Minggu, 30 November 2008

Potensi Besar,Upaya Minim

Saturday, 29 November 2008
Penerbangan jarak pendek rute antarkota di Indonesia belum digarap serius.Padahal,potensinya sangat besar.Jika dimaksimalkan,pintu perekonomian di daerah diyakini semakin terbuka lebar.


Penerbangan rute jarak pendek hingga kini masih dianggap sebelah mata meski potensinya cukup besar. Sebab, selain sebagai upaya memperluas akses transportasi di seluruh Indonesia, pemberdayaan penerbangan jarak pendek juga mampu membantu penyebaran peluang kegiatan ekonomi. Sayangnya, kelengkapan regulasi maupun infrastrukturnya belum memadai. Sejatinya, cetak biru transportasi Indonesia sudah semestinya dilakukan.

Pemetaan transportasi tidak dapat hanya dilihat dari sisi pemenuhan infrastruktur, tetapi juga mesti mempertimbangkan target jangka panjang dengan potensi dan kelemahannya. Ide pembukaan jalur udara penerbangan jarak pendek sebenarnya sudah bergulir sejak lama.Tercatat beberapa maskapai lokal mulai bermain di ceruk bisnis ini seperti maskapai pelat merah Merpati Nusantara Airlines.Sayangnya, dari sisi pengembangan belum optimal.

Menurut pengamat penerbangan Bahrul Hakim, penerbangan jalur pendek antarkota amat potensial untuk dikembangkan sebagai lahan bisnis. Kendalanya, selama ini infrastruktur bandar udara (bandara) kecil yang ada di daerah sangat minim. Bahkan,terkesan hanya untuk memenuhi kebutuhan pejabat ketika melakukan kunjungan ke daerah. Sementara pemanfaatannya dari sisi bisnis masih jauh dari optimal. “Grand design transportasi kita harus dibuat sedemikian rupa.

Sebab inilah yang paling rasional untuk dikembangkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Dari segi ide, jalur udara memang pilihan cukup rasional. Sebab jika mempertimbangkan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, tentu mengembangkan jalur transportasi darat dan laut membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain itu,banyak catatan tentang terputusnya jalur transportasi darat akibat tanah longsor dan musibah lain karena karakter geografis Indonesia memang rawan bencana.

Sementara pengembangan jalur laut untuk menghubungkan belasan ribu pulau di Indonesia akan membutuhkan banyak energi. “Untukcontohsuksespengembangan jalur udara jarak pendek rute perintis, Riau Airlines misalnya terbukti mampu membantu menopang kegiatan perekonomian di sana,”ucapnya.

Prioritas pengembangan penerbangan jalur pendek ini menurut Bahrul harus dilakukan berdasarkan potensi wilayah setempat sehingga pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan pasar. Beberapa wilayah yang menurut dia paling potensial dikembangkan penerbangan jalur pendek adalah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah,serta wilayah Indonesia timur.Sebab di wilayah ini,banyak kegiatan bisnis perminyakan potensial mendapatkan calon penumpang yang banyak pula.

Selain itu, wilayah Sulawesi Selatan dan Papua juga potensial dikembangkan. “Prioritas segmen pasar utama tetap kalangan bisnis. Dari hasil pengamatan saya sewaktu di maskapai Garuda dulu,konsumen kalangan bisnis mencapai angka 60% dari total pelanggan. Sementara untuk wisata tidak terlalu signifikan,”ujar pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia ini.

Toh, meskipun konsumennya kalangan pebisnis, tidak menutup kemungkinan sektor wisata juga mendapat manfaatnya.Sebab tujuan utama seseorang ketika melakukan perjalanan umumnya adalah melakukan bisnis dan wisata bersifat komplementer. Dengan demikian,pembukaan jalur-jalur penerbangan di wilayah yang memiliki kegiatan bisnis yang padat,bukan tidak mungkin semakin menghidupkan perekonomian wilayah setempat.

Selain itu, sumber-sumber pundi pendapatan negara juga semakin bertambah. Di beberapa wilayah seperti Timika, Papua dan beberapa daerah pertambangan,pengembangan infrastruktur penerbangan masih ditangani perusahaan swasta yang melakukan eksplorasi pertambangan di wilayah tersebut.“Biarkan maskapai ikut mengembangkan berdasarkan kalkulasi bisnis. Sebab sebenarnya potensi ekonominya cukup besar,” tambahnya.

Apabila pembukaan penerbangan jalur pendek ini sudah menguntungkan secara ekonomi, dengan sendirinya kegiatan perekonomian masyarakat pun tumbuh. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi alasan untuk tidak juga mengembangkan jalur transportasi darat baik jalan raya maupun kereta secara lebih memadai. Dengan demikian jalur transportasi antarkota di Indonesia semakin terbuka dan pemerataan kegiatan ekonomi pun semakin bergairah.

Artinya dengan membuka jalur transportasi melalui udara,itu sama halnya membuka peluang terbangunnya moda transportasi lain,baik darat maupun laut. Saat ini, tercatat ada beberapa maskapai di dalam negeri yang mulai serius menggarap bisnis penerbangan jalur pendek selain Merpati Airlines. Selain itu, pembangunan bandara kecil juga sudah dilakukan di beberapa wilayah hingga kabupaten.

Ironisnya, pembangunan sarana ini belum memiliki payung yang tegas dari cetak biru transportasi yang dibuat pemerintah.Pengembangannya terkesan bersifat sporadis dan tidak mempertimbangkan pemanfaatan jangka panjang. Meski demikian, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan (Dephub) Budhi Muliawan Suyitno mengakui, permintaan penerbangan jalur pendek ini makin tumbuh.

Artinya pemerintah sadar betul potensi ceruk bisnis ini masih terbuka untuk dikembangkan.“Saya harapkan dengan adanya krisis global kali ini penerbangan rute pendek ini bisa lebih ramai. Sebab akan banyak pesawat yang bisa dibeli maskapai lokal untuk jalur pendek,” ujarnya kepada SINDO. Berdasarkan data Dephub hingga 2007, sudah ada 187 bandara di Indonesia.

Untuk bandara kecil dengan panjang landasan kurang dari 800 meter sebanyak 119 bandara,panjang 800 meter–1.800 meter ada 32, 1.800 meter–2.250 meter ada 20, 2.250 meter–3.000 meter ada 9,serta bandara dengan panjang landasan di atas 3.000 meter hanya 9.

Dengan demikian, bandara-bandara kecil yang jumlahnya ratusan tersebut akan semakin memberikan manfaat ekonomi secara optimal jika dikembangkan secara tepat. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/191380/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment