Sunday, 19 October 2008
PERTENGAHAN Oktober lalu,sebuah lembaga pemeringkatan asal Inggris The Times Higher Education Supplement- Quacquarelli Symonds (THE-QS) kembali menerbitkan laporan peringkat 500 perguruan tinggi (PT) terbaik di dunia.
Seperti tahun lalu,universitas Amerika Serikat (AS) dan Inggris menduduki Top 10. Universitas Harvard menduduki posisi pertama.Pencapaian ini merupakan kelima kali secara beruntun Harvard menduduki posisi puncak.
Posisi kedua ditempati Universitas Yale yang tahun lalu juga menduduki posisi yang sama bersama Universitas Cambridge dan Oxford asal Inggris.Namun, tahun ini dua universitas ternama asal Inggris itu harus turun peringkat masingmasing pada posisi 3 dan 4 (lihat grafik hal 6).
Lantas, bagaimana dengan PT asal Indonesia? Tiga PT Indonesia, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) naik peringkat dibandingkan tahun lalu.
Tahun ini, UI naik ke peringkat 287 dari sebelumnya peringkat 359. ITB naik dari peringkat 369 (2007) menjadi peringkat 315. Sementara UGM naik ke peringkat 316 dari peringkat tahun sebelumnya 360.Meski begitu,pencapaian posisi ketiga PT Indonesia tahun ini masih lebih rendah dibanding 2006.
Dua tahun lalu, UI menempati peringkat 250, ITB (258), dan UGM (270). Sejatinya, berbagai pemeringkatan PT di lingkungan internasional sudah sering dilakukan secara periodik meski lembaga pemeringkatnya relatif masih sedikit.
Saat ini, yang sering dijadikan acuan adalah Academic Ranking of World Universities (ARWU) dari Universitas Shanghai Jia Tong,THE-QS,Webometrics Ranking of World Universities (WRWU),dan Performance Ranking of Scientific Papers for World Universities (SPWU) dari Universitas Nasional Taiwan.
Metode penilaian terhadap PT juga beragam. Universitas Shanghai Jia Tong menggunakan empat kriteria untuk ARWU, yaitu mutu pendidikan yang diukur
dengan indikator jumlah alumni pemenang Nobel; mutu fakultas dengan indikator jumlah staf yang meraih Nobel dan jumlah penelitian yang dikutip untuk 21 subyek;
keluaran penelitian dengan indikator jumlah tulisan yang dipublikasikan pada majalah Nature and Science dan jumlah tulisan yang masuk Science Citation Index; serta ukuran institusi dengan indikator kinerja akademik yang merupakan nilai terbobot dari lima indikator sebelumnya dibagi dengan jumlah staf akademik.
Sementara THE-QS menggunakan empat kriteria,yaitu kualitas penelitian (research quality), kualitas pengajaran (teaching quality),kualitas lulusan (graduate employability), dan aspek internasional (international outlook).Sementara metode SPWU lebih menitikberatkan pada jumlah dan mutu tulisan ilmiah yang dipublikasikan.
Universitas Nasional Taiwan sebagai penyelenggara menggunakan sembilan indikator yang dikelompokkan dalam tiga kriteria, yaitu produktivitas riset,dampak riset,dan keunggulan riset. Khusus untuk THE-QS, dari keempat kriteria penilaian memiliki bobot tertentu.
Untuk kualitas penelitian memiliki bobot 60% yang terdiri atas karya ilmiah (40%) dan hasil karya ilmiah yang dijadikan rujukan lembaga lain di dunia (20%).Untuk kualitas lulusan bobot penilaiannya 10% yang diukur dari besarnya lulusan yang diterima di tempat kerja.
Sementara aspek internasional berbobot 10% yang masing-masing indikatornya didasarkan pada keberadaan fakultas bertaraf internasional dan jumlah mahasiswa asing. Bobot penilaian kualitas pengajaran mendapat porsi 20% yang diukur berdasarkan rasio mahasiswa dengan jumlah staf pengajar (student faculty ratio).
Meski begitu, penilaian THE-QS juga sempat memunculkan reaksi banyak kalangan di dalam negeri.Tidak sedikit yang menganggap penilaian THE-QS melupakan indikator pengabdian kepada masyarakat.
Padahal indikator pengabdian atau faktor aksiologi dari ilmu pengetahuan tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab sebuah ilmu atau penelitian tidak akan berguna jika sebatas penelitian semata tanpa realisasi.
Begitu juga sebuah lembaga pendidikan harus memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Jika tidak,lembaga tersebut hanya akan berada di menara gading meskipun hasil penelitian dan kajian keilmuannya sangat canggih. ”Peringkat universitas itu memang penting.
Namun lebih penting lagi pengabdian dari lembaga pendidikan itu kepada masyarakat,” kata pengamat pendidikan Arif Rachman kepada SINDO. Menurutnya, sebuah ilmu pengetahuan akan selalu dinilai dari tiga hal, yakni dari sisi ontologi mengenai seperti apa ilmu itu, kemudian dari sisi epistemologi yang menilai bagaimana sebuah ilmu itu dikembangkan.
Terakhir dari sisi aksiologi, yakni mengapa ilmu itu dikembangkan. Indikator terakhir inilah yang akan membahas kebermanfaatan sebuah ilmu.Apakah ilmu tersebut memberikan manfaat untuk memperbaiki derajat kehidupan masyarakat sekitar dan umat manusia ataukah tidak?
Sebab sebuah ilmu juga bisa dikembangkan untuk kepentingan negatif seperti menciptakan senjata pemusnah massal. ”Saya yakin penilaian THE-QS dalam pemeringkatan ini cukup obyektif karena mereka melibatkan dewan ahli dan auditor eksternal.
Namun, bisa jadi, ada indikator-indikator penilaian umum yang berbeda dengan penilaian khusus yang kadang belum sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia,” paparnya. Akan tetapi, Rektor ITB Djoko Santoso menilai pemeringkatan yang dilansir THEQS bisa menjadi motivator untuk menjadikan PT di Indonesia lebih baik.
Sebab selain sebagai salah satu upaya pencitraan, pemeringkatan juga bisa memacu lembaga yang diperingkatkan untuk tahu di mana sebenarnya posisinya di mata dunia. ”Sayangnya masih ada yang belum dinilai THE-QS, yakni sumbangsih lembaga pendidikan terhadap lingkungan masyarakat di sekitarnya,” ucapnya kepada SINDO.
Meski demikian, Djoko berharap posisi ITB di tahun mendatang akan semakin meningkat.Tahun ini peringkat ITB naik dibandingkan 2007 di posisi 114 untuk kategori teknologi dan 315 secara total.
”ITB akan tetap melakukan kegiatan-kegiatannya seperti biasa, tetapi intensitasnya akan ditingkatkan. Semua akan tetap sesuai dengan kemampuan anggaran yang dimiliki ITB,” ujarnya. Mungkinkah indikator pengabdian kepada masyarakat bisa diterapkan dalam penilaian THE-QS? Menanggapi hal ini,Contributing Editor THE Megazine London, Inggris, Martin Ince menyatakan permasalahan dari pemeringkatan yang dilakukannya adalah dalam hal mendapatkan konsistensi kriteria.
Artinya,sesuatu yang berlaku dan dilakukan lembaga pendidikan di Indonesia ternyata tidak dilakukan oleh PT di Inggris. Meskipun jika beberapa negara memiliki program yang sama sementara beberapa negara yang lain tidak memberlakukannya, hal itu tidak akan bisa digunakan untuk menilai apakah sebuah universitas berkualitas sehingga indikator penilaian yang dipakai memang merupakan yang digunakan oleh seluruh universitas di dunia.
”Bagaimanapun saya yakin bahwa elemen ini (pengabdian masyarakat) sangat bermanfaat sebagai salah satu program akademik. Semoga Indonesia akan bersamasama dengan negara lain melakukan sesuatu program yang sama
sehingga bisa dijadikan indikator penilaian,” tandas Martin dalam wawancara via e-mail dengan SINDO. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/menuju-perguruan-tinggi-kelas-dunia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment