Romantisme Kredit Mikro Era 1980-an
Sunday, 13 July 2008
KREDIT Umum Pedesaan (Kupedes) dan Simpanan Pedesaan (Simpedes) yang menjadi produk andalan Bank Rakyat Indonesia (BRI) pernah mengalami masa jaya pada era 1980-an.
Kesuksesan Kupedes ini sangat mungkin terulang pada kredit usaha rakyat (KUR). Sebuah romantisme prestasi masa lalu. Banyak pihak sepakat,BRI-lah satu-satunya bank besar yang konsisten dalam pembiayaan kredit mikro.
BRI ini pula yang mampu mengatasi fobia ”layak bank (bankable)” yang selama ini dialami pengusaha kecil.Jangankan mengerti dan memahami mekanisme pengajuan kredit ke perbankan,untuk datang ke bank saja mereka ”takut”.
Celah inilah yang dipahami BRI pada era 1980-an.Strategi pendekatan informal, konsultatif, tidak birokratis, serta lebih mengedepankan kedekatan emosional dan saling percaya membuat Kupedes menjadi program kredit mikro primadona pada zamannya.
Marguerite Robinson pun memuji kiprah pembiayaan kredit mikro BRI ini.Antropolog yang pada 1990-an menjadi konsultan itu menilai BRI dalam adaptasi pasar kredit mikro itu sukses menjalankan misi.Dia menilai telah terjadi perubahan paradigma dalam pembiayaan mikro,salah satunya dilakukan BRI.
Dengan bunga pinjaman sekitar 20% bagi debitor,BRI mampu menarik minat masyarakat untuk menggunakan produk ini.Para debitor mikro biasanya memang tidak terlalu memedulikan besaran bunga pinjaman.Paling tidak besaran bunga lebih rendah dibandingkan meminjam lintah darat atau tengkulak.
Langkah pendekatan sektor mikro dianggap sebagai salah satu reformasi dunia perbankan di negeri ini pada 1983. Dalam perkembangannya,Simpedes dan Kupedes memang luar biasa.Tercatat pada 1985,jumlah accountpinjaman melalui Kupedes hanya sekitar Rp1 juta dan pada akhir 2003 telah mencapai Rp3,5–4 juta accountdengan baku kredit mencapai Rp14,5 triliun.Tidak berbeda, perkembangan Simpedes pun cukup mengagumkan.
Pada tahun pertama jumlah Simpedes telah mencapai Rp750 miliar dan pada akhir 2003 meningkat menjadi Rp31,3 triliun.Perkembangan Kupedes dan Simpedes ini telah mematahkan teori para ekonom yang menyatakan bahwa masyarakat pedesaan tidak bisa diandalkan untuk menabung atau mengembalikan pinjaman kredit.
Sekretaris Perusahaan BRI Hartono Sukirman menyatakan 82% kredit BRI membidik segmen UMKM.Tidak hanya itu,BRI sebagai lembaga juga membantu memberdayakan UMKM melalui bantuan pemasaran dengan pameran,pelatihan manajemen,dan lainnya.
”Kami juga membuka pasar baru bagi mereka,termasuk salah satunya mengikutkan mereka dalam berbagai pameran di dalam negeri maupun luar negeri.Intinya kami harapkan mereka bisa naik derajatnya,dari UMKM menjadi korporasi dengan skala usaha yang lebih besar,”paparnya.
Namun Hartono menolak jika dikatakan BRI ingin mencontoh kesuksesan Grameen Bank yang dibidani Muhammad Yunus di Bangladesh.Sebab,meskipun tujuannya sama dalam pembiayaan kredit mikro,namun jelas kedua lembaga itu memiliki platform berbeda.Grameen Bank atau lembaga sejenisnya seperti Bank for Agriculture and Agricultural Cooperatives (BAAC) di Thailand masih sangat tergantung pada subsidi dalam menjalankan kegiatan mereka.
BRI,sebagai lembaga profit,justru sebaliknya. BRI unit desa justru sebagai sumber mobilisasi dana dan termasuk pencetak keuntungan terbesar dalam organisasi BRI. ”Kalau mereka menerima banyak hibah dari luar negeri,kami memang dari BRI sendiri.Jadi beda.Saat ini kami tetap fokus pada pengembangan UMKM.Jadi lebih menonjol di sektor UMKM,”tambahnya.
Apa pun platformnya,KUR telah menjadi momentum tepat bagi BRI untuk semakin membidik konsumen kredit mikro.Tercatat hingga pekan awal Juli ini total KUR yang telah disalurkan BRI sebesar Rp5,3 triliun, dengan total debitur 888.952 debitor.Rata-rata peminjaman sekitar Rp4 juta per debitor.
Meski bersaing dengan lima bank penyalur lain,tidak salah jika BRI tetap optimis unggul.Bahkan muncul wacana,apabila Grameen Bank yang menggunakan subsidi saja beroleh penghargaan hadiah Nobel, mengapa BRI yang pembiayaannya sendiri tidak bisa? Untuk yang satu ini,Pengamat Ekonomi Faisal Basri langsung unjuk bicara.
Menurut dia,BRI memang layak mendapatkan Nobel sebagai bank yang berhasil menghidupkan sektor UMKM melalui Kupedes dan Simpedes. Namun itu cerita masa lalu,era 1980-an.Faisal menilai BRI yang dulunya demikian concerndalam pembiayaan UMKM,kini sudah tidak sepenuhnya lagi. Oleh karena itu,jika tidak segera melakukan inovasi, prestasi BRI dalam pembiayaan UMKM bisa saja segera dikejar oleh pesaing-pesaingnya yang kini terus membidik pengusaha kecil. (abdul malik/faizin aslam/islahuddin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/romantisme-kredit-mikro-era-1980-an-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment