Selasa, 23 September 2008

Keroposnya Ekonomi Paman Sam

Sunday, 21 September 2008
DALAM sepekan terakhir, krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) menjadi berita utama di berbagai media dunia. Bangkrutnya Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di dunia,sontak mengejutkan banyak kalangan.

Bahkan, ada juga yang mencuatkan asumsi bahwa mitos superioritas Negeri Paman Sam telah runtuh dan AS tengah menghadapi kebangkrutan. Boleh jadi asumsi itu ada benarnya.

Di tengah imbas krisis akibat macetnya kredit perumahan (subprime mortgage) yang terjadi pertengahan tahun lalu,ekonomi negeri adidaya itu terus dihantam serangan,mulai dari perlambatan ekonomi hingga bencana alam badai tropis.

Badai belum lagi reda, peristiwa yang lebih dahsyat justru terjadi. Ya, bangkrutnya Lehman Brothers yang dampaknya bersifat global.Peristiwa ini serasa menegaskan bahwa AS tengah terancam kebangkrutan.

Bahkan Lehman Brothers tercatat sebagai perusahaan bangkrut nomor satu di dunia versi Banruptcydata. Sebagaimana dilansir majalah Times, total nilai aset Lehman Brothers mencapai USD639 miliar dan dianggap sebagai kebangkrutan terbesar antara enam hingga tujuh kali lipat aset perusahaan yang paling bangkrut sejak 1980.

Kebangkrutan bank raksasa ini ternyata menghantam bursa saham Wall Street dan langsung diikuti pasar saham di sejumlah negara di dunia.Sebab pemodal hot money berbondong-bondong menarik modalnya untuk kembali dibawa dan menyelamatkan keuangan Negeri Paman Sam itu. Para investor di pasar modal makin panik dan resesi global pun mengancam.

Hal itu pun dikuatkan dengan gejolak yang terjadi pada perusa-haan jasa keuangan Merrill Lynch. Sementara Bank Sentral AS (Federal Reserve/ The Fed) terpaksa “mengamankan” perusahaan asuransi terbesar di dunia Amerika International Group (AIG) dengan menyuntikkan dana USD87 miliar agar perusahaan jasa asuransi tersebut tidak ikut bangkrut.

Sejatinya, krisis ekonomi yang dialami AS sejak tahun lalu itu ibarat bola salju yang terus menggelinding dan semakin besar. Krisis kredit perumahan yang mengakibatkan melemahnya nilai tukar dolar juga berimbas pada tingkat pengangguran yang terus bertambah.

Tercatat 63.000 orang kehilangan pekerjaannya selama lima tahun terakhir. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengungkapkan, krisis ekonomi yang tengah terjadi di AS saat ini adalah akibat tingginya defisit yang harus ditanggung negara adidaya tersebut. Setelah ditimpa krisis subprime mortgage, kini AS harus menghadapi defisit tinggi akibat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk perang Irak dan Afghanistan.

“Krisis perumahan terjadi karena dulu kreditnya dihamburkan ketika zamannya Alan Greenspan (mantan Gubernur The Fed).Kenapa tibatiba daya beli AS menurun? Karena ekonomi AS tidak kuat menghadapi defisit yang besar.Kenapa defisit besar? Karena terlalu besar biaya perang Irak, Afghanistan yang sudah mencapai hampir USD500 miliar,” papar Kalla (SINDO/19/9).

Bahkan Kalla juga menyindir AS yang mengatasnamakan kebebasan untuk terjun dalam Perang Irak dan Afghanistan, tapi di sisi lain menghancurkan rumah-rumah milik masyarakat di kedua negara tersebut. Belakangan, AS harus menuai akibatnya,yakni krisis ekonomi yang sebenarnya sudah diperkirakan oleh banyak kalangan.

Memang sejak awal 2008, banyak pengamat memprediksi bahwa resesi AS sudah dimulai. Global Insight, sebuah organisasi ekonomi terbesar di AS, misalnya, memperkirakan kemungkinan peningkatan angka resesi akan semakin memburuk menuju angka 40% atau kolaps (dari angka 25% sebelum kolaps).

Selain itu turbulensi pasar keuangan semakin menunjukkan bahwa krisis mungkin belum akan pulih benar dan selesai dalam waktu cepat. Gubernur Bank Sentral Thailand Tarisa Watanagase menilai bahwa AS sedang mengalami krisis serupa dengan yang pernah terjadi di Asia 11 tahun silam.Namun, kondisi krisis di AS lebih buruk, kompleks, dan dampaknya lebih luas.

“Tampaknya akar yang mengakibatkan kedua masalah ini benar-benar mirip,” ujar Tarisa sebagaimana dikutip Reuters (20/9). Menteri Koordinator Perekonomian yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, ketatnya likuiditas menjadi masalah utama yang saat ini merebak di beberapa negara. Ini semua akibat kekhawatiran nasib lembaga keuangan pascapengumuman bangkrutnya Lehman Brother awal pekan lalu.

Krisis keuangan di AS tersebut mengancam krisis keuangan global. Bahkan, mantan Kepala Federal Reserve Alan Greenspan menyatakan bahwa krisis keuangan 2008 di AS bisa dikatakan yang terburuk sejak berakhirnya perang dunia II. Seorang ekonom pada Standard & Poors menyebutkan bahwa pada Maret 2008, pihaknya sudah memprediksi skenario buruk di mana AS akan mengalami resesi ganda dan diperkirakan akan mulai pulih pada musim panas 2008 ini.

Sebagai ukuran, catatan GDP AS menurun 2,2 poin yang merupakan catatan terburuk ketiga setelah periode Perang Dunia II. Pada 5 September 2008, Departemen Ketenagakerjaan (Depnaker) AS mengumumkan sebuah laporan yang menyebutkan angka pengangguran naik menjadi 6,1% yang merupakan level tertinggi selama lima tahun.

Depnaker AS melaporkan pekerjaan yang hilang pada Juni dan Juli 2008 ini lebih banyak dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Berdasarkancatatan, sebanyak605.000 pekerjaan hilang sejak Januari hingga Juli. Pada saat itu angka pengangguran mencapai 5,7% per Juli yang tertinggi sejak 2003.Kenyataannya setelah laporan ini dirilis, pasar saham di AS mulai goyah.

Indeks Dow Jones saat itu langsung terkoreksi turun 100 poin hanya dalam waktu 40 menit perdagangan. Namun kini krisis keuangan mulai reda meskipun belum usai.Beberapa kebijakan pemerintah,termasuk rencana penyediaan anggaran jaminan senilai USD700 miliar, dirancang.

Rencananya anggaran ini akan digunakan membantu memberikan pinjaman darurat kepada lembaga keuangan AS yang sedang mengalami kesulitan untuk jangka dua tahun ke depan.Berbagai langkah dan manuver Departemen Keuangan AS cukup mampu meredakan gejolak turbulensi pasar uang.

Namun apakah krisis keuangan ini tidak akan seperti krisis ekonomi di Asia pada 1997? Tentu hal itu akan tergantung pada upaya yang dilakukan negeri adidaya tersebut. (abdul malik/ islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/periskop/keroposnya-ekonomi-paman-sam-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment