Sunday, 04 January 2009
Apa yang harus dilakukan perusahaan dalam kondisi krisis? Tak satu pun perusahaan yang bisa benar-benar terbebas dari terpaan dampak krisis global saat ini. Karena itu diperlukan strategi jitu untuk melewatinya.
Hantaman krisis finansial global telah merobek ekonomi sejumlah negara, termasuk pada sektor riil mereka,menciptakan situasi sulit bagi perusahaan-perusahaan di penjuru dunia.Meskipun tingkat kesulitan yang dihadapi mungkin berbeda-beda, tapi dipastikan tidak ada perusahaan yang sepenuhnya terbebas dari dampak krisis.
Sebagaimana hasil studi yang dilakukan Kim Keun Young,seorang peneliti dari Lembaga Penelitian Ekonomi Samsung (Samsung Economic Research Institute/SERI), perusahaan yang benar-benar kuat dan mampu menunjukkan potensinya dengan optimal adalah yang mampu melalui masa krisis saat ini.
Kemampuan ini termasuk dalam hal merancang strategi tepat, mampu memperbaiki iklim bisnis, dan menemukan jalan keluar terbaik. Kim menilai seni ”perang kuno” (The Art of War),sebuah risalah militer China yang ditulis pada abad 6 SM bisa menjadi sebuah contoh strategi yang bisa diterapkan saat ini.
Seperti dipublikasikan dalam seriworld.org, Kim menggambarkan bahwa seni perang kuno China itu bisa ditiru perusahaan dalam menghadapi dampak krisis global seperti sekarang. Dalam risalah kuno tersebut dikisahkan tentang strategi yang dilakukan Jenderal Tian Ji, seorang pejabat senior yang tinggal di Negara Bagian Qi, China, dalam adu pacuan kuda dengan kaum bangsawan muda maupun raja.
Pacuan kuda ini sering kali dilakukan dengan taruhan cukup besar. Satu kali kontes pacuan kuda biasanya terdiri atas tiga balapan. Sun Bin—yang di kemudian hari dikenal menjadi ahli strategi Jenderal Tian— mengatakan kepada sang Jenderal bahwa setiap kekalahannya dalam pacuan karena selalu menggunakan kuda yang sama untuk melawan kuda kualitas terbaik, sedang, atau kuda yang buruk.
Sun Bin menyarankan kepada Jenderal Tian agar menggunakan kuda yang buruk untuk melawan kuda terbaik pesaingnya ketika mengikuti kontes pacuan pada putaran pertama. Untuk putaran kedua,Tian disarankan menggunakan kuda terbaiknya melawan kuda kualitas menengah lawannya.Kemudian untuk putaran ketiga, sang Jenderal disarankan menggunakan kuda kualitas menengah untuk bertanding dengan kuda lawan yang memiliki kualitas terburuk.
Setelah mengikuti saran tersebut, sang Jenderal mampu memenangkan pertandingan dan mendapatkan taruhannya. Jika strategi Sun Bin diterapkan pada dunia bisnis saat ini,perusahaan dengan sumber daya minim pun masih berpeluang untuk menang dalam pertarungan bisnis. Catatannya, harus dengan ukuran yang akurat dan strategi yang jitu. SERI menganalisa tentang bagaimana perusahaan-perusahaan jenis ini mampu melampaui badai krisis moneter 1997. (Joongang Daily,15/12/2008).
Hasil kajian SERI menemukan bahwa dua pertiga dari perusahaanperusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan penjualan dan labanya di atas 25% atas aset yang mereka miliki selama masa sebelum krisis 1997 justru tersungkur lebih dalam ketika krisis menerpa. Sementara perusahaan yang sebelumnya berkinerja di bawahnya,berhasil bertahan dan mencatat kenaikan pertumbuhan.
Poin penting dari hal ini adalah perusahaan-perusahaan yang berhasil bertahan melalui krisis ini mengandalkan strategi bisnis, bukan sumber daya yang mereka miliki. Penelitian serupa juga dikembangkan sebuah firma konsultan manajemen perusahaan tingkat dunia McKinsey & Company beberapa tahun lalu.
Studi ini menunjukkan bahwa sekitar 40% dari 25% perusahaan yang masuk kelompok teratas sebelum resesi AS pada 2000–2001 akhirnya ambruk dan keluar dari kelompok tersebut.Sementara perusahaan-perusahaan yang sebelumnya memiliki predikat peringkat lebih rendah, justru menunjukkan pertumbuhannya.
Perusahaan kelompok inilah yang sejak awal teruji dalam mengelola sumber daya dan target pasar mereka. Selama masa krisis, jumlah opsi strategi pun semakin menyusut. Umumnya strategi yang bisa digunakan adalah model bertahan.Misalnya, mengendalikan pengeluaran biaya, umumnya diterapkan perusahaanperusahaan ketimbang melakukan aksi lebih agresif untuk ekspansi.
Bagaimanapun pada saat tertentu bisa menjadi peluang bagi perusahaan apabila mencoba mengambil pola pandangan yang berbeda.Sementara kompetitor hanya fokus pada bagaimana agar bisa bertahan melalui masa krisis, sehingga lupa untuk menyiapkan strategi ke depan.
Sementara perusahaan lainnya menggunakan cara lain, yakni membangun strategi agresif untuk mencari peluang perubahan dalam ceruk pasar yang ada.Misalnya Corning, sebuah perusahaan produsen gelas dan keramik AS. Perusahaan ini menderita kerugian besar-besaran dalam unit bisnis serat optik setelah ledakan dunia dotcom pada 2000. Harga sahamnya terjun bebas menjadi hanya senilai USD1 pada 2002 dari USD100 pada Oktober 2000.
Ini menyebabkan setengah dari jumlah tenaga kerja perusahaan itu di PHK. Situasi yang hampir serupa juga dialami perusahaan teknologi informasi. Namun, Corning hanya mengalokasikan dana 10% dari hasil penjualannya untuk penelitian dan pengembangan, atau untuk memperkuat kompetensi dalam menjalankan bisnis ini. Pendekatan pemasaran yang dilakukan Corning membosankan, tidak kreatif,dan tidak sesuai dengan perkembangan pasar.
Contoh lainnya adalah strategi agresif melalui akuisisi. Jatuhnya nilai harga saham dan aset lainnya bisa dipertimbangkan sebagai pembukaan investasi baru. Gerakan-gerakan ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat kompetensi utama dalam menjalankan bisnis. Sebagai contoh, pada 2008, beberapa perusahaan pembiayaan Jepang yang bergabung lantaran ketakutan akibat jatuhnya saham Wall Street,AS.
Pada September 2008,perusahaan pembiayaan kelompok Mitsubishi membeli saham milik Morgan Stanley dan Nomura Holding yang melemah dari pasarAsia, Eropa,dan Timur Tengah.Hal ini terjadi pada masa kebangkrutan Lehman Brothers. Masa krisis sebenarnya hanyalah masalah waktu yang tepat, kapan harus melindungi aset, pencitraan global, sumber teknologi, dan keterampilan inti.
Perusahaan yang mampu mendongkrak kekuatan finansial atas sumber daya yang lemah dan sebelumnya tidak diperhitungkan, seperti misalnya kekuatan pencitraan atau merek, akan mampu memperoleh keuntungan.Akuisisi yang dilakukan beberapa perusahaan Korea Selatan Juni 2008 adalah contoh kasus dalam hal ini. Perusahaan produsen makanan ringan Lotte Confectionary digandeng Guylian,sebuah perusahaan dengan brand global tentang kemewahan cokelat Belgia.
Pada bulan yang sama, Dongwom Industries dibeli oleh Starkist, sebuah perusahaan pengalengan ikan tuna terbesar di AS, Del Monte Foods. Musim semi akan datang setelah musim dingin yang kejam. Setidaknya, perumpamaan itu harus menjadi pegangan bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya di tengah krisis seperti sekarang ini.
Banyak perusahaan yang sudah mulai bersiap diri. Apa yang akan menentukan kekuatan baru setelah masa krisis? Jawabannya bisa dimulai dengan mengidentifikasi apa langkah terbaik yang bisa dilakukan perusahaan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/201801/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment