Selasa, 01 Juli 2008

The Sinking Titanic Jilid Dua

The Sinking Titanic Jilid Dua
Saturday, 28 June 2008
Perpecahan melanda Partai Golkar.Beberapa kalangan membenarkan ada sejumlah faksi dalam tubuh partai berlambang pohon beringin itu. Mungkinkah Golkar akan karam?

Istilah the Sinking Titanic pernah disematkan kepada Partai Golkar ketika Orde Baru (Orba) tumbang. Golkar yang dianggap sebagai mesin politik Orba dihujat banyak orang.Tujuan akhir mereka adalah agar Golkar tumbang sebagai sebuah partai. Namun, meski kekuasaan Orba tumbang, akar-akar beringin tetap kokoh dan bahkan mampu membalikkan hujatan tersebut.

Istilah Golkar bak kapal Titanic yang pecah pun keliru.Lewat strategi yang cantik, Golkar mampu bertahan di tengah cercaan masyarakat. Kini, istilah itu muncul kembali pascakekalahan mereka di sejumlah pemilihan kepala daerah (pilkada). Faksi-faksi di tubuh Golkar pun mulai mencuat ke permukaan.Mungkinkah the sinking Titanic jilid dua akan berlaku? Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta Gandung Pardiman prihatin melihat kondisi ini.

Sebab faksi-faksi inilah yang menjadi sumber utama munculnya masalah di tubuh partai berlambang pohon beringin ini. ”Itu faksi-faksi harus dihapus. Meskipun Dewan Pimpinan Pusat (DPP) tidak mengakui,realitasnya ada,”katanya kepada SINDO. Sangat disayangkan, dalam tubuh partai sekelas Golkar ternyata budaya demokrasi belum secara baik dipraktikkan.

Tidak ada pertemanan atau permusuhan yang abadi dalam dunia politik. Namun bagi partai besar seperti Golkar, terdengar agak aneh jika masih ditemui praktik saling melukai martabat kader satu sama lain. Barangkali inilah wajah dunia perpolitikan nasional. Jika kondisi ini terus berlangsung, bagaimana Golkar bisa mencapai target perolehan suara 30% pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.Meski itu target moderat,tidak akan mudah terwujud apabila secara internal masih terjadi konflik dan perpecahan.

”Mereka melakukan itu karena tidak menghayati dan melaksanakan ikrar pancabakti Golkar, yakni pembina kesatuan dan persatuan yang berwatak persatuan dan kesatuan,” tandasnya. Konon,saat ini ada beberapa faksi dalam tubuh Partai Golkar yang mendukung beberapa tokoh.Di antaranya faksi yang mendukung Jusuf Kalla yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum DPP sekaligus Wakil Presiden RI.

Kemudian, faksi pendukung Agung Laksono yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP dan Ketua DPR RI. Faksi pendukung Surya Paloh yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat DPP Golkar serta faksi pendukung Akbar Tandjung yang disebut-sebut sebagai barisan sakit hati karena para pendukungnya ”dibersihkan” dari kepengurusan Golkar.

Namun, menurut Gandung, ternyata munculnya faksi lebih dari itu. Ada juga faksi-faksi kecil atau bahkan faksi yang menyatakan dirinya netral tidak mendukung siapa pun. Secara positif, ini memang bisa dilihat sebagai munculnya perbedaan wacana sehingga menimbulkan dinamika dalam demokrasi di tubuh partai. Namun, jika ditanggapi negatif, yang terjadi tidak sedikit pula kader yang memutuskan keluar dari keanggotaan partai. ”Untuk itu kader Golkar haruslah menjunjung tinggi mekanisme yang ada serta tidak menyakiti satu sama lain.

Jika masih tidak mau saling menghormati, tidak bisa disalahkan jika akan banyak kader yang membelot dari partai,”tambah Gandung. Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menyatakan ada tiga faksi yang kuat dalam tubuh partai Golkar, yakni faksi Kalla,Agung, dan Akbar. Menurut dia, jika pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Kalla tidak optimal dalam menggiring isu terkait kenaikan harga BBM, faksi Kalla bisa tersudut oleh faksi lain.

Dia memprediksi faksi Agung yang memproklamasikan diri sebagai pengusung perubahan bisa mendominasi dukungan di dalam tubuh partai. ”Isu perubahan itu berembus dalam tubuh Golkar,” ungkapnya. Dia menilai, kini faksi pendukung Kalla mulai tersudut akibat kekalahan Golkar dalam sejumlah pilkada. Calon-calon yang diajukan DPP banyak yang menunai kekalahan.

Usut punya usut sebenarnya banyak kader partai dengan lambang warna kuning itu menginginkan perubahan. Namun hingga saat ini para kader itu, menurut Hermawan, masih menunggu hasil pilkada di Pulau Jawa. Jika analisis Hermawan ini benar, setelah kekalahan Golkar di Pilkada Jawa Barat dan Jawa Tengah, tinggal menunggu hasil Pilkada Jawa Timur. Namun, hitung-hitungan di Jawa Timur pun akan berat bagi Golkar untuk mendominasi perolehan suara.

Itu artinya suara-suara arus perubahan dalam lingkup internal partai Golkar akan semakin kuat.”Jadi bisa dikatakan bahwa ini merupakan pertarungan dan pertaruhan terakhir Kalla,”tandasnya. Namun, untuk yang satu ini, Gandung langsung membantah bahwa munculnya faksi di tubuh Golkar berarti akhir dari riwayat kepemimpinan Kalla sebagai ketua umum.

Menurut dia, meski di antara kader Golkar ada pemahaman berbeda, hal itu tidak akan menimbulkan perpecahan. Bahkan, dia menilai, jika beberapa tokoh sentral Golkar itu mencalonkan diri sebagai presiden, hal itu tidak akan mengubah kebulatan suara partai. ”Kami para kader tetap tidak akan terpecah belah dengan perbedaan pendapat ini,”ujarnya. Peneliti Cetro Erika Widyaningsih menyatakan perpecahan dalam tubuh partai adalah hal yang lazim terjadi.

Bahkan, secara fulgar,Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menunjukkan perpecahan itu.Layaknya apa yang terjadi di PKB, Erika menilai tidak menutup kemungkinan faksifaksi yang ada di Golkar akan berujung pada hal yang sama. Namun anggota Fraksi Partai Golkar Slamet Effendi Yusuf menyatakan membelotnya beberapa kader disebabkan adanya kebebasan berpolitik.

”Ketika orang tidak menemukan sesuatu dalam Golkar, tentu mereka akan mencari di tempat atau partai lain,” tuturnya. Ketua Harian Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu Partai Golkar Firman Soebagyo membantah adanya faksi-faksi ini. Menurut dia, kepengurusan di DPP Golkar solid dalam menentukan sebuah keputusan.

Selain itu, untuk penentuan capres sudah dibentuk tim khusus yang akan menggodoknya.Termasuk penentuan bakal calon gubernur, bupati,atau wali kota dalam pilkada. (abdul malik/islahuddin)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/the-sinking-titanic-jilid-dua.html

1 komentar:

  1. Pak tanya.. yang tepat 'The sinking Titanic' atau 'The Sinking of Titanic' atau malah 'Sinking of the Titanic'...? he2mm nggak ngaruh ya...

    BalasHapus

open for discuss, please feel free to comment