Selasa, 17 Maret 2009

Remaja-Remaja Inovator - Perubahan, Sebuah Epidemi Sosial

Saturday, 14 March 2009
Untuk melakukan perubahan tidak melulu harus dengan ide besar.Cukup sebuah ide sederhana,tetapi bisa dilakukan semua orang secara mudah.


The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Differences (Tipping Point: Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar) adalah buku karya Malcolm Gladwell yang menjadi best-seller internasional. Buku ini menuturkan kisah pertualangan intelektual yang ditulis dengan ide-ide baru yang menularkan semangat untuk kekuatan dan kebahagiaan.

Buku ini memaparkan cara baru dalam memahami perihal perubahan yang sering terjadi dengan cepat dan tidak terduga.Dalam buku ini dijelaskan bahwa perubahan tak ubahnya sebuah epidemi (wabah) sosial. Dalam buku ini Gladwell memperlihatkan beragam tipe kepribadian tertentu yang menyebarkan ide-ide dan tren baru secara natural. Istilahnya, banyak orang yang berhasil menciptakan mekanisme getok tular.

Gladwell menuturkan bahwa sebuah perubahan besar tidak selamanya datang dari ide yang besar,melainkan cukup dengan ide sederhana tetapi bisa diikuti banyak orang.Terkadang, perubahan bisa muncul karena sebuah keprihatinan. Keinginan mengatasi masalah cenderung menjadikan seseorang melakukan inovasi. Namun, untuk membuat inovasi bisa berdampak pada perubahan sosial tidak semudah menjentikkan jemari tangan.

Terlebih jika ide perubahan itu datang dari seorang remaja yang biasanya dianggap belum kenyang pengalaman. Kondisi ini yang pernah dialami Asep Ramdhani, 17, peraih penghargaan Young Changemaker Ashoka Indonesia tahun lalu.Dia mengaku sempat mengalami kesulitan untuk meraih dukungan masyarakat akan ide perubahan. Pelajar sebuah sekolah menengah atas di Kota Kembang itu bermodalkan keteguhan membidani Bengkel Kreasi 19, sebuah komunitas untuk menaungi kaum remaja difabel (cacat fisik) di Kota Bandung.Ide ini muncul setelah Asep melihat orangtua dari 20 remaja penyandang cacat yang didampinginya jarang memberikan dukungan kepada anaknya.

Lewat Bengkel Kreasi inilah Asep memberikan kegiatan bagi kaum difabel. Lewat komunitas inilah remaja penyandang cacat yang sebagian besar adalah pekerja anak-anak di sektor alas kaki kembali memperoleh kepercayaan diri.Dalam pandangan Asep,kaum difabel juga bisa berkarya layaknya manusia lain asal diberi kesempatan. Dalam komunitasnya, kaum difabel tidak hanya dibantu memperoleh kepercayaan diri, tetapi juga diberi banyak bekal keterampilan dan pengetahuan.

Hingga saat ini, Bengkel Kreasi 19 telah memberikan beberapa peningkatan kapasitas terhadap remaja kaum difabel,di antaranya life skill education,pelatihan penyuluh sebaya untuk isu HIV/AIDS,dan beberapa pelatihan keterampilan seperti komputer,seni musik. Asep juga punya cara unik untuk membantu menumbuhkan kepercayaan diri para teman difabelnya.Dia pernah mengajak mereka nonton bareng film Laskar Pelangi di gedung bioskop. Upaya ini dilakukan Asep agar eksistensi kaum difabel semakin diakui masyarakat.

Dengan begitu,rasa kepercayaan diri mereka akan tumbuh,bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang berhak mendapatkan hiburan layaknya manusia lain. Saat memasuki bioskop, para remaja difabel ini justru menunjukkan kebersamaan. Mereka saling bantu satu sama lain. Maklum, di antara mereka ada yang menggunakan tongkat dan kursi roda.“Perhatian masyarakat di gedung bioskop menjadi tersita dengan kehadiran mereka.Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa kaum difabel juga ada.Mereka juga bisa melakukan sesuatu,” ungkap Asep kepada SINDO.

Asep lewat komunitasnya berhasil menyita perhatian publik. Setidaknya, dia telah melakukan perubahan sosial bagi sesama.Namun,Asep mengakui hingga kini masih kesulitan meyakinkan orangtua anggota komunitasnya. Meski begitu,Asep tidak patah semangat. Bahkan, dia berencana memperluas jaringan komunitasnya untuk meraih lebih banyak dukungan. Ide perubahan yang bermula dari sebuah keprihatinan juga dilakukan Anugerah Nurrewa, 23, yang juga peraih Young Changemakers 2008.

Ide remaja yang akrab disapa Aso ini adalah dengan memanfaatkan ruang-ruang publik yang tidak terpakai untuk tempat bermain anak-anak.Ide ini ber-mula setelah Aso melihat banyak lahan kosong di bawah Jembatan Pasopati, Bandung. Padatnya penduduk Kota Bandung semakin tidak menyisakan lahan bagi anak-anak untuk bersosialisasi dan bermain. Aso yang hobi bersepeda ini kemudian menyulap kolong jembatan layang menjadi tempat bermain sepeda bagi anak-anak yang disebut dengan program Kolong Gembira.

Bersama sejumlah rekannya, Aso berencana membuat tempat bermain anak-anak di sekitar Pasopati. Aso rencananya akan menggelar lomba sepeda dalam waktu dekat.Namun, hingga saat ini idenya masih terganjal perizinan.Meski demikian,Aso tidak patah semangat dan akan tetap mencari cara agar idenya bisa terwujud. “Kami masih menunggu proses perizinan.Jika ini berhasil,anak-anak di sekitar Jalan Pasopati akan memiliki lahan untuk bermain,” tuturnya kepada SINDO.

Di lokasi yang disebut Kolong Gembira itu,Aso juga membuat program Pasopati Extreme Park yang bertujuan menyediakan lahan bagi para remaja yang hobi berolahraga sepeda ekstrem.Ada juga program Pojok Hejo, yakni fokus pada penyediaan informasi dan diskusi lingkungan hidup serta pusat daur ulang kertas.

Tanpa Kantong Plastik

Berbagai ide perubahan bisa dilakukan dalam bidang apa saja. Sebut saja M Bijaksana Junerosano dengan komunitasnya,Greeneration Indonesia (GI).Komunitas ini punya program kampanye antipenggunaan kantong plastik.

Solusinya, mereka menawarkan penggunaan produk kantong yang terbuat dari kain parasit yang bentuknya mirip kantong plastik yang bisa dilipat dan dijadikan sebagai gantungan kunci. Menurut remaja yang akrab disapa Sano itu, produk yang menggunakan merek Bagoes (reusable bag) tersebut merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah kantong plastik yang berdampak buruk pada lingkungan. Kantong Bagoes yang dijual mulai dari harga Rp15.000 sampai 45.000 itu laris terjual karena desain dan bentuknya yang unik dan lucu.

“Agar kampanye kita bisa diterima masyarakat, kita harus bisa membuat produk dan brand.Produk itu harus dijual. Jika tidak, sulit untuk diterima masyarakat,” ungkap Sano, peraih Young Changemakers Ashoka Indonesia 2007. (abdul malik/ islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/220975/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment