kita punya keunggulan di sistem syariah bagi hasil yang transparan dan berdasar kesepakatan dengan nasabah,” ungkapnya.(abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/category/94/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment