| Monday, 07 July 2008 | |
| ”MALAYSIA,the Truly Asia”.Itulah slogan promosi Negeri Jiran itu.Slogan tersebut disebarkan ke seantero dunia lewat berbagai media,baik cetak maupun elektronik. Konon,bujet promosi pariwisata Malaysia untuk stasiun CNNsaja mencapai USD11 juta per tahun.Jauh di atas anggaran promosi pariwisata Indonesia di CNNyang hanya USD20.000 per tahun.Untuk berpromosi melalui dunia maya,Malaysia rela merogoh kocek USD3 juta. ”Sementara kita tidak mungkin karena anggarannya sangat terbatas,”kata Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Thamrin B Bachri. Tak mengherankan jika sektor pariwisata Malaysia berkembang pesat.Bahkan,tidak sedikit pelancong dari Indonesia berbondong-bondong berkunjung ke negeri jiran.Padahal,dari sisi kekayaan potensi alam (panorama dan budaya),Indonesia tak kalah hebatnya.Namun,apa lacur,Malaysia terlanjur dianggap lebih menarik. Thamrin yang juga mantan Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) ini menyatakan, anggaran promosi pariwisata Indonesia masih minim,yakni sekitar Rp200 miliar atau seperlima dari anggaran Malaysia dan sepersepuluh dari Singapura. Karena itu,anggaran promosi pariwisata harus dimanfaatkan seefisien mungkin untuk bisa menjaring 7 juta wisatawan mancanegara (wisman) seperti yang ditargetkan pemerintah untuk 2008 lewat Visit Indonesia Year 2008. ”Bukan berarti karena minimnya anggaran,lantas kita berdiam diri dan menyerah.Meski anggaran minim, promosi harus tetap jalan,”tandasnya. Meski begitu,target 7 juta wisman bukanlah pekerjaan mudah jika promosi yang dilakukan serbaterbatas.Data Depbudpar menyebutkan,realisasi kunjungan wisman selama periode Januari–April 2008 belum menggembirakan, yakni tercatat kunjungan sebanyak 1.864.585 orang atau naik 12,71% dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun,angka ini masih belum sesuai target. Setidaknya,untuk mencapai angka kunjungan 7 juta wisman,minimal peningkatan rata-rata mencapai 27% per bulan.Artinya,masih ada kekurangan sekitar 15%.Maka, untuk periode Mei–Agustus ini realisasi kunjungan harus dikatrol mencapai rata-rata 40% per bulan guna memenuhi kekurangan periode itu. Padahal,potensi pariwisata untuk menarik devisa sangat besar.Pada 2007 misalnya,bermodalkan Rp1 triliun, pariwisata Indonesia mampu menarik devisa sebesar Rp45 triliun.Melihat dana promosi yang dimiliki Indonesia, sejatinya anggaran tersebut masih jauh di bawah standar Organisasi Pariwisata Dunia (United Nations World Tourism Organizations/UNWTO). Standar dana promosi untuk mendatangkan seorang wisman menurut UNWTO sebesar USD10.Sebab,seorang wisman potensial menghabiskan uang rata-rata USD1.000 sekali kunjungan.Menurut Thamrin,jika tersedia dana promosi Rp500 miliar saja, sudah bisa dilakukan pemasaran secara strategik. Strategi pemasaran yang dilakukan,di antaranya cross marketingyang bekerja sama dengan pelaku usaha Indonesia yang berada di luar negeri atau pemasaran gerilya. Bisa dengan cara mendatangkan wartawan asing ke Indonesia,juga memanfaatkan momen-momen berlangsungnya event internasional di negara tetangga. ”Misalnya,ada penyelenggaraan F1 di Malaysia,maka itu akan ada banyak wisatawan asing yang datang ke Malaysia.Kita bisa bekerja sama dengan maskapai penerbangan dan menawarkan paket-paket promosi lain agar setelah dari Malaysia mereka akan berkunjung ke Indonesia,”tandasnya. Sebab,selama ini,kecuali Bali,dibandingkan Malaysia dan Singapura,daerah lain di Indonesia masih belum dijadikan tujuan utama wisata.Thamrin mengakui hal ini karena Malaysia dan Singapura lebih agresif melakukan promosi.Bukan hanya promosi iklan melalui berbagai media,melainkan juga paket-paket kebijakan yang semakin memanjakan wisatawan. Contoh pemberlakuan visa on arrival (VOA) 60 hari yang dilakukan Malaysia dan Singapura.Sementara mempertimbangkan faktor keamanan,Indonesia masih memberlakukan VOA 30 hari. Thamrin mengakui Indonesia belum bisa memberikan kelonggaran atau memanjakan wisatawan.Padahal,berdasarkan tipikalnya,wisman dibagi beberapa macam. Ada wisman massal (mass tourism) yang biasanya mau berkeliling ke seluruh Indonesia (multiple destination).Ada juga wisman minat khusus (special interest) dengan tujuan kunjungan ke satu tempat saja.Misalnya,komunitas-komunitas masyarakat pencinta alam,penyelam,atau lainnya. ”Untuk yang special interest, kita lebih unggul. Misalnya,untuk para divers, kita punya terumbu karang di Raja Ampat dan Bunaken yang sangat indah,”tandasnya. Meskipun ada istilah rumput di rumah tetangga terlihat lebih hijau,Thamrin menegaskan,dengan segala keterbatasan yang ada,industri pariwisata Indonesia bisa mendapatkan tempat istimewa di hati para wisatawan. Catatannya,semua elemen masyarakat mendukung kegiatan pariwisata alias melek wisata. (abdul malik/faizin aslam/ islahuddin) http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/nafsu-besar-kocek-cekak-2.html |
Selasa, 08 Juli 2008
Nafsu Besar, Kocek Cekak
Nafsu Besar, Kocek Cekak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment