Selasa, 25 November 2008

Debat Kusir Krisis Jilid II

Sunday, 23 November 2008
Pengalaman buruk krisis ekonomi 1998 menghantui Indonesia.Sebagian kalangan menilai krisis finansial global saat ini akan berdampak lebih buruk ketimbang krisis 10 tahun silam itu.


Menghadapi kegelisahan sejumlah kalangan akan terjadinya krisis jilid II bagi Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa krisis ekonomi 1998 yang telah memorak-porandakan perekonomian Indonesia tidak akan terulang. Menurut Presiden, krisis perekonomian global yang dipicu masalah perkreditan di Amerika Se-rikat (AS) tidak akan berdampak buruk sebagaimana yang terjadi 10 tahun silam.

Sebab, ada perbedaan fundamental antara apa yang terjadi saat ini dengan pada 1998. “Saya harus katakan secara tegas bahwa tidak akan terjadi krisis sebagaimana yang kita alami sepuluh tahun lalu,” kata Presiden pada awal Oktober lalu. Perbedaan itu, menurut Presiden, di antaranya pada 1998 lalu terjadi salah kelola pemerintahan sehingga muncul ketidakpercayaan yang menimbulkan kepanikan.

Pada 1997, ketika awal krisis ekonomi, kebijakan pemerintah tidak konsisten sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah pun muncul.Namun,saat ini,kondisi dalam keadaan tenang. Selain itu kepercayaan publik dapat terjaga.Dengan demikian,Presiden yakin bahwa angka pertumbuhan ekonomi pada 2008 ini akan menembus 6%.

Meski demikian,Presiden tetap mengimbau agar semua pihak tetap waspada dengan kondisi krisis saat ini. Meskipun dapat dipastikan bahwa tahun depan ekspansi dunia usaha akan berkurang, dia tetap berharap dunia usaha sektor riil tetap bergerak. Di antaranya agar pasar domestik tidak diabaikan dan tingkat konsumsi diperluas agar bisa menggerakkan perekonomian di dalam negeri.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk mulai menggunakan produk dalam negeri guna mengurangi tekanan neraca pembayaran pemerintah. Pemerintah berjanji akan mendorong hal ini dengan kebijakan insentif dan disinsentif. Bagaimanapun krisis global saat ini pasti memberikan dam-pak bagi Indonesia,tapi itu tidak perlu ditanggapi dengan panik. Padahal, pemerintah sebelumnya telah mematok target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 di atas 7%, sama seperti sebelum krisis melan-da pada 1998 silam.

Namun,ini bukan harga mati,sebab tidak bisa dipungkiri resesi ekonomi AS berimbas pada perekonomian dunia. Jika China dan India sebagai motor penggerak ekonomi Asia saja diprediksi Bank Dunia pertumbuhan ekonominya akan turun 9,6% dan 11,4%, Indonesia pun akan mengalami hal serupa. Meski optimistis dilontarkan pemerintah, masih banyak spekulasi tentang kondisi perekonomian akibat krisis global saat ini.

Sejumlah pengamat menilai,akibat krisis global kali ini bisa jadi akan lebih buruk ketimbang krisis 1998. Sebab, resesi ekonomi AS yang semakin buruk dan menyebabkan ratusan ribu pekerja di negeri Paman Sam itu harus mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) telah mengguncangkan ekonomi dunia. Berbeda dengan krisis 1998 yang terburuk hanya dialami oleh beberapa negara di Asia. Sementara di negara maju,hal itu tidak berpengaruh.

Bahkan,beberapa komoditas ekspor Indonesia tercatat meraup keuntungan besar akibat krisis 1998 karena tingginya nilai tukar rupiah saat itu. Berbeda dengan krisis saat ini yang dampaknya mulai merembet ke beberapa negara maju di Eropa. Padahal, pasar ekspor Indonesia yang terbesar ke AS dan beberapa negara di Eropa. Karena itu krisis saat ini tidak hanya melemahkan kinerja pasar saham,tapi juga nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp12.400 per USD 1 (30/11).

Padahal jelas beberapa komoditas ekspor yang dipasarkan AS dipastikan akan mengalami penurunan bahkan terancam mandek. Sebab, daya beli masyarakat AS kini menurun seiring gelombang ancaman PHK yang merebak di mana-mana. Meski demikian, pada pertemuan Perkumpulan Negara-Negara Asia Pasifik (APEC), Presiden AS George Bush masih menjanjikan ide perdagangan bebas sebagai solusi dengan mengimbau Negara Negara didunia untuk tidak melakukan proteksi ekonomi.Padahal, sistem perekonomian global yang dimotori AS terbukti sudah ambruk.

Untuk itulah banyak negara-negara di dunia sepakat mencari formulasi gerakanekonomibaruyanglebihtahan terhadap dampak krisis. Apa pun argumentasi AS, krisis ekonomi sudah terlanjur memberikan dampak bagi dunia. Di dalam negeri, ancaman gelombang PHK dari industri sektor manufaktur dan pertanian pun mulai bermunculan.

Mau tidak mau Indonesia harus ikut terkena getah krisis yang awalnya berasal dari kredit macet perumahan di AS ini. Meski demikian, bukan berarti tidak tersisa optimisme untuk melewati masa krisis saat ini. Jika pada 1997negara-negaradi Asia Tenggara bagai mendapat keajaiban berhasil melewati krisis,kendati yang terparah dan terlama dialami Indonesia.

Bukan tidak mungkin karena sudah tertempa pengalaman meskipun kondisinya berbeda,Indonesia akan mampu melewatinya. Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pun cemas krisis ini tidak akan mampu dilewati Indonesia. Hal ini wajar, mengingat kalangan industri mulai menjerit akibat tidak bisa memasarkan produknya yang sedianya harus dipasarkan terbesar ke AS.Untuk itu,agar pengalaman krisis tidak terulang,menurut dia, harus meningkatkan daya beli masyarakat agar mampu menyerap produk dalam negeri.

“Dengan memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri adalah kunci keluar dari krisis,”tandasnya. Jika ini tidak dilakukan, gonjang- ganjing ekonomi di dalam negeri tidak terelakkan.Sebab,menurut dia,hingga saat ini fundamental ekonomi dalam negeri masih rapuh. Cita-cita perdagangan komoditas untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun masih sekedar slogan ketimbang kenyataan.

Sementara di sisi lain, dunia usaha semakin menjerit akibat mekanisme investasi di negeri ini tak kunjung membaik. Meskipun pemerintah pusat sudah demikian berusaha memperbaiki segala kebijakan insentif dan disinsentif tapi hal serupa tidak dilakukan pemerintah daerah.Akibatnya, semakin pesimistis bahwa Indonesia akan mampu melewati krisis ini dengan aman.

“Ini bagaimana kita menyelamatkan perekonomian dengan cara bekerja sama antara semua lini dan antarinstansi. Bukan hanya untuk menekanterjadinya angkapengangguran tapi bagaimana langkah penyelamatan yang kita lakukan agar berjalan dengan efektif,”ujarnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/189429/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment