Selasa, 05 Mei 2009

Inovasi Co-Creation - Inovasi Bisnis ala Prahalad

Sunday, 03 May 2009
“Ini adalah praktik demokrasi dari sebuah industri…Kita melihat bahwa munculnya ekonomi adalah dari,oleh,dan untuk masyarakat” (C.K Prahalad) Berbicara tentang co-creation, artinya berbicara tentang Coimbatore Krishnarao (CK) Prahalad,seorang konsultan manajemen dan penulis buku berkebangsaan India kelahiran 1941.

Dia merupakan profesor dari University of Michigan Ross School of Business.Sosok Prahalad sangat fenomenal. Majalah Times sempat menobatkannya sebagai ahli manajemen nomor satu paling berpengaruh pada 2007. BusinessWeek juga menjulukinya sebagai seorang nabi dalam bisnis. Sebagaimana ditulis Economist (19/11/08), reputasi pria yang akrab disapa “Guru”ini ketika bersama koleganya di University of Michigan Gary Hamel mengerjakan risetnya yang dipublikasi dalam Harvard Business Review 1990.

Artikel yang berjudul The Bottom of The Pyramid mengisahkan tentang masyarakat miskin di seluruh dunia bahkan bisa menjadi pasar potensial untuk bisnis dan tidak perlu diabaikan. “Tipikal potret kemiskinan,faktanya adalah bahwa sangat miskin mewakili wirausahawan-wirausahawan yang gigih dan konsumen yang sadar nilai,”ungkap Prahalad sebagaimana dikutip Economist.

Beberapa bukunya menjadi best seller seperti The Bottom of Pyramid. Kemudian, Competing for the Future(1994) bersama Gary Hamel, The Future of Competition bersama Venkat Ramaswamy (2004), dan buku barunya The New Age of Innovation yang bekerja sama dengan MS Krishnan. Selain sebagai konsultan, Prahalad juga sempat mendirikan perusahaan Praja Inc dan menjadi CEO di sana.Namun, akhirnya tutup dan dijual kepada TIBCO.Meski demikian, BusinessWeek menyebutnya sebagai seorang pemikir brilian dalam strategi bisnis zaman ini.

Selain itu,Prahalad juga anggota Ribbon Commission of the United Nations on Private Sector and Development.Dia tercatat sebagai penerima medali pertama untuk Lal Bahadur Shastri Award yang diberikan Presiden India pada 2000 atas kontribusinya pada manajemen dan administrasi publik. Sebagaimana diungkapkan BusinessWeek (23/1/06), pemikiran Prahalad telah mengubah pola berpikir para CEO di dunia. Beberapa perusahaan besar seperti Citibank, Philips, dan lainnya telah mengubah mindset-ya dalam berbisnis karena Prahalad.

Berdasarkan catatan The Washington Post (6/5/08), banyak perusahaan telah berubah menjadi inovatif dengan belajar berkolaborasi dengan konsumen sehingga bisa menghasilkan produk yang benar-benar unik.Beberapa istilah seperti core competencies, strategic intent,dan the fortune at the bottom of the pyramid adalah inti ide dari Prahalad dan koleganya Gary Hamel.

Sementara co-creation merupakan konsep baru dalam buku The Age of Innovation yang ditulisnya bersama MS Krishnan. Ide ini ternyata berbuah kesuksesan sebab banyak per-u-sahaan dalam waktu yang tidak lama bisa menemukan produk dan jasa baru mereka.Perusahaan menciptakan produk baru tersebut bersama konsumen,yang juga memberikan pengalaman unik bagi pelanggan itu sendiri. Catatan penting dari hal ini adalah tidak ada perusahaan yang memiliki sumber daya cukup atau bisa jadi memiliki sumber daya memadai.

Namun, pengalaman unik bagi setiap pelanggan sehingga perusahaan harus menampung ide secara terus menerus, baik masukan dari supplier maupun kolega untuk melakukan penelitian ini. Pelibatan konsumen dalam pengembangan produk seperti situs Facebook. Meskipun situs jejaring sosial ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah produk atau jasa, ia memiliki keunikan, di mana pengguna bisa menciptakan pengalaman mereka sendiri. Sejak dibuka secara publik,Facebooktelah melaporkan keuntungannya lebih dari USD10 miliar,yang tidak mungkin dilakukannya sendirian tanpa melibatkan konsumen.Semua konsumen atau pengguna telah melakukan metode co-creation.

Contoh lainnya adalah iPod Apple yang menyediakan perangkatnya, sementara konsumen yang menciptakan sendiri pengalaman mereka dengan mengunduh musik, TV,dan produk kreatif lainnya. Apple memberikan ruang bagi konsumen untuk menciptakan sendiri konten iPod yang dibelinya. Meski demikian, ternyata fitur-fitur inovatif yang tersedia di iPod Apple bukan muncul atas kreasinya sendiri, melainkan masukan-masukan dari konsumen melalui iTunes Store.

Prahalad dan Krishnan juga mendeskripsikan tentang perbedaan mencolok jika melihat contoh dalam kasus lain.Apabila seorang konsumen jasa asuransi premium yang mengidap diabetes. Konsumen tersebut mampu memenuhi diet makanan yang ditetapkan dan dalam pemantauan, klaim asuransinya tidak akan habis atau dimulai dari awal lagi.Seorang pengidap diabetes harus secara kontinyu berobat ke dokter sehingga plafon asuransi yang dia dapatkan semakin berkurang dan habis. Secara teoritis pengembalian klaim asuransi dimulai dari awal lagi.

Buktinya secara faktual, hal ini sudah mulai diberlakukan di perusahaan Prudential India. Inovasi pelayanan Asuransi ini hasil co-creation antara pelanggan, perusahaan, yang terkait dokter, perusahaan farmasi, dan stakeholder lainnya. Jika ini terdengar seperti pengelompokan ide massal, Prahalad menolak pendapat itu.Konsep ini, menurut dia, adalah tentang perusahaan memberikan penawaran kepada konsumen atas banyak pilihan dalam beragam produk dan jasa.

Namun, perusahaan masih memiliki keputusan untuk memilih dan menawarkannya kepada konsumen. Dalam co-creation, pilihan-pilihan itu tidak terbatas dan tidak mungkin akan dibayangkan perusahaan tanpa melibatkan pelanggan. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/235211/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment