Selasa, 02 Desember 2008

Bukan Saatnya Berdebat Kusir

Monday, 01 December 2008
Meskipun sistem pasar global saat ini sedang dilanda krisis,sejumlah kalangan menilai tidak ada jalan keluar lain selain mengikuti arus globalisasi.


Pandangan itu memunculkan kontroversi. Sistem ekonomi pasar global yang dikampanyekan negara- negara Barat, kini sedang diuji keampuhannya untuk menopang perekonomian dunia akibat krisis yang belum juga mereda. Menariknya, di tengah krisis saat ini,muncul perdebatan seputar peran ekonomi kapitalis dan sosialis dalam meningkatkan taraf hidup penduduk dunia.

Entah ini akan menjadi sebatas debat kusir atau mencari solusi, tetapi perdebatan itu belum berakhir. Menurut Chairman and Founder Lippo Mochtar Riady, sistem pasar bebas telah terbukti mampu membuat negara-negara yang dulunya miskin meraih pertumbuhan ekonominya secara mengesankan.

China dan Korea Selatan adalah contoh nyata.Di mana kedua negara itu mulai mencapai kejayaan ekonomi setelah memutuskan sistem perdagangan terbuka. ”Apa penyebab yang membuat perbedaan demikian mencolok antara Korea Selatan yang kaya dan Korea Utara yang miskin,yaitu Korea Selatan memberlakukan paham ekonomi bebas dan mengikuti globalisasi,”ujarnya.

Mochtar demikian yakin bahwa globalisasi merupakan sistem yang mutlak dianut negara-negara di dunia karena kondisi sudah menuntut demikian.Meskipun saat ini banyak keraguan terhadap sistem ekonomi kapitalisme,apakah masih mampu menopang perekonomian serta menciptakan kesejahteraan bagi seluruh penduduk dunia?

”Globalisasi bukanlah sistem yang salah, yang salah adalah diri kita sendiri dalam menentukan strategi untuk menghadapi globalisasi,”tuturnya. Para penganut paham kapitalis setidaknya bisa mengambil contoh kesuksesan China yang demikian melejit setelah membuka diri dengan ekonomi bebas.

China bahkan mendapatkan predikat sebagai negara yang saat ini mampu menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Bukan hanya karena China merupakan negara dengan pasar dalam negeri terbesar di dunia serta banyaknya komoditas China yang menguasai pasar internasional.

Saat ini Chinalah negara yang paling sedikit terkena dampak krisis global, sebab roda perekonomian negeri itu mayoritas digerakkan usaha kecil dan menengah dengan pangsa pasar sebagian besar domestik. Dengan demikian, China terbukti merupakan contoh yang cukup baik dalam melewati masa krisis saat ini.

Artinya, keterbukaan China saat ini tidak dilakukan serta-merta dengan mengikuti tuntutan jaman. Namun, Negeri Tirai Bambu itu sebelumnya telah menguatkan basis ekonominya di sektor riil (real base) sebelum mengambil kebijakan sistem keuangan mengambang (monetary base).

Sekadar catatan, transaksi keuangan (moneter) pada masa lalu berjalan menurut asas logam tertentu. Pada masa itu,uang merupakan potongan logam berharga yang dicetak dan dikeluarkan penguasa yang digunakan dalam seluruh pertukaran (transaksi).Logam berharga yang terkenal sebagai uang pada masa itu adalah emas dan perak. Sampai akhir abad 19,nisbat terkecil adalah perak.

Ketika sifat uang dari perak itu lenyap, tinggallah emas yang digunakan dalam sistem keuangan. Transaksi keuangan dengan sistem emas ini terus berlanjut sampai munculnya sebagian uang kertas pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Uang kertas adalah lembaran kertas yang mewakili sejumlah emas sesuai dengan nilai yang tertulis pada uang kertas tersebut (uang kertas substitusi).

Artinya, orang yang membawa uang kertas tersebut pada saat yang sama mempunyai penggantinya berupa emas yang disimpan di bank sentral. Transaksi keuangan dengan sistem mata uang emas ini terus berlangsung sampai sebelum Perang Dunia I,ketika negara-negara yang saling berperang terpaksa menangguhkan sistem transaksi dengan emas.

Akibat perang,negaranegara itu mengeluarkan uang kertas tanpa ada emas penggantinya di bank sentral sesuai dengan ketentuan sistem uang emas. Setelah berakhirnya Perang Dunia I, sejumlah negara mengadakan pertemuan di Jenewa pada 1922 dan sepakat kembali pada sistem emas dengan beberapa penyesuaian dan pengurangan.

Sekalipun uang dikaitkan dengan emas, negara-negara tersebut tidak memberikan kemudahan bagi orangorang untuk menukarkan uang kertas substitusinya, kecuali dengan nilai tertentu, yaitu dengan ditentukan batas minimum. Hanya saja, seruan untuk kembali pada sistem emas tidak berlangsung lama karena terjadinya depresi global pada 1929, ketika harga-harga saham anjlok yang menyebabkan para pemegang saham mengalami kebangkrutan.

Depresi ini mendorong penerimaan yang luar biasa terhadap uang kertas. Kondisi itu menjadi tekanan yang berat bagi upaya penggantian uang kertas dengan emas. Seluruh negara di dunia menangguhkan upaya mengganti mata uang kertas mereka dengan emas dan menyepakati pertukaran uang tanpa penggantian dengan emas.

Negara pertama yang menerapkan hal itu adalah Inggris pada 1931,disusul AS pada 1933, Prancis pada 1936,dan selanjutnya beberapa negara lain sehingga akhirnya transaksi keuangan dunia berlangsung secara semrawut sampai terjadinya Perang Dunia II. Sementara itu, Mochtar pun mengalkulasi keuntungan hubungan perdagangan China dan Indonesia.

Di antaranya,Indonesia yang kaya akan produk pertambangan, pertanian, kelautan, dan energi, yang merupakan komoditas yang amat dibutuhkan China. Kemudian, di sisi lain China memproduksi material bahan bangunan, mesin industri, kimia, dan lainnya yang dibutuhkan Indonesia.

Saat ini hubungan bilateral perdagangan antara kedua negara antara lain China menyediakan fasilitas pembiayaan untuk mendorong pakta perdagangan bilateral dengan Indonesia. Selain itu, pengalaman China dalam membangun infrastruktur penopang perekonomian bisa menjadi contoh yang baik bagi Indonesia.

”Bantuan pendanaan amat diperlukan guna mendorong beberapa sektor industri di dalam negeri agar bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di antaranya pertambangan, pertanian, kelautan, tenaga kerja, pembangunan properti, industri suku cadang otomotif, serta pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa,”tukasnya.

Namun, prinsip seperti yang diungkapkan Mochtar tentu akan mendapatkan tentangan habishabisan dari kalangan yang kontra dengan sistem kapitalisme.Sebab, dengan robohnya sistem perekonomian dunia, kapitalisme tak pelak akan dianggap sebagai penyebabnya dan dituding telah gagal dalam membangun perekonomian dunia. Kemakmuran akan dinilai hanya bisa dinikmati negara-negara maju, sementara negara miskin dan berkembang hanya akan menjadi obyek komoditas belaka.

Sebab, yang muncul akhirnya bukan pemerataan kemakmuran, melainkan kapitalisme global yang hanya dikuasai segelintir orang yang memiliki modal kuat. Mencermati hasil studi JH Booke pada 1930-an,dikatakan di Asia terjadi dualisme sistem ekonomi.Jadi, bukan hanya sistem perekonomian impor kapitalisme, tapi juga terdapat sistem ekonomi tradisional.

Menurut Booke, ini merupakan percampuran yang sulit sehingga dibutuhkan teori ekonomi tersendiri, sebab teori yang dikembangkan kapitalisme modern tidak diterapkan. Sementara di Indonesia,meskipun disebut-sebut sistem ekonomi Pancasila adalah yang terbaik dan menjadi pedoman, tapi kenyataan yang ada di lapangan sistem kapitalisme lebih dominan berlaku.

Bisa jadi di Indonesia memberlakukan teori ekonomi yang diungkapkan Booke, meskipun dengan bahasa yang berbeda,yakni sistem formal dan informal.Apa pun argumentasinya, kenyataannya Indonesia ikut menerima dampak krisis global saat ini.Bahkan dikabarkan ratusan ribu karyawan terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perusahaan-perusahaan tutup terkena dampak krisis global.

Ini bisa menjadi bukti,krisis global yang bersumber dari AS berdampak cukup signifikan di Indonesia. Terlepas, apakah predikat sistem ekonomi Pancasila atau kapitalisme modern yang saat ini berlaku di Indonesia, setidaknya dampak itu dirasakan langsung. Meski begitu,saat ini tidak penting lagi berdebat soal sistem ekonomi yang laik diterapkan.

Namun, krisis yang ada sekarang ini bukanlah sesuatu yang harus dihindari,tetapi dihadapi.Persoalannya, tinggal bagaimana setiap negara, terutama Indonesia menghadapinya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/191633/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment