Energi Hidro Negeri Sakura
Sunday, 06 July 2008
Jepang merupakan salah satu negara paling agresif mengembangkan fuel cell (sel bahan bakar) sebagai salah satu sumber energi.Indonesia bisa banyak belajar tentang teknologi konversi energi langsung ini.
Saat ini sel bahan bakar sedang menjadi primadona. Banyak negara maju berlomba-lomba untuk mengembangkan salah satu energi alternatif yang ramah lingkungan ini.Aplikasi dari energi yang berbasis hidrogen ini bisa digunakan mulai dari mobil, ponsel, peralatan rumah tangga hingga kereta api dan helikopter. Pada 2003, Departemen Ekonomi, Industri dan Perdagangan Jepang menyisihkan pendapatan fiskal sebesar USD256 juta untuk mengembangkan energi ini.
Anggaran itu guna pembangunan pembangkitan 2,1 juta kilowatt, setara dengan 4,5% konsumsi energi masyarakat rumah tangga di Jepang dengan sel bahan bakar pada 2010. Ditargetkan, pada 2020 berhasil dibangun pembangkitan dengan kapasitas 10 juta kilowatt. Bahkan, banyak kalangan sepakat bahwa Jepang sedang mengalami era energi hidrogen.
Meskipun tidak semua pasar bisa menerima produk aplikasi dari sel bahan bakar, Jepang dan Uni Eropa tercatat sedang gila-gilanya mengembangkan sumber energi yang efisiensinya mencapai 50–70% ini.Tercatat, lebih dari 2.500 sistem sel bahan bakar sudah diaplikasikan di seluruh dunia. Mulai di rumah sakit, rumah tangga, hotel, perkantoran, sekolah, bahkan pembangkit listrik.
Ultra- Cell, sebuah perusahaan di California, Amerika Serikat (AS), akhir Juni lalu baru saja mengeluarkan produk baterai fuel cell25 watt untuk notebook yang tahan hingga 14 jam. Kabar ini semakin menunjukkan bahwa masa depan fuel cell sebagai industri sangat cerah. Tak pelak, beberapa perusahaan produsen automotif termuka di Jepang pun berlomba-lomba mengeluarkan produknya dengan bahan bakar fuel cell.
Toyota misalnya, yang menargetkan mulai memproduksi Camry Hybrid di Thailand tahun mendatang, dan Australia pada 2010. Toyota berambisi meningkatkan produksi dan menargetkan bisa menjual 800.000 unit mobil hibrida ini. Begitu juga raksasa automotif Jepang lainnya,Honda yang telah meluncurkan beberapa model hibrida,di antaranya FCX Clarity dan CR-Z Concept, menargetkan penjualan 500.000 unit pada 2010.Tidak tanggung- tanggung, untuk mengembangkan FCX Clarity ini Honda harus merogoh kocek USD1 juta.
Diperkirakan, ongkos produksi per unit mencapai USD100.000. Selain Toyota dan Honda, Suzuki juga sudah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah Jepang untuk mengembangkan produk mobil hijaunya, SX4-FCV,secara komersial.Tidak berbeda, Matsushita Electric Industrial Co Ltd menargetkan hasil penjualan sebesar USD942 juta dari peralatan rumah tangga berbasis fuel cell pada 2015.
Banyak lagi industri di Jepang yang demikian optimistis bakal meraup keuntungan besar dari bisnis produk berbasis hidrogen ini. Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi begitu optimistis fuel cell sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Bahkan menurut dia, pada periode 15–20 tahun mendatang, antara Indonesia dan Jepang merencanakan akan bekerja sama aplikasi fuel cell secara komersial.
”Sebab, Jepang sangat agresif mengembangkan fuel cell bahkan sudah diaplikasikan untuk mobilmobil mereka, sehingga tidak salah jika kita bekerja sama dengan mereka,” katanya. Senada dengan hal itu, Kepala Subdirektorat Usaha Energi Baru dan Terbarukan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) ESDM Kosasih Abbas menilai bahwa Jepang merupakan negara yang paling gencar kembangkanfuel cell.Tidak salah, jika Negeri Sakura itu akan menjadi terdepan dalam pengembangan bahan bakar hidrogen itu. Meskipun jika dilakukan kerja sama bilateral antara dua negara, itu tetap dilakukan secara lebih teliti. B
ukan hanya skala penelitian, melainkan juga skala komersial. ”Jika ingin melakukan kerja sama tidak bisa sembarangan. Sebab, bukan hanya kita yang belajar dari Jepang, melainkan negara ini juga belajar mengaplikasikan teknologinya di kita,”paparnya. Mungkin Indonesia memang belum secara serius menggarap potensi fuel cell sebagai sumber energi masa depan.
Sebab tercatat, beberapa kegiatan yang dilakukan beberapa kalangan di dalam negeri masih dalam skala penelitian. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia misalnya, dulu sempat menyatakan akan mengembangkan penelitian sepeda motor berbahan bakar fuel cell. Minimnya dukungan sarana dan pendanaan menghambat pelaksanaan penelitian ini.
Paling tidak, secara dasar Indonesia sudah melakukan beberapa penelitian terkait fuel cell. BPPT misalnya, telah mengembangkan fuel cellyang bisa digunakan untuk skala rumah tangga. Ini merupakan bagian dari target kebutuhan energy mix nasional 5% pada 2025. Prototipe ini dilakukan untuk pengembangan pembangkitan listrik skala rumah tangga.
Secara jangka panjang,hingga 2025 ditargetkan penguasaan teknologi Polymer Electrolyte Membrane Fuel Cell (PEMFC) kapasitas hingga 50 KW dan kapasitas terpasang nasional hingga 250 megawatt. Dalam jangka menengah Agenda Riset Nasional (ARN) 2009, target pengembangan energi hidrogen (fuel cell) adalah penguasaan teknologi produksi, penyimpanan, distribusi,dan keamanan hidrogen.
BPPT melansir telah melakukan kegiatan penguasaan teknologi fuel cellyang merupakan energi alternatif masa depan meliputi penguasaan teknologi material untuk pembuatan komponen fuel cell,energinya sendiri, serta teknologi penyimpanan dan distribusi hidrogen.
Seperti dipaparkan laporan ESDM, berdasarkan kemampuan industri dewasa ini, kandungan lokal untuk sistem pembangkit dengan menggunakan fuel cell mencapai 40%, yakni untuk pembangunan unit reformer, penukar panas dan perpipaan,kelistrikan,dan pabrikasi sehingga komponen yang diperkirakan masih harus impor sekitar 60%. ”Termasuk untuk keperluan rekayasa teknik dan pabrikasi berbagasi sistem teknologi fuel cell sejauh ini belum tersedia,” tambah Kosasih. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/energi-hidro-negeri-sakura-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment