Dulu Wayang,Kini SMS
Saturday, 30 August 2008
Kecanggihan teknologi menjadi sarana ampuh bagi para dai untuk menyiarkan dakwah.Masyarakat bisa menerima siraman rohani secara mudah dan murah.
Ceramah di atas podium untuk menyampaikan dakwah sudah menjadi metode usang. Di era modern sekarang ini, kecanggihan teknologi menjadi media jitu untuk menyampaikan ajaran ilahi.Televisi, radio, media cetak hingga media dunia maya (internet) telah menjadi perangkat efektif untuk menyampaikan pesan dakwah. Begitu juga dengan menjamurnya penggunaan telepon seluler (ponsel).
Kini, ponsel menjadi sarana ampuh bagi para dai untuk menyiarkan dakwahnya lewat pesan pendek (short message service/SMS). Untaian kata siraman rohani bisa disampaikan dalam sekejap hanya dengan menekan tombol kunci (keypad).Untuk mendapatkan siraman rohani itu, masyarakat hanya mengeluarkan uang Rp1.000 per SMS.
Dulu,untuk mendengarkan siraman rohani dari seorang dai,masyarakat harus rela berdesak-desakan di lapangan atau masjid.Kini,cukup di rumah sembari melakukan aktivitas seharihari atau sembari bekerja, setiap saat masyarakat bisa mendapatkan pesan melalui ponsel pribadinya,selain melaluitelevisi, radio,atauinternet.Artinya, dakwah sudah bisa masuk ke ruang keluarga secara cepat tanpa sekat.
Kecanggihan teknologi semacam inipatutdibanggakan.Sebab,baikbagi dai maupun umatnya,keduanya samasama diuntungkan.Dakwah dari pintu ke pintu secara tradisional bukan hanyakurangefektif, tetapijugasemakin tidak mungkin dilakukan untuk kondisi saat ini. Sebab jumlah umat sudah bukan lagi ratusan atau ribuan, tetapi sudah mencapai ratusan juta orang. Artinya, teknologi memudahkan dai untuk mengunjungi umatnya.
”Bisa Anda bayangkan betapa sulitnya kalau saya dan para dai harus mengunjungi setiap rumah umat untuk mengajak mereka salat,misalnya. Namun, dengan media televisi cukup saya melakukan rekaman di studio atau suatu tempat,maka dakwah saya terjangkau hingga pelosok,” ungkap Yusuf Mansur kepada SINDO.
Selain itu,inovasi dakwah yang ada bukan hanya pada alat atau medianya, tetapi juga metodenya.Tersiar secara langsung melalui televisi atau radio, masyarakat bisa berdialog dan berkonsultasi dengan sang dai tentang masalah keagamaan ataupun masalah kehidupan sehari-hari.Tentu, kemudahan- kemudahan inilah yang semakin membuka lebar pintu dakwah.
Apalagi di saat Ramadan, hampir semua stasiun televisi berlomba-lomba menyiarkan program religius dakwah. Mulai sekadar kuliah tujuh menit jelang berbuka puasa,program dialog pada malam harinya hingga menjelang makan sahur dan setelah subuh. Untuk itulah kalangan praktisi dakwah boleh berbangga melihat perkembangan ini. ”Sebagai satu di antara para penyeru (dai) saya merasa bangga dengan perkembangan dakwah belakangan ini, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.
Banyak terobosan dilakukan, ada banyak ide segar dikembangkan. Pengajian-pengajiandikotabesar, di perkantoran,di hotel-hotel semakin berkembang bak jamur di mu-sim hujan,” tambah ustaz yang mengusung ajaran the power of giving(sedekah) ini. Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta,Murodi menyatakan inovasi metode dan pemanfaatan teknologi untuk dakwah merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat.Selain tablig melalui podium atau mimbar, dakwah secara online melalui TV, radio, internet,dan SMS adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan.
Risikonya, muncul anggapan bahwa dakwah terkesan masuk ke ranah komersial, bahkan dianggap telah menjadi komoditas industri.Tidak jarang,hal ini berdampak pada figur dai yang berubah layaknya seorang selebriti yang memiliki banyak penggemar. Sebutlah sederet nama dai kondang di negeri ini.Ada KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dengan manajemen qolbunya.
Kemudian ada Ustaz Arifin Ilham, Jefri al-Bukhori, Ary Ginanjar,Yusuf Mansur yang demikian menyedot perhatian masyarakat. Para dai kondang ini tidak hanya mencoba memasuki celah-celah baru dalam menyampaikan pesan dakwahnya, tetapi pesan yang disampaikan juga sangat mengena. Nilai agama yang disampaikan tidak dengan menggurui atau menghakimi itu justru meraih simpati masyarakat. Bukan hanya dari kalangan muslim,tetapi juga nonmuslim.
Bagaimanapun harus diakui, ini merupakan bentuk inovasi para dai yang layak mendapatkan apresiasi. ”Ini sah-sah saja,sebab seorang dai dikatakan berhasil apabila dia menyampaikan pesan dakwahnya dengan memahami betul kebutuhan umatnya,”ujar Murodi. Memang, kegiatan dakwah tidak ubahnya kegiatan komunikasi sehingga seiring dengan perkembangan teknologi informasi, media dakwah pun berkembang mengikutinya.
Karena itu, maraknya penggunaan teknologi untuk menyampaikan pesan dakwah bukanlah sesuatu yang haram, tetapi justru untuk menjawab tantangan zaman. Kesan negatif munculnya ”industri” dakwah adalah risiko. Sebab era modern saat ini juga menuntut dakwah untuk menggunakan manajemen modern pula. Jika dulu biasanya dai atau kiai didampingi seorang santri sebelum melakukan ceramahnya, kini para dai modern memiliki manajemen sendiri yang melibatkan puluhan personel.
”Jadi yang mereka lakukan itu bukan komersialisasi dakwah, melainkan mencoba mengelola dakwah secara profesional. Sebab komersialisasi no,profesionalisme yes,” tambah Murodi. Inovasi dan kreativitas para dai dalam menggaet hati para jamaah sebenarnya bukan hal baru. Jika merunut sejarahnya, dakwah yang dilakukan para walisongo di negeri ini juga sudah menggunakan pola kreasi yang sama. Tengoklah catatan sejarah dakwah Sunan Kalijaga misalnya.
Dengan menggunakan media wayang kulit, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah kepada masyarakat Jawa yang notabene saat itu masih memeluk agama Hindu.Wayang kulit merupakan seni tradisional yang sangat digemari masyarakat Jawa. Itulah alasan kuat mengapa Sunan Kalijaga menggunakan media ini untuk menyampaikan pesan dakwahnya.
Jika sekarang bentuknya berubah melalui televisi,itu karena media elektronik satu ini sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.Untuk itulah tidak ada kata lain kecuali cara berdakwah harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Jefri al-Bukhori atau yang akrab disapa Uje menilai perkembangan dakwah saat ini murni karena kreativitas dan inovasi para dai.
Meski begitu, materi dakwah yang disampaikan para dai sifatnya masih mengulang dan tidak ada yang baru.”Ini semua karena izin Allah sehingga fenomena ini bisa terjadi.Sebab semua yang kami sampaikan sifatnya hanya mengulang apaapa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu,”paparnya. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
open for discuss, please feel free to comment