Saturday, 27 September 2008
Mudik bukan pornografi. Undang- Undang Pornografi jika jadi disahkan pasti kontroversial.Ada yang bakal bilang itu konstitusional.
Ada pula yang akan kasih komentar sebaliknya. Tapi mudik jelas lain; dan mudik itu seperti wajah manusia. Mau babak belur kayak apa pun tampaknya, mudik akan tetap konstitusional. Mau mudik pakai sepeda motor boleh. Naik sepeda motornya sendirian atau konvoi juga boleh.
Mau sekalian membawa boncengan bayi di pangkuan ibunya juga boleh.Pakai jalur selatan maupun pantura pun boleh.Menteri apa pun baik dari partai ukuran ”S”sampai partai ukuran ”XXXL” kalau sampai bikin susah masyarakat mudik pasti dimarahi presidennya.
Kenapa? Karena kehidupan manusia bisa diibaratkan kehidupan tata surya di angkasa. Semua mengitari kepulangan alias poros yang sama, yakni matahari.Tapi, bersamaan itu, semua juga berlaku bagaikan satelit yang mengitari planet masing-masing,mengitari poros kepulangannya sendiri-sendiri.
Bagi umat Islam,kurang apa kebesaran ”rumah Tuhan” Kakbah sebagai poros putaran alias simbol kemudikan manusia. Orang yang pernah tawaf, tujuh kali mengelilingi Kakbah,umumnya secara spiritual masih terus merasa berputar mengorbit pada Kakbah itu, bahkan sepulang dia ke Indonesia dengan jari-jari imajiner tawaf 10-an ribu kilometer.
Tapi dalam sistem matahari sebagai pusat, kita sebagai satelit seumpama rembulan masih perlu juga mengitari ”planet”kita masing-masing,kampung halaman.Kita masih memerlukan asal-usul sebagai poros putaran kepulangan jati diri.
Dua mingguan lalu di Arab Saudi, tempat Kakbah berada, tempat banyak orang Indonesia ingin mati dan dimakamkan di sana,saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang bekerja di Jeddah, Madinah, dan Mekkah.Mereka,kalau mau,bisa saban hari tawaf, mengelilingi Kakbah sebagai simbol kepulangan.
Tapi, di Jeddah,Pak Abdulrahman masih selalu pengin pulang ke Madura.Di Madinah, Pak Mahfud masih selalu penginmudik ke Bima.Bahkan di Mekkah,Pak Adam yang dekat banget lokasi kerjanya dengan Kakbah di Masjidil Haram masih juga selalu penginpulang ke kampung halamannya, Lombok.
*** Seperti dalam drama-drama Yunani, hanya petualang yang menganggap mudik itu tidak konstitusional. Di panggung teater Yunani sering kita mendengar ungkapan tokoh petualang, ”Aku tidak tahu mau ke mana, tapi aku akan tetap melangkah asalkan tidak kembali pulang.
”Tapi adakah petualang abadi? Lagu paling top dalam irama country, irama jiwa petualang, bukanlah petualangan, tapi malah Country Road. Itu lho yang syairnya kira-kira country road, take me home, to the place, I belong… Lirik tentang kerinduan seseorang akan kampung halamannya di Virginia Barat.
Penyair Rendra setelah menulis sajaksajak petualangan, termasuk soal New York,akhirnya juga menulis soal kepulangan dalam kumpulan puisi Sajak-Sajak Sepatu Tua. Cak Nun, Emha Ainun Nadjib, saat masih remaja bahkan sudah menulis kumpulan esai tentang pentingnya kampung halaman berjudul Indonesia Bagian Paling Penting Dari Desa Saya.
Mungkin benar seperti yang banyak diajarkan dalam wayang purwa,bahwa kita tak akan mampu menjawab dengan baik pertanyaan ”ke mana”(paran) sebelum kita mampu menjawab dengan baik pertanyaan ”dari mana” (sangkan).Tujuan tak bakal pernah mampu kita rumuskan dengan baik sebelum kita betul-betul mampu dengan baik mengenali asal-usul kita.
Dan mudik adalah usaha pengenalan kembali kita yang berulang-ulang kepada muasal. Beberapa waktu lagi kita akan saksikan duyunan manusia menuju Kakbah, berhaji. Ibarat sistem tata surya, itulah putaran atau poros kepulangan universal pada matahari.
Tapi yang kita saksikan pada mudik kali ini adalah perputaran satelit pada planet masing-masing, kepulangan lokal, orientasi manusia pada kampung halaman masing-masing.Saya kira ini cara lain untuk mengatakan betapa pentingnya ”berpikir global bertindak lokal”atau dalam wacana yang kini mulai trendi: ”glokalisasi”.
Saya merasa bahwa pikiran-pikiran kelokalan kita itu tetap bermunculan meski secara universal kita tawaf, mengelilingi Kakbah.Semakin berdesakan kita dengan orang-orang kulit putih, kulit hitam, India, Turki, China, Jepang, dan lain-lain, yakni semakin kita lebur dalam universalisme, semakin kuat pula muncul pertanyaan ”di manakah sebenarnya kampung halaman saya”? Saya kira begitu juga dengan saudara-saudara kita yang melakukan ritus universal di Yerusalem,Vatikan,Tibet, India,dan lain-lain.
*** Kembali ke pengibaratan sosial dengan sistem tata surya, satelit mengitari matahari sebagai poros utama universalitas itu penting.Tapi tanpa mengorbit pada planet masing-masing, pada dusunnya masingmasing, maka satelit itu akan kehilangan jati diri.
Di dusun, sawah-sawah bisa digusur, pohon-pohon bisa digusur pula sampai sekadal dan setokek-tokeknya. Tapi kenangan hidup yang pernah ada di dusun itu sukar digusur dari benak yang pernah mengalaminya. Dalam konteks itu saya bisa memahami mengapa senior saya Dr Imam B Prasojo, ilmuwan sosial yang sudah malang-melintang ke dunia pemikiran universal,merasa kangen pada pola-pola pengajian dengan nada-nada sederhana di kampung halamannya.
Ada juga teman yang sudah tahu pohonpohon di kampung halamannya rusak.Tapi dia mudik juga hanya ingin dengar suara azan yang nada-nadanya pentatonis seperti pola nada slendro gamelan Jawa. Ini di Jakarta. Di Arab Saudi nada-nada azannya malah lurus-lurus ajanyaris tanpa cengkok.
Seandainya mudik adalah pemilu, maka mudik adalah pemilu yang tanpa kehadiran golput.Semua setuju mudik.Jikapun tak mudik,pas terdengar takbir,hati seperti tersayat-sayat, nelangsa dan pilu. Rindu kerabat dan kenangan di kampung halaman. Dan mudik adalah murni inisiatif masyarakat sendiri.
Biarkan Daendles bikin jalan raya Anyer-Panarukan buat kepentingan ekonominya sendiri.Yang pasti bukan buat mudik masyarakat. Tapi mari kita tunggangi itu dengan kepentingan kita untuk mudik. Biarkan rencana jalan tol Jakarta– Surabaya dicanangkan entah untuk kepentingan apa.
Tapi kelak,kalau terwujud, mari kita tunggangi itu dengan kepentingan kita untuk mudik. Tanpa mudik, baik secara fisik maupun secara spiritual, hidup rasanya ndak jelas. Ibarat nasi ransum kotakan. Pedas ndak, asin ndak.Bahkan hambar juga ndak.(*)
Sujiwo Tejo,
Dalang Edan
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/satelit-satelit-galaksi-mudik-2.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment