Sunday, 03 May 2009
Kunci sukses perusahaan dalam memasarkan produk adalah dengan mendengarkan konsumen. Perusahaan multinasional Unilever sudah membuktikannya.
Banyak sekali produk-produk konsumsi yang ditawarkan perusahaan dengan beragam merek dan penawaran. Namun, jarang sebuah merek produk yang demikian mengena bahkan dipercaya konsumennya.Unilever adalah salah satu perusahaan yang sukses membangun merek dan memasarkan produknya. Mulai produk makanan, perawatan tubuh, dan lainnya.
Menurut Global Customer Insight Manager Axe Unilever Inggris Ana CM Medeiros,kunci sukses untuk bisa melakukan pemasaran secara brilian adalah dengan mendekati konsumen. “Itulah mengapa kami demikian komitmen mencari tahu dan mengembangkan banyak cara agar tahu seperti apa kehidupan konsumen, sehingga kami bisa terjemahkan ke dalam proyek-proyek inovasi produk kami secara lebih efektif,” ujar Medeiros dalam paper-nya the “Co-Creation Revolution”.
Medeiros mengisahkan sejak awal Unilever sudah memulai inovasi dengan melibatkan konsumen. Upaya ini tidak sia-sia. Kini sebanyak 60 juta konsumen menggunakan produk Unilever, baik untuk diri mereka sendiri atau keluarga mereka. Kronologi inovasi yang dilakukan oleh Unilever, di antaranya dilakukan sejak 1980- an. Pada awal 1980-an, divisi riset Unilever melaksanakan diskusi kelompok dan penjaringan ide. Pada akhir 1980-an,riset etnografi adalah bagian dari inovasi. Misalnya, bagaimana melakukan pemasaran kepada konsumen dengan penghasilan rendah.
“Kami hidup bersama mereka beberapa hari sehingga meluncurkan produk deterjen ALA di Brasil,”ujarnya. Pada awal 1990-an, tim riset Unilever mulai mengembangkan kemitraan.Pola ini demi membantu pemasaran dan tim litbang Unilever untuk menerjemahkan keinginan dan kebutuhan konsumen. Proses ini kemudian diikuti oleh beberapa tahap yang penting.Menurut Medeiros, di akhir 1990, tim riset mulai memiliki cara dan metode penelitian yang lebih cepat dan efektif. Namun, hal ini tidak menghilangkan kualitas.
Pada awal 2000, baru mulai diberlakukan model co-creation.Sebuah proses yang dikembangkan secara kemitraan dengan melibatkan konsumen dalam banyak cara. “Metode ini tidak hanya membantu kami untuk mengidentifikasi sebuah pengetahuan, tapi juga menempatkannya dalam sebuah produk yang di dalamnya terdapat kombinasi antara konsep, pengemasan, periklanan, dan peluncurannya. Kami harus selalu memperbaiki strategi proses bisnis kami agar lebih relevan dengan kondisi konsumen,”paparnya.
Menurut Medeiros, pemahaman kepada konsumen harus disesuaikan dengan pemahaman mereka akan teknologi seperti internet. Untuk mengetahui kebutuhan konsumen,keinginan dan aspirasinya, sangat penting jika pasar baru sudah teridentifikasi. Buktinya, inovasi yang dilakukan oleh bukan dari pihak dalam perusahaan melainkan oleh konsumen atau suplier atau rekanan lainnya.Procter&Gamble pun berinvestasi membuka Divisi Connect & Develop, di mana 50% inovasi mereka datang dari luar. Baik itu konsumen, suplier, atau pihak ketiga.
Meski demikian,menurut Medeiros, perdebatan selanjutnya adalah apakah semua perusahaan mempercayai apa yang disampaikan konsumen, suplier, atau bahkan pihak ketiga. “Atau apakah mereka berpikir bahwa mereka tahu yang terbaik dan konsumen mereka tidak benar-benar tahu apa yang mereka inginkan sehingga harus ada cara untuk bisa melalui ini,”ujarnya. Pernyataan serupa pun diungkapkan Global Leader of Innovation Unilever Mehmood Khan.
Menurut dia,dalam kondisi perekonomian seperti sekarang, inovasi merupakan hal yang sangat penting. Perubahan terjadi sangat cepat. “Sehingga kita harus berinovasi berdasarkan perubahan itu. Sementara itu, kita masih menyediakan produk yang lebih fungsional dan terjangkau,” ungkapnya, sebagaimana dikutip www.ideaconnection.com. Mehmood Khan menerangkan, co-creation adalah kunci dari nilai yang tak terbatas.Kolaborasi dan co-creationadalah isu besar.Karena itu,tidak satu pun perusahaan yang bisa melaksanakannya dengan sempurna.
Perusahaan butuh waktu membuka diri pada banyak sumber pengetahuan dan nilai lainnya secara terus-menerus.Dengan jumlah sebanyak 6,7 miliar penduduk dunia, maka akan ada banyak cara untuk merambah pasar. “Dengan sebanyak 150 negara yang menjadi target pemasaran kami,di sisi lain, kami juga memiliki misi untuk membantu mereka memperbaiki hidup mereka,”paparnya. Mehmood Kahn mengisahkan tentang riset yang dilakukannya di Haryana, India. Bersama dengan beberapa perusahaan lain untuk mendapatkan nilai dari konsumen.
Itu adalah cara kreatif untuk mendapatkan nilai dan kesempatan emas di negara berkembang. Berkolaborasi antara negara, industri, perusahaan, dan profesional sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan. “Tentu saja melalui kekuatan kolaborasi dan co-creation. Cita-cita kami adalah bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik,”ungkapnya. Bagaimanapun,menurut Mehmood Khan,inovasi sangat penting dalam kondisi iklim perekonomian saat ini.
Jika perusahaan ingin bertahan dan melanjutkan usahanya, inovasi adalah jawabannya. Dengan cara membentuk tim inovasi dan mempraktekkan metode kolaborasi dan co-creation, bisa membantu perusahaan mengatasi masalahnya.Selain itu,membantu pengembangan sebuah produk secara lebih efektif. Menurut CK Prahalad, sebagaimana dikutip www.strategy-business. com, ada beberapa seni cara perusahaan untuk mendapatkan nilai dari konsumen.Jika menggunakan paradigma perusahaan sentris, konsumen berada di luar dari nilai, dan perusahaan yang mengendalikan di mana, kapan, dan bagaimana nilai itu akan ditambahkan.
Kemudian, nilai itu diciptakan secara bertahap dan dikendalikan oleh perusahaan sebelum produk diproduksi dan diluncurkan. Namun, pola itu kini sudah usang,sebab perusahaan di era global ini sudah harus merangkul konsumen sebagai bagian dari produk. (abdulmalik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/235224/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment