Sunday, 03 May 2009
Pelibatan konsumen dalam mengembangkan sebuah produk tidak hanya bisa dilakukan melalui komunikasi tatap muka (offline).Perusahaan juga sangat mungkin memanfaatkan dunia maya. Inovasi adalah kunci dari bertahannya sebuah brand produk.
Di era pemasaran gaya baru (new wave marketing) manajemen co-creation(inovasi bersama produsen-konsumen) diyakini menjadi jurus jitu bagi perusahaan agar tetap bertahan.Tentu saja, di era persaingan global saat ini, pemanfaatan dunia maya (internet) menjadi keniscayaan. Teknologi dunia maya tersebut semakin menghilangkan batas-batas wilayah negara. Internet tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai media untuk mendapatkan informasi tentang tren terkini,tapi juga bisa menjadi media efektif komunikasi produsen dan konsumen.
Dengan begitu, produsen (perusahaan) bisa mengerti betul apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan konsumen. Sebagaimana diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh (11/4), pada 2010 internet tidak akan menjadi barang langka bagi masyarakat desa. Pemerintah menargetkan pemasangan sarana pengakses dunia maya di Indonesia selesai awal 2010. Saat ini pemerintah sedang melaksanakan proyek pemasangan sarana internet pada 31.000 desa.Pemerintah akan menambah jaringan hingga merambah 77.000 desa.
Proyek dalam program Universal Service Obligation (USO) tersebut akan dilakukan dengan menggunakan metode voiceoverinternetprotocol (VoIP),nirkabel,hingga serat optik. Hingga saat ini (berdasarkan data internetworldstats) diestimasikan total pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 10% dari total jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan data tersebut,jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2008 diperkirakan sekitar 25 juta orang atau 10,5% dari total populasi 237 juta jiwa penduduk Indonesia.
Jumlah pengguna internet di Indonesia memang masih kalah jauh jika dibanding China yang diperkirakan mencapai 298 juta orang atau 22,4% dari total populasi yang diperkirakan mencapai 1,3 miliar jiwa. China menempati urutan pertama sebagai jumlah pengguna internet terbesar di Asia. Sementara Jepang di urutan kedua dengan pengguna internet 94 juta atau 73,8% dari total populasi sebanyak 127 juta jiwa. Kemudian India dengan jumlah pengguna internet sebanyak 81 juta atau 7,1% dari total populasi yang diperkirakan 1,1 miliar jiwa.
Korea Selatan di urutan selanjutnya sebanyak 36 juta pengguna internet atau 76,1% dari total populasi 48 juta.Vietnam sebanyak 20,8 juta pengguna internet atau 24,2% dari total populasi 86 juta jiwa dan Malaysia sebanyak 15,8 juta atau 62% dari total populasi 25,2 juta jiwa. Filipina sebanyak 14 juta pengguna internet atau 14,6% dari total populasi 96 juta jiwa serta Singapura 3,1 juta atau 67% dari total populasi 4,6 juta jiwa. Bagaimanapun angka pengguna internet ini akan semakin meningkat seiring dengan diperbaikinya infrastruktur oleh pemerintah.
Menurut Chief Executive Mark- Plus Insight Hasanuddin, peningkatan jumlah pengguna internet bisa menjadi indikator positif bagi banyak perusahaan di Indonesia.Apalagi optimisme tentang kondisi,perekonomian akan segera membaik pada pertengahan tahun ini pascahantaman dampak krisis global. Optimisme itu bisa menjadi momentum bagi perusahaan untuk mengembangkan produk baru.
Setidaknya, perusahaan bisa memikirkan inovasi brand produk yang sudah ada untuk lebih dikembangkan. “Booming pengguna internet bisa digunakan untuk mengembangkan produk baru dengan metode co-creation,”ujarnya. Contoh pengembangan produk co-creationmelalui dunia maya bisa dilihat seperti yang dilakukan ebay.com, aol.com, clickbank.com, dan Google.com.
Masyarakat juga sudah tidak asing dengan wikipedia, del.ici.us, Le mindstorm, dan banyak lagi contoh lain perusahaan yang telah menggunakan metode pelibatan konsumen dalam mengembangkan produk. Hasanuddin mengungkapkan metode co-creationadalahsebuahhubungan yang dinamis dengan cara melibatkan konsumen secara langsung dalam produksi atau memberi nilai tambah pada sebuah produk. Kasus Google.com bisa dijadikan contoh sukses perusahaan yang menggunakan metode co-creation.
Google yang sebelumnya hanya situs mesin pencari, kini telah berkembang menjadi banyak jenis produk yang tentu saja semakin memberikan keuntungan. Sebutlah beberapa pengembangan produk Google, seperti Google Adsense yang merupakan media untuk beriklan bagi perusahaan-perusahaan.
Model iklan Google Adsense tidak hanya memberikan keuntungan bagi Google semata, tapi juga melibatkan konsumen atau masyarakat pengguna.Paket Google Adsense menawarkan kerja sama kepada masyarakat untuk ikut mengiklankan suatu produk di situsnya masing-masing sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari iklan yang diklik pengunjung.
Beberapa inovasi lain yang dilakukan Google di antaranya Google Adwords,Froogle yang hampir mirip dengan ebay.com, tetapi gratis, dan Google Search yang semakin dikembangkan fitur-fiturnya dalam beragam bahasa. Bagaimanapun ragam inovasi ini tidak hanya muncul dari hasil riset perusahaan Google semata,melainkan juga melibatkan masyarakat pengguna internet. Kini Google mampu melebarkan sayapnya dengan menemukan banyak model baru yang tidak pernah diperkirakan orang sebelumnya.
Proses yang dikembangkan Google untuk mengembangkan pemasarannya dengan melibatkan banyak pengguna setia sehingga memunculkan ide-ide baru. Bisa jadi pengembangan model co-creation di Indonesia melalui internet belum semarak seperti di Amerika Serikat (AS) atau beberapa negara lainnya.Harus diakui, penetrasi jumlah pengguna internet di Indonesia masih minim dibanding beberapa negara lainnya di Asia Tenggara.
Selain itu,belanja online di Indonesia pun masih belum cukup digemari seperti yang pernah diungkapkan lewat hasil riset Nielsen Company. Pada 2008, hanya 51% pengguna internet Indonesia yang menyatakan belanja online dari 511 responden yang disurvei.Total responden yang disurvei di wilayah Asia Pasifik sebanyak 7.500 pengguna internet dan secara global 26.312 responden. Rinciannya,Korea Selatan menempati urutan pertama di wilayah regional Asia Pasifik maupun global dengan 99% responden menyatakan internet sebagai media belanja.Lalu,disusul Jepang (97%),Taiwan (93%), China (83%), India (78%),Hong Kong (77%),Malaysia (70%),Thailand (61%), dan Vietnam (58%).
Secara global,pengguna internet yang belanja online terbesar setelah Korea, Inggris, Jerman (97%),dan AS (94%). Meski demikian,potensi pemasaran secara online masih akan potensial untuk masa mendatang. Senior Manager Retailer Service Nielsen Indonesia Hendra Gunawan mengungkapkan, minimnya jumlah pengguna internet di dalam negeri lebih disebabkan infrastruktur yang belum memadai.Artinya, infrastruktur tersebut belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu,biaya jasa internet juga masih tergolong mahal. Wajar jika jumlah penduduk Indonesia yang belanja online belum terlalu besar.Padahal Nielsen mengestimasi sekitar 875 juta orang dari penduduk dunia melakukan belanja secara online pada 2008. Itu berarti lebih dari 85% populasi pengguna internet dunia sudah berbelanja lewat dunia maya. Angka ini meningkat 40% dibanding dua tahun sebelumnya.
“Jika nantinya infrastruktur semakin baik dan jasa internet semakin terjangkau oleh sebagian besar masyarakat,mungkin angka pengguna internet yang belanja online akan semakin meningkat,” ujarnya kepada Seputar Indonesia. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/235216/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment