Saturday, 27 September 2008
Orang rela melakukan apa saja agar bisa berhari raya di kampung halaman bersama keluarga. Batas-batas rasional tidak menjadi penghalang bagi para pemudik melaksanakan niatnya.
Mudik sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia. Maklum, selain demi tujuan silaturahmi dengan sanak saudara, kembali ke kampung halaman merupakan keinginan dasar setiap manusia terhadap asal usulnya. Endra,37,warga Ciputat misalnya.
Dia rela berjubel-jubel di Stasiun Pasar Senen,Jakarta Pusat,demi mengantarkan anak-anaknya untuk bertemu neneknya di kampung halaman. Meskipun bapak dua anak ini tidak pulang ke rumah orangtuanya, dia tetap berkewajiban mengunjungi mertuanya sebagai bentuk upaya untuk menjaga silaturahmi.
”Mengantar anak-anak ketemu neneknya di Semarang sekaligus ngobatin rasa kangen sama keluarga,”papar pria yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir taksi ini kepada SINDO. Hal senada diungkapkan Rico, 22, warga Depok yang mengaku mudik demi mengobati rasa rindunya untuk bertemu keluarga.
Selain itu, lajang yang berprofesi sebagai tukang kayu ini juga mengaku sudah tidak sabar untuk berkumpul dengan teman-temannya di kampung. Itu sebabnya,mudik tidak bisa dilihat sebagai suatu budaya semata.Namun, tradisi migrasi sementara ini seakan sudah menjadi bagian dari proses ritual Ramadan.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Muhammad Hisyam, sudah menjadi satu kelaziman jika masyarakat rela melakukan apa saja hanya demi bisa mudik. ”Biasanya saudara atau orangtua tinggal di kampung.
Apalagi jika orangtua masih hidup,mudik akan sangat diutamakan.Ini karena sifat dasar manusia ingin kembali ke asalnya,”katanya kepada SINDO. Tradisi mudik menjadi fenomena menarik sekaligus unik.Sebab, tradisi ini mampu menembus batas-batas rasionalitas.
Kegembiraan merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, keriangan bertemu sanak keluarga, serta kekhidmatan mencium kembali kampung halaman menghilangkan kesusahan dan hiruk-pikuknya suasana yang terjadi di perantauan. Kampung halaman akan senantiasa berkesan bagi kaum urban yang merantau.
Dipandang dari sisi budaya,mudik merupakan tradisi leluhur sehingga sulit termakan zaman. Bahkan, kecanggihan teknologi yang ada saat ini tak pernah mampu menggusur tradisi mudik. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia memiliki keterikatan batin yang kuat dengan asal usulnya.
Alasan sosial dan budaya ini cukup kuat sehingga mudik akan tetap menjadi tradisi setiap tahunnya. ”Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun, jadi sulit untuk dihilangkan,”ujarnya. Meskipun tidak bisa disamakan, menurut Hisyam, mudik layaknya orang sedang menjalankan ritual haji.
Para pemudik sudah melakukan persiapan jauh-jauh hari,mulai stamina fisik,materi,serta keinginan untuk berbagi dengan orang-orang di kampung. Jika dipandang dari kacamata ekonomi mikro, mudik hanya akan dianggap sebagai pemborosan.
Namun jika dipandang dari kacamata ekonomi makro, mudik bisa dinilai sebagai penyebaran perputaran uang dari kota ke desa. Dari sisi sosial budaya jelas tidak hanya terjadi migrasi sementara orang dari kota ke desa, tetapi juga terjadi migrasi budaya kota ke desa.
Para pemudik secara tidak langsung akan memberikan asupan warna budaya baru bagi masyarakat di kampung halamannya.Dalam sejarahnya, menurut Hisyam,tradisi mudik tidak seramai sekarang ketika masih era 1970-an. Sebab saat itu kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan sulit.
Di samping itu, tingkat urbanisasi juga relatif masih kecil.Namun ketika perekonomian mulai membaik, masyarakat mulai berbondongbondong melakukan tradisi mudik. ”Mudik bukanlah perilaku agama, melainkan murni perilaku sosial sehingga tidak bisa diukur dari sisi agama. Ini murni gejala sosial budaya,” tandasnya.
Menurut sebagian kalangan,tradisi mudik terjadi akibat ketidakrataan pembangunan.Pesatnya pembangunan di wilayah perkotaan menjadi magnet bagi masyarakat desa.
Mereka enggan menggeluti profesi kultural di desa sebagai petani.Wajah kota selalu menjanjikan penghidupan yang lebih baik. Hal inilah yang membuat angka urbanisasi meningkat.Padahal jika terjadi pemerataan pembangunan hingga ke pelosok-pelosok desa,urbanisasi tidak perlu terjadi.
Kondisi ini juga dialami Eropa pada abad ke-19. Di Swedia, misalnya, setiap habis ritual pulang ke kampung halaman,masyarakat kembali ke kota dengan membawa serta beberapa sanak saudaranya. ”Ini tidak bisa disalahkan karena pembangunan memang belum merata.
Jadi kondisi di Indonesia saat ini tidak berbeda dengan Eropa seabad silam.Jika pembangunan sudah merata, urbanisasi tidak perlu dikhawatirkan,”ujarnya. Diah, 35, misalnya. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Serpong,Tangerang itu mengaku ketiga anaknya tinggal di Madiun,Jawa Timur, bersama ibu dan saudaranya.
Ia rela berpisah dari buah hatinya demi bekerja mengais rezeki di Ibu Kota. Diah adalah salah satu dari ribuan orang yang demikian bersabar menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya pulang dari Stasiun Kereta Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (26/9).
”Ingin kangen-kangenan sama anak-anak dan keluarga juga,” katanya kepada SINDO. Bagi masyarakat urban yang sudah lama merantau di Jakarta dan sekitarnya, mengobatirasakangendengankeluarganya inilah yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Padahal,mereka harus berjuang agar bisa pulang; terkadang tidak kebagian tiket dan harus sabar menunggu antrean pembelian tiket hari berikutnya.Artinya para pemudik itu harus tidur di stasiun untuk menunggu loket tiket dibuka kembali.
Hal inilah yang dialami Samiji,35, yang harus bersabar karena tidak kebagian tiket kereta pada Jumat (26/9). Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh konstruksi di Cilegon ini telah dikaruniai dua anak dari hasil perkawinannya dengan perempuan warga Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Samiji terpaksa menginap di Stasiun Kereta Pasar Senen,sementara istri dan kedua anaknya menginap di rumah mertuanya di Kampung Melayu. Suka duka seputar mudik inilah yang sering dialami masyarakat urban demi keinginan berkumpul dengan keluarganya di kampung halaman. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/menembus-batas-rasionalitas-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment