Dewa Penolong Wong Cilik
Sunday, 13 July 2008
Program kredit usaha rakyat (KUR) yang diluncurkan pemerintah awal November tahun lalu menjadi angin segar bagi UMKM.Para pelaku usaha kecil tak perlu lagi takut disebut tidak layak bank.
Layak bank alias bankable adalah istilah yang jadi momok menakutkan bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Itu sebabnya selama ini UMKM kesulitan akses untuk menembus perbankan. Lewat penjaminan yang ditanggung pemerintah, keberadaan kredit usaha rakyat (KUR) jelas menegasikan kesulitan yang selama ini dialami UMKM. Benarkah KUR bakal mampu mengurangi angka pengangguran? Hal itu masih perlu diuji.
Banyak kalangan menyambut positif kehadiran program KUR, sebagian lainnya menganggap ini lebih sebagai upaya tebar pesona Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelang Pemilu 2009. Bagaimanapun, banyak pihak sepakat bahwa KUR sangat membantu UMKM,terlepas apa pun faktor politis yang melingkupi.Laporan dari enam bank yang berpartisipasi dalam program ini menunjukkan jumlah cukup fantastis sebagai buktinya.
Berdasarkan laporan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Suryadharma Ali, realisasi KUR per 11 Juli 2008 mencapai Rp8,612 triliun dengan jumlah debitor 956.076 orang atau rata-rata kredit Rp9 juta per debitor.Tentu ini merupakan jumlah partisipasi yang cukup besar untuk program yang diluncurkan sejak 5 November 2007 itu. Dengan plafon yang ditetapkan sebesar Rp14 triliun hingga akhir 2008 ini, realisasi KUR sudah mencapai lebih dari 60%.
”KUR merupakan kebijakan yang sangat ditunggu-tunggu dan sangat diminati masyarakat koperasi dan UMKM untuk memenuhi kebutuhan modal usaha,” ungkap Suryadharma dalam pidato Hari Koperasi,12 Juli lalu. Program KUR juga diharapkan bisa memperkuat eksistensi UMKM yang selama ini dikenal mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan.
Berdasarkan data kementrian ini,pada 2006 UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 85,4 juta orang atau 96,18% dari total penyerapan tenaga kerja yang ada. Jumlah ini meningkat 2,62% atau 2,1 juta orang dibandingkan 2005. Kontribusi usaha kecil dalam menyerap tenaga kerja tercatat sebanyak 80,9 juta orang atau 91% dan usaha menengah sebanyak 4,4 juta orang atau 5%.
Usaha kecil sektor pertanian, peternakan, perhutanan, dan perikanan tercatat memiliki peran terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebanyak 37,9 juta orang atau 46,9% dari total tenaga kerja yang di serap.Tetapi, jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 73.403 orang atau 0,19% dari tahun sebelumnya.
Adapun sektor ekonomi yang memiliki penyerapan tenaga kerja terbesar pada usaha menengah adalah sektor industri pengolahan yaitu sebanyak 1,8 juta orang atau 40,7%. ”Setidaknya selama ini UMKM mampu memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja terbesar secara nasional dan meningkatkan ekspor,serta dalam pembentukan PDB nasional,”kata Suryadharma.
Meski tidak memiliki korelasi secara langsung,program KUR telanjur dianggap akan memberikan efek penyerapan tenaga kerja.Asumsi ini cukup masuk akal. Mempermudah akses UMKM terhadap perbankan berarti membuat lahan bisnis wong cilik bisa mendapatkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. Jika berhasil tumbuh, sangat mungkin akan mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan.
Namun pengamat ekonomi Faisal Basri menilai,tujuan kebijakan KUR bukanlah untuk mengurangi angka pengangguran, kredit yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri,Bank Syariah Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bukopin itu tujuan awalnya lebih untuk memberikan ruang akses perbankan bagi UMKM.
”Tidak sesederhana itu untuk mengatasi angka pengangguran,” katanya. Bahkan pesatnya pertumbuhan partisipasi debitor KUR dalam pandangan Faisal hanyalah pengalihan dari jenis kredit lainnya ke KUR. Sebab, terhitung tidak lebih tujuh bulan hingga akhir Juni 2008 ini,BRI sebagai salah satu bank pelaksana KUR sudah menyalurkan kredit kepada 800.000 debitor.Prestasi yang cukup membuat kagum. Sedemikian antusiasnya masyarakat menyambut KUR.
”Sebagian besar debitor KUR di BRI merupakan pengalihan dari jenis kredit lainnya,”ungkap Faisal. Meski begitu, Faisal kembali menekankan bahwa KUR mampu menurunkan angka pengangguran adalah berlebihan.Semula,KUR diharapkan bisa menurunkan angka pengangguran hingga 3 juta per tahun dengan kredit yang disalurkan kepada 1 juta orang.Asumsinya, setiap 1 orang penerima kredit mampu membuka usaha yang merekrut asisten 2 orang.
Hasil penjumlahan dari itu adalah berkurangnya angka pengangguran 3 juta orang per tahun. Berarti, bila program ini berjalan selama 5 tahun, tak kurang dari 15 juta orang pengangguran bisa diatasi.Itulah hitungan di atas kertas, sedangkan persoalan pengangguran tidak sesederhana itu.
Apalagi bila mengingat plafon kredit yang diberlakukan di bawah Rp5 juta. Bisa jadi debitornya adalah pengusaha kecil seperti pedagang kaki lima, tukang jamu, atau pedagang kecil lain yang tidak membutuhkan asisten. Artinya, debitor yang menikmati KUR belum tentu membuka lapangan kerja baru bagi 2 orang tenaga kerja.
Selain itu, Faisal menilai penyaluran KUR tampak lebih terkonsentrasi di masyarakat perkotaan ketimbang menyebar merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.Walau begitu, Faisal menilai KUR sebagai ”dewa penolong” untuk membantu pertumbuhan UMKM. Paling tidak momok ”bankable” kini telah terjembatani dengan adanya KUR.
Meski mekanisme penyaluran KUR masih tetap sesuai standar dan kriteria perbankan,program ini lebih baik ketimbang kredit usaha tani (KUT) yang hanya menghasilkan kredit macet sekitar lebih dari Rp7 triliun dari total Rp10 triliun.Artinya, filter pertama untuk mencegah terjadinya penyelewengan dan kredit macet sudah dilakukan.
”Sebab, jika dulu banyak usaha kecil yang dianggap tidak bankable, KUR ini membuat mereka tertolong. Jadi,jangan bayangkan KUR itu bagi orang yang sama sekali belum pernah melakukan usaha,”ujar Faisal. Berdasarkan catatan BRI, pada kuartal keempat 2007 pertumbuhan kredit paling besar disumbang dari sektor UMKM–memberi kontribusi sebesar 50%.Angka kredit macet (nonperforming loan/NPL) BRI pun membaik.
Dari angka 4,81% pada akhir Desember 2006 menurun menjadi 3,44% pada akhir Desember 2007.Ini semakin membuktikan pembiayaan kredit sektor UMKM memiliki prospek yang menjanjikan bagi dunia perbankan.Di sisi lain UMKM memang sangat membutuhkan pendanaan untuk mengembangkan usaha yang tidak lagi tersandung status tidak bankable. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/dewa-penolong-wong-cilik-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment