Selasa, 08 Juli 2008

Kaum Kusam Juga Butuh Liburan

Kaum Kusam Juga Butuh Liburan

Nikmat kau hisap asap tembakau, di bangku rumah kontrakan.

Sore selesai kerja sehari, tunggu isteri berdandan. Janji pergi berkencan.

Tak kalah dengan orang gedean dalam merasakan senan.,

Walau lembaran gaji sebulan hanya cukup untuk kakus (makan), soal rekreasi sih harus.

Setianya anak isteri menantikan bahagia sehari bagaikan sang raja.

Libur kecil kaum kusam yang teramat manis begitu romantis walau sekali setahun.

Meski dengan gaji pas-pasan, yang namanya liburan juga dibutuhkan masyarakat kelas bawah. Bagi kaum urban yang tinggal di pinggiran kota, pilihan tempat tujuan wisata jelas disesuaikan dengan kocek yang ada. Tak perlu naik taksi, cukup dengan angkutan kota.

Apalagi berpikir untuk makan di restoran mewah. Semua perbekalan dibawa dari rumah hasil masakan sendiri. Itulah potret sebagian besar kaum urban di perkotaan yang dilantukan penyanyi balada Iwan Fals dalam lagunya, ”Libur Kecil Kaum Kusam”.

Dari kisah dalam lirik lagu tersebut, satu hal bisa ditarik bahwa berwisata bukan lagi kebutuhan mewah milik orang-orang berduit semata, tetapi juga menjadi kebutuhan masyarakat kebanyakan. Bahkan, berwisata sudah menjadi kebutuhan dasar manusia.

Hal itu pula yang diungkapkan John Naisbitt dalam bukunya, Global Paradox. Naisbitt memprediksikan, pada abad 20 wisata sudah menjadi hak azasi manusia. Sebelumnya, wisata dianggap sebagai kebutuhan kaum elite semata. Naisbitt memaparkan, pola konsumsi masyarakat terkait kebutuhan psikologis tanpa membedakan kelas, perlahan berubah. Jika sebelum abad ke-20 masyarakat kelas bawah merasa tak perlu rekreasi, asumsi itu perlahan mulai terkikis. Masyarakat abad ke-20 mulai sadar pentingnya memberikan asupan psikologis dengan kebutuhan berwisata.

Semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya berwisata, otomatis menguntungkan industri pariwisata. Artinya, dengan meningkatnya kesadaran akan kebutuhan wisata pada masyarakat tentu berkorelasi dengan meningkatnya pendapatan industri sektor ini, termasuk pendapatan masyarakat.

Delapan tahun silam, Bank Dunia mencoba memformulasikan cara untuk mengatasi kemiskinan lewat sektor pariwisata dengan program “community-based tourism” (CBT). Konsepnya, dengan mengembangkan tiga kegiatan pariwisata, yakni wisata petualangan (adventure travel), wisata budaya (cultural travel), dan ekoturisme (ecotourism). Sebab, ketiga jenis pariwisata tersebut bisa didukung dengan sistem akomodasi yang dimiliki masyarakat (small family-owned hotels). Artinya, dengan mengembangkan ketiga jenis wsiata tersebut diyakini bisa mendongkrak pendapatan masyarakat setempat dan sekitarnya sekaligus memelihara budaya, kesenian dan cara hidup masyarakat itu sendiri.

Program ini awalnya memfokuskan kepada kunjungan wisatawan domestik. Sebab, dengan semakin seringnya objek wisata dari ketiga jenis wisata di atas, maka akan semakin populer. Pada akhirnya, hal itu merupakan promosi untuk menarik datangnya wisatawan manca negara.

Data Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) memperlihatkan, statistik perkembangan jumlah wisatawan domestik mengalami tren kenaikan. Pada 2001, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 103,8 juta orang dan wisata perjalanan 195,5 juta dengan total pengeluaran Rp58,71 triliun. Kemudian pada 2002 meningkat menjadi 105,3 juta wisnus dan 200 juta wisata perjalanan dengan total pengeluaran Rp68,8 triliun. Tahun berikutnya, angka wisnus mencapai 110 juta orang dan wisata perjalanan 207,1 juta dengan total pengeluaran Rp70,87 triliun.

Begitu juga pada 2004, jumlah wisnus mencapai 111,3 juta dan wisata perjalanan 202,7 juta dengan total pengeluaran Rp71,7 triliun. Tahun 2005 meningkat menjadi 112,7 juta orang wisnus dan 213 juta wisata perjalanan dengan total pengeluaran Rp74,7 triliun. Sementara pada 2006 dan 2007, wisnus mencapai angka 114,3 juta orang dan 116,1 juta orang. Wisata perjalanan diperkirakan mencapai 216,5 juta dan 219,7 juta orang. Total pengeluaran pada 2006 sebesar Rp78,7 triliun dan 2007 Rp79,8 triliun.

Perlu diakui, pola konsumsi wisata masyarakat mulai berubah. Jika dulunya kebanyakan wisatawan hanya ingin bersantai atau berjemur di bawah sinar matahari misalnya. Namun kini sudah mencapai tahap yang lebih tinggi yakni menikmati kreasi budaya, peninggalan sejarah, serta ekowisata, yang kesemuanya tak hanya milik orang berduit, mereka yang disebut kaum kusam pun membutuhkannya. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment