Saturday, 30 August 2008
Berdakwah adalah sebuah proses menyampaikan ajaran sang Khalik.Lebih tepatnya proses meyakinkan orang tentang kebenaran ajaran Tuhan.Artinya, setara dengan langkah memasarkan sebuah produk.
Karenanya dakwah bisa saja dianggap sebuah produk sehingga prinsip-prinsip pemasaran (marketing) bisa diterapkan. Ketika materi dakwah merupakan sebuah produk yang bagus, hal itu harus dibungkus dengan kemasan yang bagus pula agar bisa diterima publik. James B Hoesterey, ilmuan Department of Anthropology Universitas Wisconsin-Madison dalam tulisannya, Aa Gym,The Rise,Fall,and Re-branding of a Celebrity Preacher (2006), mencontohkan bahwa sosok Abdullah Gymnastiar atau yang kerap disapa dengan Aa Gym merupakan pemasar yang cerdas.
Hoesterey menilai ceramah yang disampaikan Aa Gym menggunakan pesan sederhana,menyajikan anekdot sehari-hari tentang interpretasi teologis yang lebih mendalam, dan bisa memindahkan hadirin dari gelak tawa menjadi air mata. Aa Gym dianggap mengetahui pasar agama, mengerti selukbeluknya, dan memasarkan sendiri.
Sintesis pemasaran inilah yang mengubah manajemen qolbu (MQ)–muatan dakwah Aa Gym–ke dalam merek tertentu.“Aa Gym pemasar sekaligus selebriti religi, ikon Indonesia, dan nama Islaminya,” tulis Hoesterey. Meski begitu, istilah marketing dakwah bagi sebagian kalangan dianggap berkonotasi negatif.Sebab kata marketing layaknya sebuah aktivitas jualan.
Sejatinya, kata berjualan ide agama tidak sertamerta berkonotasi komersial karena hal itu juga merujuk pada strategi atau cara berdakwah layaknya orang sedang melakukan kegiatan marketing. Ketika sedang melakukan kegiatan marketing, seseorang pasti akan melakukan berbagai strategi untuk menarik minat calon konsumennya. Mulai pengemasan produk secara menarik hingga promosipromosi yang sifatnya menggerakkan hati orang untuk membeli.
Langkah-langkah marketingbiasanya sangat menyelami dan mengikuti kebutuhan pasar akan suatu produk. Sebab jika produk jualannya tidak dibutuhkan masyarakat, jangan berharap akan laku. Demikian halnya dakwah.Bedanya, materi atau pesan dakwah sudahlah pakem. Modifikasi yang ada bukan pada produk dakwah, melainkan hanya pada pengemasannya untuk meyakinkan orang tentang kebenaran ajaran Tuhan sehingga bisa menjalaninya.
Sejatinya, dakwah bertujuan untuk mengajak umat kepada kebaikan. Ibarat kegiatan pemasaran,strategi dakwah juga memerlukan triktrik yang menarik minat masyarakat. Sederet dai kondang negeri ini benar-benar piawai dalam menggunakan strategi marketingdalam kegiatan dakwahnya. Melalui pencitraan diri serta berbagai macam langkah yang semakin membuat jamaah membludak dari segenap penjuru negeri.
Lihatlah Aa Gym dengan citra MQ-nya,Muhammad Arifin Ilham dengan Majelis Zikir, Ary Ginanjar dengan emotional spiritual quetient (ESQ),Yusuf Mansur dengan citra sedekah (the power of giving), Jefri al-Bukhori dengan julukan dai gaul,serta KH Zaenuddin MZ yang memiliki predikat sebagai dai sejuta umat.
Meskipun bukan mereka sendiri yang menyematkan predikat itu, citra tersebut demikian lekat kepada para dai.Citra itu menjadi salah satu nilai tambah dalam marketing dakwah para dai ini.“Para dai kita sedang melakukan seni marketing agama. Saya kira itu merupakan perkembangan yang positif,” kata pakar marketingTung Desem Waringin kepada SINDO.
Menurut Tung, berjualan tidak mesti berkonotasi industri dan komersial atau bahkan demi mendapatkan keuntungan semata. Namun Tung lebih melihat langkah dan strategi para dai dalam melakukan dakwahnya dari sisi manfaat yang didapatkan masyarakat. Buktinya memang tidak sedikit masyarakat yang akhirnya terinspirasi atau bahkan mengungkapkan perubahan-perubahan menuju kebaikan setelah mengikuti program dakwah para dai populer itu.
Lihatlah program MQ Aa Gym dan ESQ Ary Ginanjar yang bahkan menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Harus diakui, MQ maupun ESQ mampu mengobati kerinduan masyarakat akan pencerahan spiritual. Itulah mengapa jamaahnya datang dari berbagai kalangan. Mulai masyarakat kelas bawah hingga kalangan eksekutif dan akademisi. Bahkan program ESQ dan MQ menjadi tren pengasahan spiritual di kalangan profesional dan eksekutif.
Beramai ramai perusahaan-perusahaan menggunakan jasa MQ dan ESQ bagi karyawannya. Jefri al-Bukhori (Uje) sepakat bahwa strategi dakwah bisa dilakukan dengan cara marketing. Sebab kegiatan dakwah yang mengajak orang kepada kebaikan tidak berbeda dengan kegiatan para sales dalam memengaruhi orang untuk membeli sebuah produk. Dia juga sepakat, para nabi pendahulu merupakan praktisi-praktisi marketing yang andal.
Tidak mengherankan jika para rasul berhasil menyebarkan ajaran agama.Namun bedanya sales melakukan kegiatannya dengan dasar untuk berjualan agar produknya laku, sementara seorang dai harus melakukan kegiatannya atas dasar keikhlasan.“ Saya berprinsip ketika kita menanam padi harus siap tumbuhnya rumput,” kata Jefry yang dijuluki ustaz gaul ini.
Selain itu, dakwah pun perlu dikemas sedemikian rupa agar tidak hanya menarik, tetapi juga sesuai kebutuhan masyarakat. Promosi melalui berbagai media menjadi keniscayaan.Jika zaman dulu strategi promosi tablig akbar hanya diumumkan melalui masjidmasjid pada salat Jumat,kini melalui televisi, iklan media cetak,ponsel atau bahkan internet.Caranya bukan hanya ceramah atau tablig akbar, melainkan melalui seminar atau training.
Ary Ginanjar melalui ESQnya merupakan salah satu dai yang gemar melakukan dakwahnya melalui seminar dan training. Artinya, paradigma lama yang menyebutkan bahwa dai itu identik dengan sorban dan kopiah sudah harus ditinggalkan. Mengenakan jas, perangkat komputer atau laptop serta LCD proyektor layaknya melakukan presentasi marketingsudah selayaknya dilakukan para dai dalam berdakwah.
Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Murodi justru menyarankan agar dakwah pun bisa dikemas layaknya seminar sehingga para dai juga dituntut untuk memiliki persiapan dan kerangka pemikiran sebelum melakukan dakwahnya. Kerangka pemikiran inilah yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan atau makalah yang dibagikan secara gratis kepada seluruh jamaah.
Dengan demikian, para jamaah ketika selesai mengikuti tablig tersebut tidak akan lupa dengan semua pesan atau materi dakwah yang disampaikan. “Sebab sebenarnya para dai itu kan hanya memberikan materi ceramah yang mengulang-ngulang.
Di satu sisi ini membuat dai semakin cerdas karena memperoleh kesempatan mempelajari karakter audiens.Di sisi lain,audiens diberi kesempatan untuk belajar sehingga tidak cepat lupa dengan materi dakwah yang telah disampaikan melalui makalah atau materi yang tertulis tersebut,”paparnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment