Sunday, 01 March 2009
Mengubah pola hidup pembalak liar menjadi pelestari hutan bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi, itulah yang dilakukan Onte dengan memberdayakan kearifan lokal.
Sebuah survei yang dilakukan John McFarlane pada 1957, menempatkan 500 perusahaan pertama yang masuk dalam daftar Standard and Poors. Ratarata perusahaan tersebut dikategorikan sebagai perusahaan nomor wahid.Tetapi,dari 500 perusahaan tersebut,hanya tersisa 74 pada 2007.
Sisanya, 426 perusahaan atau sekitar 84%,dinyatakan bangkrut di antaranya Enron, Worldcom, dan Arthur Andersen. Berdasarkan survei yang dilakukan berikutnya, ternyata penyebab dari kebangkrutan sebagian besar perusahaan tersebut karena mereka tidak menerapkan prinsip universal seperti kedisiplinan,kejujuran, peduli konsumen,dan menghargai lingkungan.
Khusus untuk prinsip yang terakhir disebut (menghargai lingkungan), kini menjadi sorotan.Karena itu, saat ini banyak perusahaan yang menerapkan pola orientasi berbasis lingkungan (environment base oriented). Berbagai upaya dilakukan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan mengembangkan produk berbasis lingkungan.
Hal ini terjadi sejalan dengan perubahan pandangan masyarakat tentang cara pemenuhan kebutuhan yang lebih baik. Pola berbasis lingkungan inilah yang juga dilakukan Silverius Oscar Unggul melalui Yayasan Telapak. Silverius merupakan salah satu peraih Ashoka Fellow 2006 karena usahanya menerapkan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship).
Ashoka merupakan lembaga asosiasi global para wirausahawan sosial yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) yang setiap tahunnya memberikan penghargaan kepada para wirausahawan sosial di lebih dari 60 negara.
Melalui Yayasan Telapak, bersama sejumlah rekannya,Onte–begitu Silverius biasa disapa–melakukan pemberdayaan masyarakat di Konawe, Sulawesi Tenggara untuk menjaga hutan tetap lestari.Untuk peran yang satu ini, Onte yang menjabat Wakil Ketua Perkumpulan Telapak bersama rekannya,Ambrosius Ruwindrijarto sebagai ketua meraih penghargaan Social Entrepreneur of The Year dari Ernest & Young tahun lalu.
Peran Onte dan kawan-kawannya telah menemukan formula tepat bagaimana masyarakat setempat mampu mengelola hutan demi kesejahteraan mereka dengan mempertimbangkan faktor kelestarian lingkungan. Tidak hanya itu, atas kiprahnya, Onte juga pada tahun yang sama menyabet penghargaan Conde Nast Traveler Award.
Ini semua berkat kiprahnya dalam mempertemukan antara sisi bisnis dan pelestarian lingkungan dan model pengelolaan hutan yang dia kembangkan.Apalagi saat ini Indonesia menjadi negara yang diharapkan dunia internasional mampu menjadi salah satu paruparu dunia.
Dengan konsepnya,Onte tidak hanya memecahkan masalah pembalakan liar (illegal logging) yang selama ini dituding sebagai penyebab rusaknya hutan-hutan di Indonesia,tetapi Onte juga berhasil membuktikan bahwa pengelolaan hutan haruslah melibatkan masyarakat sekitar area hutan agar lebih sejahtera.
”Keberhasilan kami dalam membantu masyarakat setempat bisa mengelola hutan adalah dengan diterbitkan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC) untuk produk-produk kayu masyarakat setempat,”kisahnya. Dia bersama rekannya juga melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat Bali lewat pelestarian ekologi lautan.
Di Pulau Dewata ini, dia bersama Yayasan Telapak berupaya menghentikan penangkapan ikan yang tidak mempertimbangkan faktor lingkungan yang banyak terjadi di Desa Les.Menurut dia,bisnis harus bisa dijalankan dengan wawasan lingkungan dan mempertimbangkan faktor keberlanjutan. Lewat pembinaan terhadap masyarakat setempat, akhirnya penangkapan ikan dilakukan secara alami dan tidak merusak lingkungan.
Kini ekspor ikan hias sudah berhasil dilakukan yang akhirnya meningkatkan ekonomi rakyat setempat. ”Tidak mungkin kita melibatkan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan tanpa membantu mereka memperoleh penghasilan. Untuk itulah kita bantu mereka untuk mendapatkan penghasilan dari sumber daya alam sehingga mereka mandiri secara ekonomi, sembari menjaga kelestarian lingkungan. Sebab lingkungan itulah yang menjadi sumber mata pencaharian mereka,” ujar Onte kepada SINDO.
Berbagai keberhasilan yang diraih Onte bersama rekan-rekannya di Yayasan Telapak bukan tanpa perjuangan. Tidak sedikit teror datang dari pihak-pihak yang berusaha menghalangi langkahnya dalam melakukan pendampingan masyarakat lokal. Tetapi, hal itu justru menjadi tantangan bagi Onte. Dia pun berhasil menemukan formula ampuh yang mampu ”mengawinkan” kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan pelestarian alam yang berkelanjutan.
Berawal dari Keprihatinan
Apa yang dia lakukan, berawal dari keprihatinan melihat kondisi hutan yang rusak parah karena dieksploitasi secara serampangan. Masyarakat sekitar hutan seringkali dijadikan pekerja oleh cukongcukong kayu yang diduga melakukan pembalakan liar (illegal logging).
Semakin dieksploitasi,hutan semakin rusak. Ironisnya, eksploitasi yang sering melibatkan rakyat sekitar hutan itu tidak memberi nilai tambah bagi kesejahteraan mereka. Karena itu,Onte merasa perlu melakukan investasi sosial bagi masyarakat Konawe Selatan.
Mulailah dia merintisnya sejak 1999 yang dilanjutkan pada 2000–2003. Atas dasar pengalaman-pengalaman yang ada, akhirnya dia mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat. Mulailah Onte,putra sulung dari empat bersaudara pasangan Frans Yos Iri (pensiunan pegawai negeri sipil di Kantor Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara) dan Yuliana Kambuno (pensiunan guru Sekolah Dasar Pembina Mandonga,Kendari, Sulawesi Tenggara) ini dan rekanrekannya turun melakukan pendampingan ke lapangan pada 2003 karena tergerak melakukan pelestarian lingkungan.
Kemudian,pembinaan kepada masyarakat yang selama ini kerap terlibat illegal logging dilakukan. Meskipun tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat, akhirnya para aktivis yang tergabung dalam LSM Jaringan untuk Hutan (Jauh) itu membentuk koperasi Hutan Jaya Lestari (HJL) sebagaiembriopemberdayaanekonomi kerakyatan.
Terbukti tidak kurang dari 500 orang kini bergabung dalam koperasi yang tersebar di 21 kecamatan,mulai Lainea, Kalono, Palangga,dan Andoolo. Masyarakat yang tergabung dalam koperasi kemudian dibina untuk melakukan penebangan dengan prinsip tebang pilih lalu menambalnya dengan tanaman baru. Idealnya tanaman jati yang ditebang minimal berumur 15–20 tahun.
Keharusan untuk menanam kembali inilah cara untuk mendidik masyarakat menjaga kelestarian hutan. Awalnya,tidak mudah meyakinkan masyarakat yang sudah terbiasa bekerja sebagai ”pembalak liar”.Tetapi, lewat pola pendampingan yang dia lakukan, masyarakat lambat laun mulai menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari, dari proses penanaman hingga pengolahan kayu, agar memenuhi persyaratan ekolabel yang sesuai sertifikasi kayu.
Perintisan yang dilakukan Onte dan kawan-kawannya tidak sia-sia. Koperasi HJL yang didirikannya itu berhasil melipatgandakan hasil produksi kayu dengan kualitas nomor satu, tanpa merusak hutan. Hingga akhirnya kayu hasil produksi masyarakat Konawe meraih sertifikat FSC karena dianggap sebagai produk ramah lingkungan. Sebelumnya, dengan pola lama (kayu tanpa sertifikat) harga kayu Rp600.000 per kubik. Kini, harganya mencapai Rp6,4 juta per kubik.
Menurut Onte, yang kini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Magister Management Corporate Social Responsibility (MM CSR) Universitas Trisakti itu,sejak program itu diperkenalkan pada masyarakat, sudah ada sekitar 2 juta pohon jati yang ditanam di atas lahan seluas 2000 hektare. Saat ini masyarakat di Konawe bahkan bersiap menanam 5 juta pohon lagi.
”Tanpa program muluk-muluk semisal penanaman sejuta pohon.Namun, dengan kesadaran warga, hal itu dapat mereka lakukan.Per 2005 saja,masyarakat anggota koperasi kami telah menanam 2 juta pohon jati yang ditanam di atas lahan seluas 2.000 hektare,”papar Onte.
Lewat kerja keras,Onte bisa mengubah pola pengambilan kayu masyarakat yang sebelumnya dilakukan secara liar,kini menjadi sebuah pekerjaan membanggakan yang bisa mengangkat kesejahteraan rakyat sekitar dengan tetap menjaga kearifan lokal. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/217355/
Perpaduan Bisnis dan Ekologi
Kewirausahaan sosial harus dijalankan dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Hasilnya masyarakat sejahtera dan alam tetap lestari.
Melalui Yayasan Telapak, Silverius Oscar Unggul bersama rekan-rekannya melakukan pemberdayaan masyarakat di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara guna menjaga hutan tetap lestari. Selain itu, juga dilakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di Bali untuk membantu kelestarian ekologi lautan. Bisnis harus bisa dijalankan dengan wawasan lingkungan dan mempertimbangkan faktor keberlanjutan. Tidak mungkin bisa melibatkan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan tanpa membantu mereka memperoleh penghasilan.
“Untuk itulah kita bantu mereka untuk mendapatkan penghasilan dari sumber daya alam sehingga mereka mandiri secara ekonomi, sembari menjaga kelestarian lingkungan. Sebab lingkungan itulah yang menjadi sumber mata pencaharian mereka,” ujar orang yang akrab disapa Onte ini kepada Sindo.
Sementara untuk pelestarian hutan di Indonesia, Onte bersama rekan-rekannya berhasil membantu masyarakat di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Untuk perannya yang satu ini, Silverius yang menjabat sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Telapak bersama rekannya Ambrosius Ruwindrijarto sebagai Ketua beroleh penghargaan sebagai social enterpreneur of the year dari Ernest & Young tahun 2008 kemarin. Peran Onte dan kawan-kawannya telah menemukan formula tepat bagaimana masyarakat setempat mampu mengelola hutan demi kesejahteraan mereka dengan mempertimbangkan faktor kelestarian lingkungan.
Sementara Silverius sendiri telah meraih fellowship dari Ashoka, sebuah lembaga
asosiasi global para wirausahawan sosial pada tahun 2006. Tidak cukup itu, atas kiprahnya, Silverius juga kembali menyabet penghargaan Conde Nast Traveler Award untuk tahun 2008 juga. Ini semua berkat kiprahnya dalam mempertemukan antara sisi bisnis dan pelestarian lingkungan dan model pengelolaan hutan yang dia kembangkan. Apalagi saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang diharapkan dunia internasional menjadi salah satu paru-paru dunia. Dengan konsepnya, Onte tidak hanya memecahkan masalah pembalakan liar (illegal logging-red) yang selama ini dituding sebagai biang rusaknya hutan-hutan di Indonesia. Namun juga Onte telah berhasil membuktikan bahwa pengelolaan hutan haruslah melibatkan masyarakat sekitar area hutan agar lebih sejahtera.
“Keberhasilan kami dalam membantu masyarakat setempat bisa mengelola hutan adalah dengan diterbitkan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC) untuk produk-produk kayu masyarakat setempat,” kisahnya.
Berbagai keberhasilan yang diraih Onte bersama rekan-rekannya di Yayasan Telapak bukan tanpa perjuangan. Sebab tidak sedikit hambatan bahkan pihak-pihak yang berusaha menghalangi langkah Onte bersama rekan-rekannya dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat lokal. Onte berkisah, tidak sedikit teror yang ditujukan kepadanya dan rekan-rekannya. Wajar kiprahnya telah membuat lahan nafkah beberapa oknum pengusaha ‘hitam’ dalam bidang produksi kayu hutan mampet. Meski demikian, akhirnya Onte berhasil meyakinkan masyarakat sekitar hutan bahwa konsep yang dia tawarkan mampu menjawab solusi penghidupan bagi keluarga mereka.
Ini semua berawal dari keprihatinan Onte yang melihat kondisi hutan yang rusak parah karena dieksploitasi. Di sisi lain, masyarakat sekitar hutan pun tetap miskin. Meskipun semakin dieksploitasi hutan makin rusak, dan tidak ada nilai tambah bagi masyarakat. Menurut Onte, investasi soial bagi masyarakat Konawe Selatan yang dia lakukan sudah dirintis sejak tahun 1999 untuk kemudian tahun 2000-2003, atas dasar pengalaman-pengalaman yang ada akhirnya dia mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat.
Mulailah Onte dan rekan-rekannya turun melakukan pendampingan ke lapangan pada 2003 karena tergerak untuk melakukan pelestarian lingkungan di wilayah Konawe Selatan. Kemudian dilakukan pembinaan kepada masyarakat yang selama ini kerap terlibat illegal logging. Meskipun tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Akhirnya para aktivis yang tergabung dalam LSM Jaringan untuk Hutan (Jauh) itu membentuk koperasi Hutan Jaya Lestari (HJL) sebagai embrio pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Terbukti tidak kurang dari 5000 orang bergabung dengan koperasi dari 21 kecamatan, mulai Lainea, Kalono, Palangga, Andoolo, dan lainnya.
Masyarakat yang tergabung dalam koperasi kemudian dibina untuk melakukan penebangan dengan prinsip tebang pilih lalu menambalnya dengan tanaman baru. Idealnya tanaman jati yang ditebang minimal berumur 15-20 tahun. Keharusan untuk menanam kembali inilah merupakan cara mendidik masyarakat untuk menjaga kelestarian bumi demi anak cucu nanti. Perintisan yang dilakukan Onte dan kawan-kawannya tidak sia-sia. Sebab Koperasi HJL yang didirikannya itu telah berhasil melipatgandakan hasil produksi kayu dengan kualitas nomor satu, tanpa merusak hutan. Hingga akhirnya kayu hasil produksi masyarakat Konawe meraih sertifikat FSC karena dianggap sebagai produk ramah lingkungan.
“Per 2005 saja, masyarakat anggota koperasi kami telah menanam 2 juta pohon jati yang ditanam di atas lahan seluas 2000 Ha dan saat ini kami sedang bersiap untuk menanam 5 juta pohon lagi,” paparnya.
Sebagai sumber penghasilan Masyarakat Konawe tidak hanya mengandalkan kayu jati yang masa tanam kembalinya membutuhkan waktu cukup lama. Untuk itu, masyarakat juga mengandalkan penghasilan dari produksi rotan, madu, dan lainnya.
Harga jual kayu produksi Masyarakat Konawe Selatan berlipat dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp600.000 per kubik meningkat 10 kali lipat menjadi sekitar Rp6 juta per kubik. Sistem pendanaannya pun dilakukan bersama. Nilai investasi dibagi rata antara masyarakat dan Yayasan Telapak. Onte juga mengundang investasi dari para investor namun dengan syarat memiliki visi dan misi yang sama seperti yang dia kembangkan.
Atas prestasinya ini, masyarakat Konawe Selatan merupakan yang pertama dipercaya pemerintah untuk mengelola hutan seluas 9.835 Ha yang diresmikan per 10 Desember 2008 lalu. Padahal selama ini pengelolaan hutan hanya diserahkan kepada investor kakap, sementara masyarakat selalu dituding sebagai pelaku pembalakan liar. Namun hasil jerih payah Onte dan kawan-kawannya mematahkan stigma tersebut. Tercatat hingga saat ini, konsep yang ditawarkan Onte telah berhasil memberdayakan perekonomian sedikitnya 4.000 kepala keluarga (KK) masyarakat di Konawe Selatan.
Namun Onte menyayangkan minimnya peran serta pemerintah dalam membantu memberdayakan masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan. Buktinya, tidak satupun anggota koperasi HJL yang mendapatkan bantuan pembiayaan dari program-program pemerintah. Baik itu untuk program kredit usaha rakyat (KUR) maupun rogram Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) yang selama ini digembar-gemborkan membantu masyarakat ekonomi mikro, kecil, dan menengah. Tak pelak, untuk urusan pendanaan Onte dan masyarakat bahu-bahu secara swadaya. Padahal, jika mendapatkan bantuan pendanaan yang memadahi dari pemerintah, langkah Onte dan masyarakat Konawe Selatan bisa lebih leluasa untuk mengembangkan bisnis yang sudah ekolabel itu. Selain itu, mencari pendanaan dari perbankan untuk bisnis produksi kayu hutan bisa diibaratkan bagai pungguk merindukan bulan. Sulit.
“Anda bayangkan saja tidak satupun perbankan nasional yang mau melirik dan membantu kami. Namun justru ada bank asing yaitu Deutsche Bank yang datang tanpa kami undang dan melihat potensi pembiayaan yang bisa mereka berikan kepada kami,” kisahnya.
Rencananya keberhasilan konsep perpaduan bisnis dan ekologi yang dikembangkan Onte di Konawe Selatan akan direplikasi ke daerah-daerah lain di Indonesia. Di antaranya, Purwokerto, Kulon Progo, Sorong Selatan, dan Nangroe Aceh Darussalam. Keberhasilan Onte dan rekan-rekannya di Yayasan Telapak tidak berhenti di situ. Sebab dia juga berhasil memberdayakan perekonomian masyarakat di Desa Les, Bali dan menghentikan tradisi menangkap ikan di laut tidak mempertimbangkan faktor lingkungan. Keberhasilan di Bali ini juga akan diduplikasi penerapannya di daerah Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan lainnya.
Kemudian Yayasan Telapak juga berhasil memberdayakan perekonomian masyarakat di Ciwaluh, Gunung Halimun, Jawa Barat. Untuk yang satu ini, Onte melakukan pembinaan agar masyarakat memproduksi tanaman kumis kucing yang biasa digunakan untuk obat dengan standar internasional. Sebagaimana keberhasilan di Konawe Selatan, akhirnya tanaman kumis kucing produksi masyarakat Ciwaluh beroleh sertifikat organik yang bebas residu, pestisida dan pupuk kimia dari Laboratorium Control Union di Rotterdam. Untuk di Bali dan Jawa Barat ini, tercatat perekonomian sekitar 15.000 KK masyarakat setempat berhasil diberdayakan.
“Untuk produksi tanaman kumis kucing, masyarakat telah berhasil mulai ekspor ke Prancis sebanyak 7 ton, dan akan berlanjut karena sertifikasi sudah kami dapatkan,” tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment