Senin, 05 Januari 2009

Strategi Hadapi Krisis Global - Mengutamakan Prinsip Kehati-hatian

Sunday, 04 January 2009
Dalam menghadapi masa krisis saat ini,banyak perusahaan yang lebih memilih hati-hati dalam melakukan ekspansi.Sebab,jika ceroboh,bukan perkembangan yang didapatkan tapi justru bunuh diri.


Meski demikian, kehatihatian ini tidak membuat perusahaan-perusahaan mengesampingkan ekspansi.Perusahaan besar seperti General Motors yang pada krisis ini terkena dampak yang sangat besar hingga nyaris bangkrut pun tidak lupa mengagendakan ekspansi.

Rick Wagoner sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang sempat dirumorkan akan dipecat karena krisis, sangat optimistis bahwa GM akan bangkit dari krisis. Memang, sejumlah pengamat melayangkan keraguan terhadap perkembangan GM di bawah kendali Wagoner ke depan. Bahkan, ada beberapa yang menganggap Wagoner sebagai mesin perusak di dalam pabrikan mobil raksasa di dunia itu.

Meski demikian, beberapa pihak di GM optimistis terhadap Wagoner yang dinilai telah lama merasakan suka dan duka bersama perusahaan. ”Para pekerja GM, dealer, penyalur, dan dewan direktur GM sangat yakin bahwa Rick adalah orang yang pantas memimpin GM untuk melewati masamasa sulit,”ungkap juru bicara GM Steve Harris.

Menurut beberapa survei independen, GM diperkirakan mampu menjaga jarak kompetisi dengan pesaingnya, di antaranya Toyota. Bahkan, di bawah panduan dari Bob Lutz yang ditunjuk Wagoner pada 2001, untuk mengawasi pengembangan produk, GM kini tengah membuat sejumlah mobil sangat bagus, di antaranya Chevrolet Malibu,Cadillac CTS, dan Buick Enclave.

Pada November lalu,salah satu produk GM, Opel Insignia, terpilih sebagai mobil terbaik Eropa pada 2008.Salah satu agenda rencana besar Wagoner adalah berambisi meluncurkan mobil listrik revolusioner Chevrolet Volt pada 2010 mendatang.Menurut para analis, Wagoner sepertinya ingin menghadirkan pesaing baru bagi kendaraan Toyota Priusn.

Perusahaan automotif besar lain yang tetap akan mengambil langkah pengembangan adalah Toyota. Saat ini memang CEO Toyota masih dipegang Katsuaki Watanabe, tetapi rumor yang berkembang Akio Toyoda diproyeksikan akan menjadi CEO baru.Namun, siapa pun CEO-nya,Toyota Motor Corp diharapkan mampu mengatasi keterpurukan yang tengah dihadapi akibat krisis finansial global.

Akio sebelum menjabat CEO sejak 2003 lalu menduduki posisi sebagai Kepala Operasional Toyota di Asia dan China. CEO Toyota pada 2009 dituntut lebih inovatif lagi dalam mengeluarkan produk-produk terbarunya yang ramah lingkungan.Pertengahan Desember lalu,Toyota menegaskan komitmennya untuk bergabung dalam kampanye antiperusakan lingkungan.

Perusahaan tersebut sangat berambisi untuk mengembangkan sejumlah mesin dan kendaraan baru yang ramah lingkungan. Artinya,meski tengah berada dalam badai krisis,Toyota dituntut berekspansi dan hal itu minimal akan diwujudkan dalam bentuk produk ramah lingkungan. Salah satunya adalah ambisi perusahaan yang ingin mengembangkan mobil hybrid.

Dua perusahaan besar itu memberikan contoh bahwa ekspansi tetap menjadi keharusan.Tampaknya, ekspansi tetap menjadi kebijakan hampir semua perusahaan. Namun, perusahaan itu tetap mengedepankan kehati-hatian. Sebab, jika tidak bukannya keuntungan yang didapat malah kerugian yang akan mengancam.

Perusahaan minyak PT Pertamina dan perusahaan telekomunikasi Bakrie Telecom merupakan dua perusahaan domestik yang menerapkan strategi serupa. Vice President Komunikasi Pertamina Anang R Noor menyatakan, meskipun diprediksikan harga minyak mentah dunia pada akhir 2009 akan membaik, tapi Pertamina masih tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha.

Kenyataannya, perencanaan investasi sudah dilakukan jauh-jauh hari,sehingga harus direalisasikan perusahaan pelat merah ini.Meski demikian, realisasi investasi tidak lagi seagresif seperti sebelum masa krisis. ”Ada beberapa infrastruktur yang harus kami bangun tahun ini, kami juga harus melakukan beberapa investasi di industri hulu. Jadi, hal ini akan tetap kami lakukan tapi dengan kehati-hatian,” ujarnya kepada SINDO.

Dalam masa krisis seperti,Pertamina memang harus berhitung ulang untuk melakukan kinerja operasi perusahaannya. Bukan hanya karena faktor harga minyak mentah dunia yang turun selama beberapa waktu terakhir, tapi krisis global telah membuat beberapa instrumen pendukung pertumbuhan lainnya ambruk,seperti fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak menentu.

Dengan demikian, menurut Anang, Pertamina pun berpikir untuk mengoreksi target pertumbuhan tahun ini. ”Kita berhati- hati tapi kita tetap harus melakukan bisnis tidak kemudian semua berhenti.”tandasnya. Secara resmi,Pertamina melansir bahwa pada 2009 ini tidak hanya akan melakukan kegiatan investasi di dalam negeri,tapi juga akan terus mencari upaya untuk berinvestasi di luar negeri untuk sektor hulu.

Sementara di sektor hilir,Pertamina meneruskan program konversi elpiji dan akan mendistribusikan paket perdana hingga lebih dari 23 juta paket. Untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan akan elpiji seiring keberhasilan program konversi, Direktorat Pemasarandan Niaga Pertamina telah menyiapkan infrastruktur untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan.

Meskipun pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi melambat bahkan cenderung menurun pada 2009 ini,tapi Pertamina akan tetap melakukan investasinya.Di sektor hulu, secara keseluruhan investasi yang direncanakan Pertamina pada 2009 ini adalah sebesar Rp11,02 triliun. Sementara di sektor telekomunikasi, Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi menyatakan keoptimisannya mampu melampaui masa krisis.

Jastiro boleh tenang, sebab industri teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dianggap sebagai salah satu sektor yang tidak terpengaruh dampak krisis. Itulah mengapa Jastiro demikian optimistis bahwa pada 2009 ini bakal meraih jumlah pelanggan 10,5 juta orang.Sementara jumlah pelanggan hingga kuartal III/2008 tercatat sebanyak 6,6 juta pelanggan yang mengalami kenaikan lebih dari 100% dibandingkan periode yang sama 2007,yakni sebanyak 2,9 juta pelanggan.

”Kami tetap berhati-hati untuk melakukan ekspansi. Rencanarencana ekspansi yang sebelumnya sudah dibuat,kami tinjau kembali untuk dikaji lagi sisi positif dan negatifnya,”ujarnya.

Meski demikian, bukan berarti ekspansi yang dilakukan Bakrie Telecom berhenti.Sebab, selain tidak ingin gegabah, saat ini anak perusahaan Bakrie & Brothers tersebut ingin lebih fokus investasi dalam perbaikan layanannya kepada pelanggan. Ini agar target 10,5 juta pelanggan pada 2009 bisa tercapai.

Dengan menerapkan strategi pemberlakuan tarif flat (value for money) serta perbaikan kualitas jaringan, maka tidak mustahil target itu bisa terealisasi. ”Dalam masa krisis pasti ada kesempatan yang bisa diambil, sehingga kami tidak ingin terlalu gegabah melakukan ekspansi pada masa sekarang,”tandasnya.

Tidak ketinggalan juga perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk. Persaingan dunia obat-obatan (farmasi) yang terus berkembang menuntut perusahaan untuk terus bereksperimen dan mengeluarkan produk baru. Sebab, jika tidak, bukan tidak mungkin para kompetitor akan lebih bersinar tahun depan.

”Sebagai sebuah perusahaan farmasi yang selalu dituntut untuk membuat produk baru, kita tetap akan melempar produk baru tahun depan,”ujar Direktur Kalbe Farma Vidjongtius dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2008 diJakartabeberapawaktulalu.

Kalbe Farma tentunya tidak ingin brand perusahaannya yang sudah besar hilang begitu saja hanya disebabkan ketakutan melakukan ekspansi saat krisis. Sebab, bisa saja masyarakat berpaling dari produknya yang sudah mengakar jika tidak ada pembaruan dari perusahaan ini. Namun, tetap saja biaya dianggarkan dengan seminimal mungkin untuk mencegah kerugian yang terjadi.

Tampaknya apa pun jenis usahanya, ekspansi tetap menjadi sebuah keharusan yang tidak terelakkan. Karena itu saat ini adalah masa yang tepat untuk menggabungkan cara berpikir ekspansif dan kreatif,tapi juga harus efisien. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/201768/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment