Sunday, 04 January 2009
Strategi para CEO perusahaan dalam mengatasi dampak krisis global saat ini memang beragam. Namun, secara garis besar,menjaga efisiensi arus kas (cash flow) adalah salah satu kuncinya.
Robert S Kaplan dan David P Norton (1996) dalam bukunya The Balanced Scorecard mencoba untuk menjelaskan bagaimana cara kerja konsep kartu skor berimbang (balanced scorecard/ BSC). Konsep tersebut menjelaskan bagaimana cara mengelola operasional perusahaan melalui empat perspektif.
Di antaranya,menyeimbangkan sasaran finansial dengan perspektif pelanggan, proses bisnis,serta pembelajaran dan pertumbuhan.Meskipun bukan satu- satunya obat ampuh, tapi konsep BSC ini dianggap bisa menjadi salah satu pedoman bagi para CEO dalam membuat strategi menghadapi krisis.
Konsep BSC yang diungkapkan Kaplan dan Norton mengajarkan seorang CEO melihat empat perspektif tersebut, mengembangkan matriks, mengumpulkan data, dan menganalisanya secara kontekstual terhadap perspektif- perspektif tersebut.Setiap saat, keempat perspektif tersebut harus berimbang.
Perspektif finansial sifatnya sangat penting, perspektif pelanggan sifatnya jangka pendek, proses bisnis sifatnya jangka menengah,sedangkan pembelajaran dan pertumbuhan sifatnya jangka panjang. Sebagai langkah awal yang sangat penting adalah bagaimana menyelamatkan kas perusahaan.
Dalam situasi krisis, sebagian besar CEO akan melakukan efisiensi arus kas guna menjaga kinerja perusahaan tetap berlanjut. Secara sederhana, logikanya jika perusahaan ingin selamat dari krisis, CEO harus mengejar uang masuk dan profit terlebih dahulu.Baru kemudian, mengejar pelanggan di antaranya melalui kontrak dan proyek.
Kemudian baru proses bisnis diperbaiki dan terakhir pengembangan seperti pembuatan produk baru atau ekspansi.Sebenarnya teori kuno versi Kaplan dan Norton ini tidak hanya ampuh diberlakukan dalam keadaan krisis, tapi juga bisa menjadi pedoman buku putih bagi CEO dalam mengelola perusahaan. Meskipun sebagian kalangan menyatakan dampak krisis global tidak akan signifikan menghantam sektor riil, tapi bukti-bukti tentang dampak ini semakin nyata.
Banyak perusahaan, terutama manufaktur, yang harus mengurangi jam kerja karyawannya. Ini tidak lebih sebagai upaya efisiensi agar bisa melampaui badai krisis, sementara pendapatan perusahaan menurun akibat pemasaran yang anjlok drastis. Cara efisiensi inilah yang dipandang sejumlah CEO di Indonesia sebagai langkah awal dalam menghadapi krisis.
Salah satunya industri otomotif yang disebut-sebut bakal mengalami penurunan pemasaran hingga 30% bahkan bisa mencapai 50% pada 2009 ini. Meskipun dikatakan industri mobil lebih rentan ketimbang industri sepeda motor, tapi kenyataan berbeda dirasakan para pelaku usaha ini,baik Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) maupun Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI),keduanya samasama melansir tentang penurun kinerja industri automotif 2009 hingga mencapai lebih dari 30%.
Dengan demikian, baik industri mobil maupun motor, dipastikan akan terkena dampak krisis global yang bersumber dari Amerika Serikat (AS) ini. Tak pelak,langkah efisiensi pun wajib dilakukan para CEO dari industri ini. Executive Vice President PT Astra HondaMotor(AHM) SiswantoPrawiroatmodjo menyatakan,paling tidak ada dua langkah strategi dalam menghadapi krisis kali ini,yakni strategi ke dalam (internal) adalah peningkatan efisiensi, pemangkasan biaya, peninjauan investasi, dan lainnya.
Sementara strategi yang akan dilakukan bagi konsumen adalah AHM akan berupaya meningkatkan kepuasan konsumen dengan memberikan produk dengan nilai tambah tinggi,harga yang sesuai, serta pembiayaanyangkompetitif.
“Pada dasarnya, kami lakukan strategi ke dalam maupun bagi konsumen,”katanya kepada SINDO. Paling tidak, menurut Siswanto, mulai produsen hingga distributor melakukan konsolidasi serta langkah- langkah efisiensi di semua aspek dan rangkaian bisnis.Ini termasuk para Supplier/Vendor dan jaringan Dealer/ Main Dealer, perusahaan pembiayaan (Financial Company) dan lainnya.
Rangkaian langkah efisiensi dan koordinasi dengan jaringan bisnis inilah yang dilakukan industri otomotif dalam menghadapi krisis. Bukan hanya PT AHM,tapi juga perusahaan lainnya di negeri ini jika ingin selamat dari terpaan badai krisis finansial global. Siswanto menjelaskan,pemutusan hubungan kerja adalah upaya yang sangat dihindari dan hanya menjadi langkah terakhir.
“Sementara ini kami terus melakukan efisiensi pengaturan kerja,”ungkapnya. Industri telekomunikasi disebutsebut sebagai industri paling atraktif pada 2009 ini meskipun dibayang-bayangi dampak krisis global. Dibandingkan industri automotif, banyak kalangan menilai industri telekomunikasi jauh lebih beruntung dan relatif bisa bertahan melalui masa resesi ekonomi global saat ini.
Meskipun harus diakui, pertumbuhan industri ini diprediksikan bakal melambat pada 2009. Toh, Asisten Deputi Telematika dan Utilitas Menko Perekonomian Eddy Satriya optimistis industri teknologi komunikasi dan informasi (Information, Communication, and Technology/ ICT) masih memiliki pertumbuhan yang tinggi hingga lima tahun ke depan (2013).
“Dengan catatan,pemerintah mampu menelurkan kebijakan (regulasi) yang mendukung industri ini,”ungkapnya (Antara 31/12). Hingga kini,belum ada operator telekomunikasi di Indonesia yang menyatakan akan mengurangi alokasi investasi pada 2009 untuk mengembangkan layanan dan pembangunan infrastruktur.Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) memproyeksikan pertumbuhan pelanggan pada 2009 akan menurun menjadi sekitar 30%,dari pertumbuhan 2008 sekitar 40%.
Meskipun angka penurunannya tidak sesignifikan sebagaimana yang terjadi di industri lainnya, tetapi berbagai langkah efisiensi sudah selayaknya dilakukan para pelaku industri ini. Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi menyatakan,untuk melewati masa krisis saat ini,pihaknya telah melakukan efisiensi di segala lini. Segala kebijakan yang berkaitan dengan pengeluaran kas uang pun ditinjau kembali.
Apabila ada bagian-bagian yang tidak perlu dilakukan,hal itu akan diperketat. Sebab,pos-pos pengeluaran anggaran harus dibuat seefisien mungkin.“Kalau ada yang tidak usah dikeluarkan, hal itulah yang kami lakukan. Sebab, jika kami keluarkan berarti cost spending,” ungkapnya kepada SINDO.
Meski demikian, Jastiro mengaku bahwa manajemen internal Bakrie Telecom sedari awal memang sudah didesain hemat dan efisien.Dengan begitu, peluang terjadinya pemborosan amat kecil.Termasuk hingga saat ini, Bakrie Telecom sama sekali tidak ada rencana untuk melakukan pengurangan tenaga kerja.
“Segala bagian manajemen, termasuk jumlah tenaga kerja, sejak awal memang kami desain efisien, sehingga sampai saat ini kami memastikan tidak akan terjadi PHK di dalam perusahaan kami,”ujarnya. Hal yang sama dilakukan industri pertambangan,seperti PT Pertamina. Anjloknya harga minyak dunia akan sangat berpengaruh bagi perusahaan pelat merah itu. Untuk itu,wajar jika Pertamina harus berhitung ulang atas target dan kinerjanya selama 2009.
Vice President Communications Pertamina Anang R Noor menyatakan, langkah penghematan sudah dilakukan di semua kegiatan bisnis seharihari.“ Penghematan, yang tidak penting dikurangi,dan anggaran-anggaran pengeluaran ditinjau kembali.Efesienkan semua sumber daya yang ada,”ujarnya kepada SINDO.
Industri otomotif, ICT, maupun pertambangan, hanya sedikit contoh dari sekian banyak industri yang ada di Indonesia.Namun,garis merahnya, masa krisis adalah masa para CEO melakukan efisiensi demi menjaga kinerja operasional perusahaannya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/201784/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment