Saturday, 14 March 2009
”To give pleasure to a single heart by a single act is better than a thousand heads bowing in prayer”.(’Memberi kebahagiaan kepada sebuah hati dengan suatu tindakan nyata sederhana,lebih baik dibanding ribuan kepala yang bersujud dalam doa’).
Kalimat bijak yang diungkapkan pejuang perdamaian India Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi) sering kali menjadi acuan bagi mereka yang ingin melakukan perubahan. Ya,sebuahperubahanbesartidak perlu dilakukan dengan ide dan aksi besar.Cukup dengan sebuah ide sederhana, dunia bisa diubah. Ide sederhana juga yang menjadi inspirasi Mimi Leder,sutradara film Pay it Forward yang diproduksi pada 2000.Film ini mengisahkan sebuah ide sederhana dari seorang anak kecil berusia 11 tahun,Trevor McKinney, yang dibintangi Haley Joel Osment.
McKinney hidup bersama ibunya,Arlene,yang diperankan aktris peraih Oscar 1998 Helen Hunt. Dikisahkan, ibu McKinney adalah seorang pemabuk, sedangkan ayahnya jarang di rumah. Kisah film ini berawal pada saat seorang guru ilmu sosial di sekolah McKinney memberikan sebuah tugas. Sang guru,Mr Eugene Simonet, yang diperankan Kevin Spacey,meminta para murid memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta mewujudkan ide tersebut ke dalam aksi nyata.Lalu,McKinney mencetuskan ide Pay it Forward(’bayar di muka’). Inti ide McKinney hanya perlu menolong tiga orang.
Tahap pertama, McKinney membantu teman,seorang guru ilmu sosial di sekolahnya, dan seorang pemakai narkoba. Orang yang ditolongnya tidak perlu membayar apa-apa. Setiap orang yang ditolong wajib menolong tiga orang lainnya,dan tiga orang ini melanjutkanmenolongsembilanorang lain lagi,demikian seterusnya seperti metode yang digunakan industri multilevel marketing (MLM).Rupanya, aksi McKinney berpengaruh cepat dan meluas hingga ke beberapa kota di sekitar tempat tinggalnya. McKinney tidak hanya melakukan ide perubahan, tetapi juga menyebarkan virus perubahan ke masyarakat.
Namun, ide McKinney tidak bisa cepat menyebar tanpa peran Chris (Jay Mohr),seorang jurnalis yang mencoba mencari tahu mengapa ada orang asing yang memberikannya sebuah Jaguar tipe-S. Ini semua terjadi setelah mobil Ford Mustang tahun 1965 miliknya remuk akibat kecelakaan. Ketika ditanya penyebabnya, orang asing yang memberikan Jaguar itu hanya menjelaskan,alasannya sangat sederhana yakni Pay it Forward. Lalu, Chris mencari tahu siapa orang di balik ide ini.
Akhirnya dia berhasil menemukan McKinney sebagai pencetus ide dan mewawancarainya. Setelah dimuat di media, semakin banyak orang yang tergerak untuk melakukan ide tersebut. Pay it Forwardmenjadi sebuah mata rantai perubahan sosial. Ide sederhana yang dilakukan McKinney juga terjadi di dunia nyata. Hal inilah yang dilakukan Kusuma Dyah Sekararum, 12, seorang remaja yang mendapatkan penghargaan Young Changemaker Ashoka Indonesia,tahun lalu.Ara— begitu dia biasa disapa—membuat ide sederhana yang dinamakan Moo’s Project, yakni pembuatan desa inkorporasi di Desa Blanten, Musuk,Boyolali,Jawa Tengah.
Kepada SINDO Ara menuturkan, ide dia muncul setelah melihat banyak kotoran sapi yang dihasilkan setiap hari,dan borosnya penggunaan pupuk organik yang dilakukan para petani. Idenya bermula ketika dia bersama sang ayah berkeliling ke Boyolali, yang merupakan pusat peternakan sapi.Ayahnya hendak mencari sapi kurban guna memperingati Idul Adha.
Saat tiba di Dusun Blanten,Ara prihatin melihat pengelolaan peternakan sapi yang buruk serta menimbulkan bau tidak sedap akibat kotoran sapi yang tidak diolah dengan benar.“ Kita jalan-jalan ke desa peternakan. Di situ kotor dan bau. Kita punya rencana membuat desa itu bersih,”kisah Ara dengan polos. Setelah menyaksikan kondisi tersebut, dia juga melihat, tidak ada niat dari para petani untuk melakukan proses pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik.
Lalu, dia berinisiatif sosial dengan menciptakan Moo’s Project. Kata Moosendiri berasal dari suara sapi, karena inisiatif yang dikembangkan adalah tentang pengolahan pakan dan kotoran sapi.Inisiatif ini dikembangkan dengan menyediakan tempat percontohan yang memiliki fasilitas barak pengolahan pakan dan kotoran sapi. Metode pengelolaan peternakan sapi bersih dalam Moo’s Project diadopsi Ara dari CV Lembah Hijau Multifarm (LHM), sebuah peternakan modern di Solo yang memiliki metode integrated farming system.
Tentu saja,Ara yang masih bocah belia tidak bisa melakukan perubahan sendirian.Ide itu disampaikan kepada orangtuanya dan mendapat dukungan. Setelah itu, Ara mulai melakukan pendekatan kepada para peternak dan anak muda di Desa Blanten.Awalnya,Ara mendapatkan penolakan. “Banyak orang curiga dan sulit sekali mengajak masyarakat.Ada yang mengira bahwa kita ini LSM yang punya tujuan lain.Ara hampir putus asa.Namun,kita terus berikan dia motivasi agar tidak menyerah,” ungkap Septi Peni Wulandari, ibu Ara yang juga peraih Fellowship Social Enterpreneur Ashoka 2007 lewat temuannya,Metode Jarimatika.
Masyarakat perlu bukti sebelum mereka benar-benar percaya dengan Moo’s Project. Lantas,Ara bilang kencing seekor sapi hanya akan menjadi limbah, tetapi jika 100 ekor menjadi uang.Ternyata hal itu terbukti.Sebab, air kencing sapi bisa menjadi pupuk cair dan per liternya dihargai Rp10.000. Dari situ,masyarakat mulai percaya. Yang semula hanya dua orang, kemudian berkembang menjadi 10 kepala keluarga (KK). Saat ini lebih dari 30 KK yang berpartisipasi dalam program ini.
Bahkan setelah melakukan pendekatan manajemen, LHM membantu menyediakan beberapa tenaga mentor untuk mendidik masyarakat mengelola peternakan dengan benar, serta memanfaatkan kotoran dan air kencing sapi sebagai pupuk yang kini menjadi sumber penghasilan utama masyarakat Blanten. “Ini tentang bagaimana membuat sebuah desa menjadi perusahaan. Usaha dari perusahaan desa tersebut tergantung dari mayoritas mata pencaharian warga,”kata Ara. Tercatat,per RW dikalkulasi ada sekitar 1.500 ekor sapi yang dikelola warga secara bersama.
Sementara itu,di Dusun Blanten ada 5 RW.Rencananya, Moo’s Project akan ditularkan ke seluruh RW.Untuk keberlanjutan program ini dibuat sebuah sistem yang dijalankan seorang integrator( penyatu).Hingga saat ini masih Ara sendiri yang bertindak sebagai integrator, dibantu sejumlah mahasiswa dari warga setempat.Para integrator baru dari warga setempat diciptakan lewat program pendidikan. Integrator inilah yang kemudian menularkan program serupa ke desa-desa lain,demikian seterusnya.
Satu bukti, meski berusia belia, Ara bisa menyebarkan virus perubahan kepada masyarakat sekitar. Aramenjadisebuahkisahnyata Payit Forwardyang dilakukan McKinney. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/220971/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment