Senin, 14 Juli 2008

BAMBANG SUDIBYO, MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Kepala Sekolah yang Nakal Saya Pidanakan!

BAMBANG SUDIBYO, MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Kepala Sekolah yang Nakal Saya Pidanakan!
Saturday, 12 July 2008
MAHALNYA biaya pendidikan di Indonesia menjadi keprihatinan banyak pihak. Sebab,hal itu membuat pendidikan menjadi barang mewah.Selain itu,masyarakat ekonomi lemah semakin sulit mengaksesnya.

Padahal, amanat konstitusi menyebutkan bahwa pendidikan dasar menjadi hak setiap warga negara dan negara berkewajiban membiayainya. Meskipun telah ada kebijakan penyaluran dana bantuan operasional (BOS),ternyata hal itu belum mampu menjawab persoalan.Sebab, minimnya alokasi dana BOS dari APBN ternyata belum didukung secara penuh dana APBD pemerintah daerah.

Ironisnya,dana yang sedikit bagi jutaan anak-anak Indonesia itu konon malah dinikmati segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara dikorupsi. Hal inilah yang membuat Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo berang.Mendiknas mengatakan, kepala sekolah yang nakal bisa dipidanakan.

”Kepala sekolahnya bisa kena pidana.Penipuan dan sebagainya yaharus dipidanakan,” tegasnya. Bagaimana sebenarnya penanganan pemerintah terhadap karut-marutnya wajah pendidikan nasional? Berikut petikan wawancara SINDO dengan Mendiknas di kantornya,Jumat (11/7).

Target Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun pada 2008 ini seharusnya sudah tercapai. Tetapi,biaya pendidikan, baik yang langsung maupun tidak,sangat mahal.Bagaimana tanggapan Anda?

Harus dibedakan antara sekolah wajib belajar dengan pendidikan di atas wajib belajar.Untuk pendidikan wajib belajar,UU mengatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah masing-masing menyelenggarakan pendidikan Wajar 9 Tahun tanpa memungut biaya.Pemerintah sudah memulainya dengan memberikan dana biaya operasional sekolah (BOS).Kalau hal yang sama dilakukan pemerintah daerah, mestinya tidak ada pungutan- pungutan lagi.

Tetapi,kabarnya BOS yang sampai sekolah itu tidak penuh,bahkan menguap kembali ke Dinas Pendidikan setempat.Jadi,sekolah masih harus melibatkan orangtua murid untuk membiayai operasional sekolah?

Pemerintah menyalurkan dana ini pasti sampai ke tangan sekolah.Seperti Provinsi DKI Jakarta,dana BOS-nya tiga kali lipat dari yang diberikan pemerintah pusat.Dengan demikian, tidak ada alasan lagi untuk memungut biaya-biaya di DKI sekolah wajib belajar. Kalau masih dipungut biaya, itu pelanggaran.Kepala sekolahnya bisa kena pidana.

Pungutan memang tidak ada.Tetapi,pada praktiknya ada semacam itu dalam bentuk lain?

Apa pun namanya,pemerintah daerah bisa memberikan sanksi.Pemerintah melakukan penelitian pungutan apa saja yang masih terjadi dan ini dilakukan terhadap sejumlah kepala sekolah yang masih nakal.BOS dari pemerintah pusat meng-cover sekitar 65% dari kebutuhan sekolah,35% sisanya ditanggung bersama oleh provinsi dan kabupaten/kota. Rata-rata kabupaten/kota itu menambah per tahunnya sekitar Rp8 miliar–10 miliar.

Terkait pendaftaran siswa baru di tingkat menengah, sekolah bersama komite sekolah bersepakat untuk meminta pungutan dengan dalih untuk membantu sekolah?

Kalau SMA atau SMK itu berbeda karena bukan lagi wajib belajar.UU-nya memang tidak mengatakan gratis.Sementara untuk tingkat SD dan SMP itu harus gratis.Memang wajib belajar ini belum semua merata. Seperti di Sumatera itu baru Aceh,Riau,Sumatera Utara, Barat,Jambi,Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung. Kemudian,Sumatera Selatan, Bengkulu,dan Lampung belum gratis.Sementara di Jawa,ada dua provinsi besar yang masih belum tuntas, yakni Jawa Barat dan Banten. Yang sudah itu baru DKI Jakarta,DI Yogyakarta,Jawa Tengah,dan Jawa Timur.

Upaya-upaya yang Anda lakukan adalah guna mewujudkan pendidikan untuk semua orang tanpa terkecuali, baik miskin ataupun kaya?

Sebetulnya,untuk Wajib Belajar 9 Tahun,itu tingkat partisipasinya sudah tinggi. Angka partisipasi kotor sudah mencapai 114%.Jadi, hampir semua anak sudah sekolah.Namun,ada saja hambatan,untuk sebagian kecil anak itu tidak sekolah. Terhadap yang tidak sekolah ini,bagaimana kami melayaninya? Kami layani dengan pendidikan,misalnya sekolah layanan khusus, seperti SMP terbuka, SD/SMP satu atap.Itu bentuk layanan khusus.

Kapan Indonesia bisa mewujudkan pendidikan murah berkualitas dan terjangkau semua kalangan tanpa terkecuali?

Sebetulnya tujuannya itu bukan pendidikan murah,melainkan pendidikan terjangkau. Kalau murah itu mau,tapi bermutu itu adalah paradoks. Secara logika,itu akan sulit. Yang penting terjangkau. Kalau wajib belajar memang gratis.Saya cukup optimistis tahun ini target Wajar 9 Tahun secara nasional 95% bisa tercapai. Artinya,masih tercecer 5%.Ini nantinya akan kita tangani secara khusus.Akan tetapi,kalau sudah seperti itu, jika sudah mencapai 95%, isunya mulai bergeser,yakni tidak lagi tentang akses pendidikan, tetapi pada peningkatan mutu pendidikan. (abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/bambang-sudibyo-menteri-pendidikan-nasional-kepala-sekolah-yang-nakal-saya-pidan-2.html

1 komentar:

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment