Membuang Paradigma Lama
Saturday, 05 July 2008
Indonesia masih minim mengembangkan energi terbarukan. Setidaknya,itulah pandangan banyak kalangan terkait krisis energi yang terjadi belakangan ini.Meski demikian, target pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan bukan tidak mungkin bisa berhasil.
Konsekuensinya, dilakukan secara komplementer dan berbasis produktivitas. Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menilai,mandeknya realisasi target kebijakan energi nasional akibat belum adanya roadmapyang jelas.Selain itu, juga kebijakan yang dibuat pemerintah tidak diimbangi dengan rencana yang detail.
”Sejauh ini, usaha pemerintah tidak maksimal dan masih sulit merealisasikan target yang telah dicanangkan,” katanya kepada SINDO. Banyak kalangan sepakat, untuk urusan ketersediaan sumber daya alam energi alternatif dan terbarukan,Indonesia tidak kekurangan.
Ironisnya,hingga kini ketersediaan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan apalagi untuk mengatasi krisis energi. Setidaknya,ada lima besar potensi energi terbarukan Indonesia. Mulai panas bumi yang melimpah 40% dari kandungan yang ada di dunia,biomassa, tenaga air,matahari,dan angin.
Belum termasuk batu bara yang telah dicairkan dan diubah menjadi hidrokarbon sintetik yang kini kapasitas pengembangannya sudah mencapai 3000 ton per hari. ”Biaya produksi batu bara cair sekitar USD28 per barel.Melihat harga minyak mentah yang mencapai lebih dari USD146 per barel,tentu ini akan sangat potensial untuk dikembangkan.
Ini sudah kita kembangkan sejak 1990. Lagi-lagi,masalahnya karena investasi yang minim,”papar Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi. Hitung-hitung sebenarnya energi alternatif dan terbarukan di Indonesia memang cukup melimpah.
Contohnya,potensi tenaga air di Indonesia yang diperkirakan mencapai 75.000 MW yang tersebar pada 1315 lokasi.Dari angka diperkirakan 34.000 MW, di antaranya bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik dengan kapasitas 100 MW. Berdasarkan data Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga 2004,pemanfaatan air untuk pembangkit listrik skala besar baru sekitar 5,6%.
Total yang sudah dimanfaatkan diperkirkan baru 15% dari potensi yang ada.Itu artinya banyak sekali sumber daya yang belum termanfaatkan. Arya mengungkapkan,untuk memanfaatkan energi terbarukan ke depan harus dilakukan secara komplementer,sehingga memang tidak bisa dipisahkan.Bukan berarti tidak memiliki prioritas, melainkan mempertimbangkan perbedaan karakter geografis dan potensi sumber daya yang ada di setiap daerah di Indonesia.
Sebab untuk suatu wilayah yang memiliki kandungan potensi air melimpah,pembangkit listrik tenaga air sangatlah cocok. Sementara untuk wilayah timur Indonesia,juga bukan ide yang buruk bila dikembangkan energi surya.Bisa jadi suatu wilayah memiliki beberapa macam pembangkit.”Harus dicatat kebutuhan energi masyarakat bukan hanya untuk listrik, tetapi juga energi cair seperti bensin dan solar,”tandasnya.
Dengan demikian,pengembanganenergi biomassa memang mutlak diperlukan.Catatannya pengembangan energi hijau ini tidak mengganggu sektor pangan,ini juga masih kontroversial. Paling tidak,pohon jarak pagar dan bioetanol bisa menjadi salah satu pilihan paling rasional.
Memang,hingga saat ini banyak kalangan menilai pengembangan energi terbarukan masih relatif lebih mahal ketimbang memanfaatkan energi fosil.Namun mempertimbangkan melambungnya harga minyak mentah dunia yang mencapai lebih dari USD146 per barel, Arya mengungkapkan energi terbarukan merupakan pilihan yang harus diambil.
”Dengan mengembangkan bioenergi,kita tidak perlu khawatir akan mengalami krisis pangan.Sebab misalnya bioetanol itu singkong,yang dipakai singkong beracun,sehingga tidak akan mempengaruhi sektor pangan,”kata Staf Ahli Bidang Energi Alternatif dan Terbarukan Kementrian Negara Riset dan Teknologi Martin Djamin.
Menurut dia,prinsipnya,para pakar dalam negeri sudah menyiapkan teknologi pemanfaatan energi terbarukan dan alternatif. Sayangnya,bukan sesuatu yang mudah untuk melanjutkan prototipe skala pilot menuju skala massal industri komersial.Martin menyatakan,demi membuat kesinambungan terhadap missing link ini,pihaknya mengupayakan difusi,yakni bagaimana antara peneliti dan industri bekerja sama meneliti dan mengembangkan teknologi.
”Sehingga ketika sudah selesai diteliti,kemudian dibeli industri untuk dikembangkan.Kita mengajak untuk membuat jaringan atau networking,”ujarnya. Selain itu,penyadaran publik tentang hemat energi sejak dini juga diperlukan.Bahkan Martin menyarankan hal ini bisa dimasukkan kurikulum mulai bangku sekolah dasar.Pemahaman bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber energi ternyata hanya menimbulkan salah kaprah.
Tidak hanya itu, menimbulkan karakter boros dan tidak mau disiplin dalam menggunakan energi. Selain itu,ide untuk memberi labelingsecara lebih terperinci pada produk elektronik hemat energi juga akan sangat membantu. Artinya,pencantuman status hemat energi juga memaparkan potensi penghematan biaya yang bisa didapatkan.”Di luar negeri,energy awareness sudah diajarkan sejak anak usia dini.
Sementara kita tidak terpikir bagaimana kita menghemat energi dan pentingnya energi, sehingga perlu ada kurikulum energi,”paparnya. Ninabobo tentang kisah negeri kaya minyak ini juga menjadi keprihatinan Kepala Subdirektorat Usaha Energi Baru dan Terbarukan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi ESDM Kosasih Abbas.
Menurut dia,paradigma itulah yang membuat pola konsumsi energi masyarakat sangat konsumtif.Untuk itu,saat ini paradigma masyarakat juga harus mempertimbangkan berdasarkan produktivitas. Sehingga penggunaan energi listrik misalnya,akan sangat mempertimbangkan berapa biaya dan apa yang dihasilkan dari penggunaan tersebut.”Kita terlalu dininabobokan oleh anggapan bahwa kita kaya.Ke depan,penggunaan listrik harus berbasiskan produktivitas,”tandasnya. (abdul malik/faizin aslam/ islahuddin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/membuang-paradigma-lama-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment