Sunday, 26 October 2008
INDIA, sebagai salah satu kekuatan Asia (selain China), kini kerap menjadi rujukan negara tetangga. Maklum, pertumbuhan ekonomi India yang diukur dengan menggunakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merupakan yang terbesar ke-12 di dunia.
Berdasarkan data lembaga statistik India, PDB negeri multikultural itu sekitar USD1 triliun pada 2008.India dikenal sebagainegarayangmampumengurangitingkat ketergantungan dengan asing secara mengesankan. Bisakah Indonesia menirunya? Setidaknya, angka pertumbuhan PDB India yang mencapai 9,1% untuk fiskal selama kurun waktu 2007–2008 ini bisa dijadikan pelajaran.
Bagaimana negara itu mencapainya? Prestasi itu menobatkan India sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia setelah China. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta sangat terkesan dengan pertumbuhan ekonomi India.
Menurut dia, prestasi pertumbuhan ekonomi yang telah diraih India layak dicontoh Indonesia. ”India sangat bagus dalam menciptakan tingkat pertumbuhan ekonominya,sangat bagus dalam mengurangi tingkat ketergantungan kepada asing.Itu sangat luar biasa,” kata Paskah dalam lawatannya ke Redaksi Harian Seputar Indonesia(SINDO) beberapa waktu lalu.
Dalam hal kemandirian ekonomi,India memang pakarnya. Tercatat, pada 2000, rasio utang luar negeri dengan PDB India masih sebesar 35%.Namun, kini tingkat ketergantungan luar negeri India hanya tinggal 5% sehingga kewajiban hutang luar negeri India menurun drastis.
Menurut Paskah,Indonesia pun mencontoh strategi India dalam mengatasi imbas dampak krisis keuangan global dan menjaga ekonomi dari ulah spekulan saat ini,yakni dengan cara menaikkan suku bunga.
”Saya mengadakan pembicaraan dengan Duta Besar India,saya tanyakan apakah kenaikan suku bunga tidak mengganggu sektor riil di sana? Ternyata tidak karena kebanyakan investor lokal lebih tertarik berinvestasi di sektor riil,” katanya mengisahkan. Namun,kondisi India tentu berbeda dengan Indonesia.
Meskipun akhirnya Bank Indonesia (BI) Oktober lalu mengumumkan kenaikan suku bunga, berbagai pertimbangan tetap dilakukan.Paskah menjelaskan, untuk mengatasi permasalahan ekonomi di Indonesia tidak serta-merta menerapkan strategi India.Namun, sebagaimana teori trilogi yang sering diungkapkan Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Boediono yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, pembangunan ekonomi harus bertumpu pada tiga hal,yakni stabilitas,pertumbuhan, juga pemerataan.
”Maksudnya,stabilitas keamanan dan stabilitas finansial.Jadi, betul teorinya kalau seandainya suku bunga naik, sektor riilnya praktis tidak jalan,” ujarnya. Namun, pelajaran berharga dari India memang tidak bisa diabaikan.Banyak ekonom menilai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Negeri Sungai Gangga itu dinilai sebagai yang paling berpengaruh dalam ekonomi dunia.
Meskipun pertumbuhan fenomenal ini, jumlah penduduk India yang besar masih mencatat pendapatan per kapita USD2.669 (revisi 2007). India sebelumnya menerapkan kontrol pemerintah yang ketat dalam berbagai sektor swasta,perdagangan internasional,dan investasi asing langsung. Bagaimanapun, sejak awal 1990-an, India sudah mulai membuka pasarnya dengan reformasi ekonomi melalui pengurangan kontrol pemerintah pada perdagangan internasional dan investasi asing.
Privatisasi perusahaan publik pun dibuka kepada sektor swasta dan asing, yang kemudian berproses secara pelan di tengah perdebatan politik negeri itu. Meski demikian, India masih menempat urutan ke-115 di dunia dalam indeks kebebasan ekonomi global (global economic freedom) 2008 sebagaimana dilansir The Heritage Foundation yang bekerja sama dengan The Wall Street Journal.
Di tingkat Asia Pasifik, India masih menempati urutan 21 dari 30 negara yang dinilai. Sementara Indonesia menempati urutan ke-119 dari 161 negara di dunia yang dinilai untuk indeks kebebasan ekonomi 2008 ini.Secara regional Asia Pasifik, Indonesia menempati urutan ke-22 dari 30 negara. Namun, banyak pengamat menilai India terancam pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak terkendali serta kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakatnya.
Kemiskinan tetap menjadi masalah serius di India meskipun telah menurun secara signifikan selama beberapa dekade. Berdasarkan catatan Bank Dunia, sebagaimana dilansir The Guardian, pertumbuhan ekonomi yang spektakuler di India dan China telah secara signifikan mengurangi angka kemiskinan penduduk dunia. Dilaporkan penurun angka kemiskinan sekitar 80 juta selama dua tahun hingga 2004, perbaikan tersebut berasal dari China dan India.
Tercatat angka kemiskinan menurun dari 1,4 miliar orang pada 1981 menjadi 986 juta orang pada 2004.Jumlah itu termasuk memperhitungkan 300 juta orang dari warga China yang dianggap hidup dalam garis kemiskinan.Namun, kini China dan India sama-sama mengalami pertumbuhan ekonomi sangat mengesankan. Pertumbuhan ekonomi India stabil antara 8–9% per tahunnya.
Secara rata-rata sejak 2003–2007, pertumbuhan ekonomi India sebesar 8,8%.Pada 2006–2007, pertumbuhan mencapai 9,6% yang merupakan tertinggi dalam 18 tahun terakhir.Sektor industri dan jasa sangat berkontribusi dalam menyokong pertumbuhan ekonomi negeri itu,yakni untuk periode 2006–2007, pertumbuhan sektor industri dan jasa sebesar 10,63% dan 11,18%.
Angka itu meningkat dibandingkan angka pertumbuhan kedua sektor itu pada periode 2005–2006 yang hanya 8,02% dan 11,01%. Serupa, sektor manufaktur mengalami pertumbuhan sebesar 8,98% pada 2005–2006 menjadi 12% pada 2006–2007. Kemudian,sektor transportasi,pergudangan dan komunikasi mencatat pertumbuhan 14.65% dan 16.64% pada 2006–2007. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/181224/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment