Selasa, 02 September 2008

Dakwah pun Perlu Marketing

Dakwah pun Perlu Marketing
Saturday, 30 August 2008
Dalam hukum marketing,ketika menawarkan sebuah produk harus memiliki segmen tertentu.Apalagi dalam hal dakwah.Sebagai aktivitas ajakan menuju kebaikan,dakwah memiliki segmen spesifik.


Objek dakwah dalam satu agama memiliki kelebihan, yaitu loyalitasnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan objek dari agama lain. Akan ada risiko sebagian orang berpikir, masa dakwah di-market( ing)-kan? Ini akan sama halnya dengan bidang pendidikan. Akan ada sebagian orang yang berpikir, masa pendidikan perlu di-market(ing)-kan? Jangan salah, nabi-nabi pendahulu mereka adalah very good marketer karena mereka demikian lihainya dalam menyebarkan agama.

Sementara agama adalah suatu ajakan menuju kebaikan, sedangkan tindakan ajakan tersebut sama halnya dengan kegiatan marketing. Bukan hanya Nabi Muhammad SAW,Nabi Isa (Yesus) pun juga seorang praktisi marketing yang andal.Maka tidak mengherankan apabila mereka demikian berhasil dalam menyebarkan agamanya. Itulah mengapa misalnya Yesus (Nabi Isa) berhasil mengajak Petrus, seorang nelayan penjala ikan,untuk mengikuti agamanya.

Demikian juga dengan Ary Ginanjar Agustian.Sebagai seorang dai,Ary memiliki terobosan-terobosan dalam melakukan dakwahnya. Selain mampu memberi nilai lebih,Ary juga memperluas segmen kegiatan dakwahnya. Melalui program emotional spiritual quotient,dia mulai merambah segmen kalangan eksekutif dan bahkan kalangan masyarakat umum, yang tidak hanya terbatas pada kalangan muslim. Kegiatan marketing dalam bidang dakwah adalah wajar adanya.

Bahkan semua hal di dunia ini memang harus di-market(ing)- kan sehingga seorang dai memang harus pandai marketing jika ingin kegiatan dakwahnya berhasil. Namun apabila dia tidak pandai me-market(ing)-kan dakwahnya, kegiatannya hanya akan menjadi biasa-biasa saja. Abdullah Gymnastiar,Ary Ginandjar Agustian,Zaenuddin MZ, Jefri al-Bukhori (Uje),Yusuf Mansur, serta sederet dai lain adalah contoh orang-orang yang berhasil me-market(ing)-kan dakwah.

Apabila akan ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa tabu untuk membicarakan dakwah dengan marketing,itu salah.Sebab marketing dalam arti luas sebenarnya sudah dilakukan semua manusia sejak lahir. Selain seorang dai, seorang guru pun ketika mengajar dia tengah melakukan kegiatan marketingmeskipun itu tidak secara langsung.Sebab ilmu marketing dalam kegiatan dakwah adalah ilmu untuk menawarkan kebaikan dan perilaku positif.

Contoh paling sederhana kegiatan marketing dalam arti luas adalah ketika seorang ibu sedang meminta anaknya untuk mandi. Sulitnya meminta anak-anak untuk mandi menuntut seorang ibu untuk melakukan trik marketing. Demikian juga ketika seorang istri meminta tambahan uang belanja kepada suaminya.

Agar suaminya mengabulkan keinginannya, sang istri akan melakukan trik marketing dengan menjabarkan alasan mengapa dia sangat membutuhkan tambahan uang belanja. Jika melihat marketingdengan perspektif lebih luas, sebenarnya setiap manusia melakukan kegiatan marketing setiap saat. Ini memang mutlak diperlukan karena seorang manusia memang memiliki sifat tergantung kepada manusia atau makhluk lain.

Ini tidak bisa dimungkiri. Sebab sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari ketergantungannya terhadap manusia lain. Itulah mengapa dalam berhubungan dengan manusia atau makhluk lain tersebut, seorang manusia secara langsung atau tidak langsung pasti akan memarket( ing)-kan dirinya. Ada penjelasan paling sederhana mengapa manusia tergantung dengan orang lain.

Coba bandingkan ketergantungan manusia dengan ibunya dan ketergantungan binatang dengan induknya.Seekor buaya ketika baru lahir, dia akan langsung berpisah dari induknya karena jika tidak dia akan dimakan oleh induknya sendiri. Sementara seekor burung sejak menetas hanya akan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu sampai bisa terbang dan langsung berpisah dari induknya. Sebaliknya,manusiabutuhwaktu bertahun-tahun untuk berpisah dengan orangtuanya.

Kebanyakan lima tahun bagi seorang manusia untuk disapih dari ibunya, tetapi faktanya dia masih memiliki ketergantungan dengan orangtuanya, bahkan dalam usia yang sudah tidak muda lagi. Akibat ketergantungan manusia satu dengan yang lain,manusia membutuhkan perhatian dari manusia lain. Itulah mengapa kreasi-kreasi yang dilakukan para dai bukanlah sesuatu yang aneh. Sebab mereka menyadari, kebaikan juga harus di-market(ing)-kan.

Ary Ginanjar misalnya berdakwah dengan cara positif dan mampu memberi nilai tambah dari agama. Mekanisme marketingbisa bermacam-macam. Baik melalui pencitraan diri atau metode lain seperti iklan. Dai-dai ini adalah orang-orang yang dahsyat karena telah berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

Ketika menjadi pusat perhatian, akhirnya dengan mudah dia menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat. Bisa jadi akan ada pihak-pihak yang kurang menyukai kesuksesan orang-orang ini sehingga memberikan tanggapan negatif.Misalnya, ada yang marah saat melihat kesuksesan mereka ini, yaitu pihak yang secara frontal kontra dengan para dai ini.Tidak sedikit pula pihak yang mengkritik mereka.

Namun,catatlah,orang yang mengkritik seperti layaknya pengkritik film-film karya Stephen Spielberg yang demikian fasih membeberkan kekurangan film tersebut, kenyataannya dia tidak pernah bisa membuat karya yang lebih baik dari karya Stephen Spielberg karena mereka hanya pintarmengkritik,tetapitidaklihai dalammembuatkarya yangsekelas dengan karya Stephen Spielberg.

Terpenting adalah melihat sisi positifnya. Apakah para dai ini memberi nilai positif kepada masyarakat? Kenyataannya mereka berhasil memberi nilai positif. Pesan-pesan moral dan keagamaan yang mereka sampaikan tidak hanya diterima oleh masyarakat, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Untuk itulah sudah seharusnya kita mendukung orang-orang yang sukses dan dahsyat seperti mereka. Lihatlah orang-orang yang mengikuti ESQ ataupun MQ, mereka menjadi lebih baik.Sebab apa yang dilakukan oleh para dai ini membawa manfaat bagi kehidupan mereka. Ke depannya kreasi-kreasi baru semacam ini akan tetap menjalar. Sebab inovasi-inovasi akan tetap timbul dan memang tidak ada yang abadi di dunia.Menurut saya, yang abadi itu hanyalah Tuhan.

Perubahan serta hukum alam diciptakan Tuhan untuk menjadi abadi. Kreasi-kreasi itu nantinya bisa semakin merambah penggunaan teknologi informasi sebagai media dakwah.Sebagaimana yang ada di Amerika Serikat,ada televisi khusus yang menyiarkan kerohanian. Demikian juga para dai di Indonesia. Dulu Aa Gym sudah berniat membuatnya melalui MQ TV.

Selain itu, untuk dicatat, metode dakwah para dai ini ternyata tidak hanya membawa manfaat bagi kaum muslim saja,melainkan juga kaum minoritas atau bahkan kalangan nonmuslim. Sebab ajaran mereka demikian universal yang mendorong orang berlaku kebaikan tidak hanya kepada kaum muslim sehingga para dai ini justru mendorong persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.Perbedaan yang ada justru haruslah dijadikan untuk saling memperkuat dan menjadi harmonis.

Jadi kunci dari semuanya adalahbahwakreasi-kreasi dari para dai itu ukurannya apakah membawa manfaat bagi umatnya dan orang pada umumnya. Jika ternyata para dai itu dianggap sebagai orang-orang yang kemudian menjadi kaya, tentu itu tidak ada salahnya.Sebab para nabi pendahulu juga kebanyakan orang kaya.Nabi Ibrahim adalah orang yang kaya pada zamannya.

Nabi Sulaiman juga demikian begitu juga Nabi Muhammad.Saya justru ingin bertanya, apa masalahnya jika seorang dai itu kaya? Apakah orang kaya tidak boleh mengajarkan agama? Seharusnya tidak seperti itu. Sebabbaikorangkaya maupunmiskin semuanya sama-sama punya hak dan kewajiban untuk berdakwah dan mengajarkan kebaikan. Anggap saja figur Bunda Theresa sebagai orang miskin yang mengajarkan agama.

Namun bagaimana dia bisa membangun yayasan sosialnya tanpa bantuan orangorang kaya? Jika orang kaya seperti Nabi Sulaiman juga berdakwah, seorang dai juga tidak melulu harus identik dengan kemiskinan karena dai pun boleh kaya.(*)
Disarikan dari wawancara SINDO dengan Tung Desem Waringin

Tung Desem Waringin,
Pakar Revolusi Marketing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

open for discuss, please feel free to comment